Menjadikan Amal di Muhammadiyah sebagai Jalan Jihad
SEMARANG TIMUR,muhammadiyahkotasemarang.org- Bekerja di lingkungan Muhammadiyah bukanlah sekadar rutinitas profesional, melainkan sebuah jihad yang menuntut keteguhan iman.
Demikian disampaikan Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Daerah (PDM) Kota Semarang Dr. Shofa Muthohar, dalam kajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gayamsari, di SMP Muhammadiyah 7, Ahad (31/78/25).
Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo itu mengajak hadirin untuk merenungkan kembali makna di balik setiap pekerjaan, bagaimana menjadikan setiap pekerjaan bernilai ibadah.
Dr. Shofa memaparkan konsep penting amal shalih struktural sebagai pondasi berkontribusi di lingkungan Muhammadiyah.Ia mengajak para hadirin untuk melihat pekerjaan di lingkungan Muhammadiyah, seperti mengajar, melayani siswa, atau mengelola administrasi, bukan hanya sekadar tugas rutin.
“Mengajar, melayani siswa, administrasi, manajemen sekolah adalah jihad fi sabilillah,” tegasnya.
Lebih dari sekadar mencari nafkah, aktivitas ini memiliki dampak yang lebih luas dan menghasilkan pahala yang terus mengalir, atau yang dikenal sebagai amal jariyah. Dengan demikian, setiap individu di dalam struktur organisasi ini didorong untuk mengikatkan diri pada misi dakwah yang lebih besar.
Belajar dari Niat dan Fondasi yang Kokoh
Dalam penjelasannya, Dr. Shofa juga menyinggung tentang pentingnya niat tulus dalam setiap perbuatan, dengan mengambil contoh dari kisah Masjid Dhirar yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Ia menceritakan bagaimana sekelompok orang munafik membangun sebuah masjid di dekat Masjid Quba dengan niat buruk untuk memecah belah kaum mukminin dan menjadikannya markas politik.
Setelah niat ini terungkap melalui wahyu, Rasulullah memerintahkan agar masjid tersebut dihancurkan.
Kisah ini memberikan pesan kuat bahwa fondasi dan niat di balik suatu amal adalah hal yang paling utama.
Dr. Shofa mengingatkan, tidak semua bangunan keagamaan akan diridai Allah, karena nilainya sangat bergantung pada ketakwaan dan niat para pembangunnya. “Allah Maha Mengetahui niat di balik amal,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa persatuan umat jauh lebih berharga daripada bangunan fisik itu sendiri.
Bekerja dengan Keimanan
Pekerjaan yang didasari oleh iman akan memberikan ketenangan batin yang sejati, sambungnya seraya mengutip surat An-Nahl ayat 97 tentang seseorang yang beramal shalih dengan iman akan diberikan kehidupan yang baik.
Dia menambahkan, guru atau karyawan yang bekerja dengan keimanan akan memperoleh ketenangan hati, bukan hanya gaji. “Ini adalah janji Allah yang akan dirasakan oleh mereka yang teguh dalam keimanannya,” ucapnya.
Pada akhir ceramahnya, Dr. Shofa menginspirasi para hadirin dengan kisah seorang guru yang memilih mengajar di daerah terpencil meskipun gajinya kecil. Guru tersebut tidak mengukur pekerjaannya dari materi, melainkan dari pahala di akhirat.
Ia mengatakan, “Aku tidak sedang mengajar untuk gajiku, tapi aku sedang menanam pohon untuk akhiratku”.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa bekerja di lingkungan Muhammadiyah adalah sebuah jihad. Dengan keteguhan iman, setiap langkah dan usaha kita dalam pekerjaan dapat menjadi ladang amal shalih yang terus tumbuh dan memberikan keberkahan.