Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mengenang Hermanto Ichwan: Pelita Dakwah di Tengah Keterbatasan

31 Juli 2025, 18:08 WIB • 2 menit baca
Mengenang Hermanto Ichwan: Pelita Dakwah di Tengah Keterbatasan

Semarang Selatan, muhammadiyahkotasemarang.org – Keluarga besar Muhammadiyah Semarang Selatan berduka atas wafatnya Hermanto Ichwan pada Rabu, (30/07/2025), pukul 17.15 WIB. Di usianya yang ke-73 tahun, beliau dikenang sebagai sosok pejuang dakwah yang gigih, terutama di Mugas, sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya bukan anggota Muhammadiyah. Kepergiannya meninggalkan jejak pengabdian yang tak terlupakan.

Perjalanan Seorang Pejuang Muhammadiyah Sejati

Menurut Dr. AM. Juma’i, salah satu kerabat dekat di lingkungan Muhammadiyah Semarang Selatan, Hermanto Ichwan adalah lambang dedikasi. Ia mengabdikan hidupnya untuk Muhammadiyah dengan sepenuh hati.

Berbagai posisi penting pernah diembannya, seperti Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mugas, Anggota Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Semarang Selatan, hingga pengurus Lazismu Kota Semarang dan takmir Masjid At-Taqwa Bani Muslim.

Di tengah lingkungan Mugas yang minoritas, kehadirannya sangat kuat. Bersama tokoh-tokoh lain seperti HM Handoyo, Wahid Suharto, dan H. Fauzi SH, Hermanto tak pernah lelah menyuarakan kebaikan dan menularkan nilai-nilai Islam Muhammadiyah.

AM Juma’i menyebutkan Salah satu bukti perjuangan nyata mereka adalah berdirinya Masjid At-Taqwa Bani Muslim.

“Masjid ini, yang dibangun dari wakaf bangunan keluarga Prof. Dr. H. Rifki Muslim dan wakaf tanah keluarga Bapak H. Fauzi SH, kini jadi pusat kegiatan ibadah dan dakwah Muhammadiyah di Mugas” ujarnya.

Masjid ini menjadi “oase spiritual dan sosial” di bawah kepemimpinan Dr. AM Jumai pada periode Muktamar ke-47, dan kini dilanjutkan oleh Drs. H. Slamet Widodo.

Warisan Semangat yang Abadi

Pengabdian Hermanto tak hanya pada jabatan. Ia senantiasa menghidupkan Muhammadiyah dalam setiap napasnya, lewat tindakan tulus, terutama dalam memakmurkan Masjid At-Taqwa.

“Sosok yang sangat aktif menggagas berbagai kegiatan keagamaan, bahkan sempat merancang pengajian bulanan. Sayangnya, rencana mulia itu belum terwujud karena beliau wafat” Ujar Juma’i, salah satu kerabat terdekatnya.

Kini, amanah untuk melanjutkan perjuangan ada di pundak. Untuk bisa menata ulang kepengurusan Masjid At-Taqwa Bani Muslim, mengaktifkan kembali pengajian rutin, dan menguatkan dakwah komunitas Muhammadiyah di Mugas. Ini adalah cara terbaik untuk menghormati perjuangannya.

Hermanto juga meninggalkan pesan berharga untuk generasi muda:

“Istiqomahlah dalam menjaga dakwah persyarikatan. Tak perlu sibuk mengurusi paido dan komentar orang.” Sebuah pesan sederhana namun kuat.

Ia juga pernah menegaskan, “Muhammadiyah bisa kecil secara jumlah, tapi tak boleh kecil secara perjuangan.” Kata-kata ini adalah semangat yang harus terus diwariskan.

Semoga Allah SWT merahmati Hermanto Ichwan, menerima seluruh amal baiknya, dan menjadikan perjuangannya sebagai pahala yang terus mengalir. Selamat jalan, Hermanto Ichwan. Jasa dan inspirasimu akan selalu kami kenang.

Kontributor: AM Juma'i
Editor: Riki Apr
Bagikan: