Menggapai Ridha Ilahi Melalui Keuntungan Amal Usaha Muhammadiyah
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org- Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., menyampaikan bahwa orientasi menguntungkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus dilandasi niat lillahita’ala atau karena Allah, sehingga keuntungan yang didapat merupakan hasil dari ibadah yang tulus dan dapat meraih ridha Ilahi.
Hal ini disampaikannya dalam Kajian Pimpinan Jumat Pagi yang dihadiri para pejabat struktural dan fungsional RS Roemani Muhammadiyah Semarang, di aula lantai 1, Gedung Yusuf, Jl. Wonodri Sendang Raya No.22, Jum’at (15/8/2025)
Dalam pemaparannya, Dr. Aang, yang juga merupakan dosen tetap Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, menjelaskan bahwa mengelola AUM harus didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Ia mengutip Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Menurutnya, prinsip niat ini adalah yang paling mendasar, di mana keuntungan adalah hasil dari ibadah yang tulus.
Ia menambahkan bahwa ridha Allah adalah keberuntungan yang paling besar, sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 72.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya amanah dan profesionalitas dalam mengelola AUM. “Pengelola AUM adalah pemegang amanah yang harus bekerja secara profesional, jujur, dan akuntabel,” ujarnya, mengutip Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 58 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya kerja keras, kualitas, kejujuran, dan etika bisnis.
Dr. Aang menjelaskan bahwa keuntungan yang berkah datang dari transaksi yang bersih dan profesional, sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada”.
Tidak hanya itu, Dr. Aang juga mengajak para pengelola AUM untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan dan bersabar dalam menghadapi setiap ujian. Mereka yang mencari ridha Allah meyakini bahwa semua ketetapan Allah adalah yang terbaik. “Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu,” katanya, mengutip QS. Az-Zumar ayat 7.
Prinsip ini, menurutnya, harus menjadi landasan spiritual bagi setiap pengelola AUM agar tetap istiqomah dalam menjalankan tugasnya.
Inovasi Adalah Kunci
Dr. Aang Kunaepi juga mendorong AUM untuk dikelola secara efisien dan inovatif agar tetap relevan dan kompetitif. “Hal ini untuk memaksimalkan keuntungan yang dapat digunakan untuk dakwah,” jelasnya.
Ia menyinggung pentingnya perubahan dan perkembangan, dengan mengutip Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11 yang menyatakan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
Menurutnya, inovasi adalah kunci agar AUM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat. Hal ini juga sejalan dengan hadis tentang memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, termasuk masa muda, sehat, kaya, luang, dan hidup.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, AUM diharapkan tidak hanya menjadi lembaga yang kuat secara finansial, tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai keislaman, sehingga setiap keuntungannya menjadi ladang amal jariyah bagi para pengelolanya dan seluruh warga Muhammadiyah.