Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 3 menit baca

Ujian Sabar dalam Menghadapi Pemimpin

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Ujian Sabar dalam Menghadapi Pemimpin
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Secara teologis, pemangku kekuasaan disebut khalifah. Dalam istilah ini, terbayang sosok manusia sempurna (insan kamil) karena terkandung makna wakil Tuhan di muka bumi. Dari era manusia purba hingga era disrupsi ini, representasi khalifah bisa mewujud dalam bentuk raja, ratu, presiden, perdana menteri, the king, the queen, sang noto, atau entah istilah apalagi sesuai dengan lokal di mana komunitas manusia berdomisili, berbangsa, dan bernegara.

Sepanjang sejarah manusia, tipologi penguasa dapat digolongkan menjadi dua karakter besar. Sejarah mencatat contohnya: Qabil versus Habil, Namrud versus Ibrahim, Firaun versus Musa, Abu Jahal versus Muhammad Rasulullah, dan Kemal Ataturk versus Recep Tayyip Erdogan.

Qabil dikenal sebagai pembunuh pertama. Namrud sebagai diktator tanpa batas. Firaun merupakan representasi super sombong yang mengaku tuhan maha tinggi. Abu Jahal adalah penguasa zalim sekaligus konglomerat bakhil.

Sebaliknya, Habil dikenang sebagai figur yang lemah lembut dan welas asih. Ibrahim sebagai figur yang ulet, rasional, dermawan, sekaligus lemah lembut, dan bapak baja tauhid (hanif). Ibrahim memiliki kesamaan dengan Nuh, Musa, Isa, dan Agung Muhammad saw. karena mereka sama-sama utusan Allah untuk membina manusia agar menyadari posisinya sebagai Hamba Allah.

Meskipun sejarah menawarkan teladan pemimpin yang adil dan zalim, realitas yang kita hadapi sering kali lebih kompleks. Pertanyaannya kemudian, bagaimana seharusnya kita, sebagai rakyat, bersikap ketika pemimpin yang ada belum mampu mewujudkan harapan ideal? Bagaimana kita menghadapi situasi di mana ketidakadilan dan ketidaknyamanan melanda?

Ternyata ada yang harus diperbuat bagi rakyat dalam kondisi negara tertimpa chaos. Nabi bersabda:
Nabi bersabda:

عَنَ بْنِ عَبَّاٍس َرضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ َكرِهَ مِنْ َأمِيْرِهِ شَيْئًا فَلَيْصْبِرْ فَإِنَّه ُمَنْ خَرَجَ ِمنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا َماتَ مَيْتَةً جاَهِلِيَّةً. (متفق عليه)

Artinya:
Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridai mereka berdua dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melihat dari penguasa sesuatu yang dibenci, maka hendaklah dia bersabar. Sebab, barangsiapa yang keluar dari (ketaatan kepada) penguasa sejengkal, maka dia mati dengan kematian jahiliyah.” (Muttafaq ‘alaih, Bukhari: 7023, 7054 dan Muslim: 1849).

Praksisme hadis ini mengandung petunjuk dangkal bahwa rakyat harus bersabar ketika menyaksikan perilaku penguasa yang tidak amanah. Jika sampai oknum rakyat mati dalam posisi ketidaksabaran terhadap penguasa zalim, tidak mungkin dia masuk kategori husnu khatimah, melainkan justru jahiliyah. Tampaknya pemahaman ini benar jika yang dimaksud sabar adalah tabah menderita, sehingga ada ulama yang berdalih nahi mungkar pun tetap haram.

Kata sabar merupakan jenis kata musytarak, artinya kata yang memiliki lebih dari satu arti. Ternyata, kata sabar juga berarti al-jihdu wal istimrar, artinya bersungguh-sungguh dan berulang-ulang. Maksudnya menggambarkan suatu usaha yang sungguh-sungguh, ulet, jika gagal diulang dan diulang sehingga mendatangkan hasil sesuai target.

Jadi, sabar adalah kesungguhan usaha yang sistematis. Dalam konteks menyikapi penguasa, rakyat harus mengerahkan tenaga, pikiran, harta, kalau perlu nyawa, untuk menggapai kondisi, meminjam istilah Alfarabi, negara utama (al-madinat al-fadhilah). Negara utama dapat digambarkan sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto, titi, tentrem kerto raharjo di bawah pemimpin yang berjiwa profetik: sidiq, amanah, fathanah, dan tabligh.

Untuk menuju kondisi negara seperti ini, seluruh komponen bangsa harus seia sekata melakukan perubahan memberantas tuntas setiap fenomena mulai dari cicakisme hingga Namrudis-fir’aunisme. Semoga Allah meridai setiap hamba yang sabar dalam memberantas keangkaramurkaan. Amin.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: