Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Krusial, Sosialisasi KHGT untuk Penyatuan Penanggalan Islam

17 Juli 2025, 13:43 WIB • 3 menit baca
Krusial, Sosialisasi KHGT untuk Penyatuan Penanggalan Islam

GUNUNG PATI, muhammadiyahsemarangkota.org- Perdebatan seputar Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) terus menjadi topik hangat, menarik perhatian umat Islam di berbagai penjuru dunia. Kerinduan akan satu penanggalan seragam seringkali dibayangi oleh berbagai pertanyaan dan polemik yang memicu diskusi sengit.

Pengajian Ahad pagi PCM Gunung Pati 2 di Masjid At-Taqwa Patemon pada Ahad (13/07/25) membedah tuntas isu ini. Ustadz Drs. Kasmui, M.Si., Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang dan tim pengembang piranti lunak KHGT PP Muhammadiyah, menegaskan bahwa KHGT adalah tuntutan peradaban yang tak bisa dielakkan, hadir untuk menertibkan penjadwalan waktu umat Islam, dan bertujuan merajut harmoni, bukan memecah belah. Acara ini juga dimeriahkan dengan Pasar Rakyat Attaqwa.

Perdebatan mengenai KHGT selalu berhasil menyita perhatian, seolah drama yang tak kunjung usai. Banyak pihak mempertanyakan apakah KHGT akan menjadi jembatan emas menuju persatuan penentuan awal bulan atau justru menambah daftar persoalan baru. Namun, Ustadz Kasmui meyakini bahwa KHGT hadir sebagai solusi pragmatis dan realistis untuk menyatukan penanggalan umat Islam di seluruh dunia.

“Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai keharusan peradaban untuk menyatukan penjadwalan waktu umat Islam secara harmonis dan realistis, tanpa memecah belah.” Tegas ustadz Kasmui. Otoritas tunggal tidak mendesak karena semangat penyatuan dapat berkembang melalui kolaborasi, seperti inspirasi dari model kalender Khalifah Umar bin Khattab.

Salah satu permasalahan krusial adalah kebutuhan akan otoritas mutlak untuk kalender global. Menurut Ustadz Kasmui, “ pandangan mayoritas ulama (jumhur) tidak mengharuskan adanya otoritas tunggal. Ketiadaan otoritas yang mengikat justru dinilai tidak menghalangi upaya menuju kalender global.” Pertimbangan kualifikasi, legitimasi, dan kepatuhan negara-negara menjadi alasan mengapa otoritas mutlak tidak dianggap mendesak, menunjukkan semangat penyatuan bisa berkembang tanpa satu komando.

Mengapa KHGT jadi tuntutan peradaban?

Ustadz Kasmui menjelaskan bahwa model kalender Khalifah Umar bin Khattab relevan sebagai inspirasi kolaborasi di era modern, karena tidak ada lagi otoritas tunggal yang mengikat. Justru, dukungan lembaga dunia terhadap Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) lebih bersifat rekomendasi, mendorong kesepahaman daripada paksaan.

Ia membantah “kekhawatiran bahwa penyatuan global akan memecah persatuan lokal; sebaliknya, penyatuan global dianggap sebagai pilihan logis dan realistis karena hadis-hadis rukyat bersifat universal, dan secara otomatis akan menyatukan penanggalan lokal yang selama ini sering berbeda.”

Prinsip Hisab Imkan Rukyat (5-8) dalam KHGT adalah penentu definitif yang tidak memerlukan verifikasi rukyat di lapangan untuk kalender tercetak, memberikan kepastian jangka panjang bagi umat.

KHGT bukan lagi wacana, melainkan telah menjadi praktik nyata, dengan Turki mengimplementasikannya sejak 2016 Masehi, diikuti oleh Majelis Fatwa dan Riset Eropa (ECFR) serta Dewan Fikih Amerika Utara (FCNA). Fleksibilitas KHGT juga terlihat dari awal hari yang dimulai pukul 00:00 UTC (tengah malam), yang dianggap paling realistis untuk sistem global dan tidak memengaruhi waktu ibadah.

Meskipun penerapan KHGT memiliki konsekuensi, seperti hilal di beberapa wilayah berada di bawah ufuk, konsistensi sistem tetap terjaga karena ijtimak sudah terjadi sebelum fajar di belahan bumi timur. KHGT berbeda dari kriteria MABIMS 3-6.4 karena tidak memerlukan verifikasi rukyat atau sidang isbat, sehingga mengurangi potensi perdebatan.

Demikian, pemilihan benua Amerika dan garis 00:00 UTC sebagai implementasi teknis didasarkan pada strategi geografis dan kesepakatan ulama serta astronom melalui voting, demi mencapai kesepakatan global yang pragmatis dan realistis. KHGT adalah upaya besar menuju persatuan umat, mengatasi perbedaan yang selama ini memicu perdebatan.

Kontributor: MPI PCM Gunung Pati 2
Editor: Adib Abyan Akb
Bagikan: