Berjanjenan, atau ritual pembacaan naskah Al-Barzanji, merupakan tradisi populer yang berakar dari mahabbaturrasul (kecintaan kepada Rasulullah). Bagi para pengamalnya, tradisi ini bahkan dianggap sebagai salah satu ciri ahlus sunah waljamaah. Namun, tak sedikit pula umat Islam yang menolak tradisi ini karena menilai isinya sarat dengan ungkapan irasional yang berpotensi menyeret akidah pada kesyirikan dan khurafat.
Sadar akan hal tersebut, para pengamal Al-Barzanji berdalih bahwa karya ini merupakan sastra tingkat tinggi yang lahir dari luapan kerinduan mendalam kepada Rasulullah, bukan pernyataan rasional. Keberlebihan dalam ungkapan adalah hal lumrah karena Al-Barzanji masuk dalam genre manakib, yaitu biografi yang menonjolkan hal-hal luar biasa dan adikodrati, jauh di atas kemampuan manusia.
Namun, penolakan tetap datang dari sebagian pihak. Mereka berpendapat bahwa meskipun karya ini merupakan sastra, ungkapan irasional di dalamnya tidak boleh diinternalisasi menjadi akidah. Faktanya, tak sebaris pun ungkapan dalam al-Barzanji yang tidak dikaitkan dengan akidah, sehingga secara keseluruhan, praktik berjanjenan dinilai sebagian pihak merrupakan bid’ah dan musyrik.
Tujuan tulisan ini bukan untuk memperdebatkan apakah berjanjenan itu sunah atau bid’ah, melainkan untuk menyoroti beberapa ungkapan yang dinilai mustahil tentang pribadi Nabi. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan umat dari akidah yang bataliah, tanpa harus mengurangi kecintaan terhadap Rasulullah.
Berikut adalah beberapa contoh kemustahilan yang ditemukan dalam naskah Al-Barzanji:
- وَأُصَلِّى وَ أُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ الْمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَالْأَوَلِيَّةِ (Aku menghaturkan shalawat dan salam atas cahaya yang bersifat taqaddum dan awwal). Sifat taqaddum dan awwal hanya milik Allah.
- وَ نُطِقَتْ بِحَمْلِهِ كُلُّ دَابَّةٍ لِقُرَيْشٍ بِفَصَاحِ الْاَلْسِنِ الْعَرَبِيَّةِ (Dikatakan oleh setiap binatang di bumi Quraisy dengan Bahasa Arab yang fasih tentang kelahiran Muhamamad). Mana mungkin binatang bisa bisa berbicara model manusia secara fasih.
- وَ تَبَاشَرَتْ وُحُوْشُ الْمَشَارِقِ وَ الْمَغَارِبِ وَ دَوَابِهَا الْبَحْرِيَّةِ (Baik binatang liar, di darat maupun di laut saling bergembira satu sama lainnya [karena kelahiran Muhammad).
- حَضَرَ أُمُّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ اَسِيَةٌ وَ مَرْيَمٌ فِي نِسْوَةِ مِنَ الْحَظِيْرَةِ الْقُدْسِيَّةِ (Di hari kelahirannya, Maryam, Asiyah [istri Fir’aun], dan para bidadari suci pada hadir).
- وَ نَتَوَسَلُ إِلَيْكَ بِشَرَفِ الذَاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ (Kami bertawasul kepadamu dengan kemuliaan zat Muhammadiyyah). Nur Muhammadiyah diyakini sebagai biji alam semesta menurut para sufisme manapun. Wujud Muhammad saw sebagai pengejawantahan Nur Muhammadiyyah yang paling sempurna.
- وَقَدْ أَصْبَحَا وَاللهِ مِنْ أَهْلِ الْإِيْمَانِ وَ جَاءَ لِهَذَا فِي الْحَدِيْثِ شَوَاهِدٌ فَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ جَلَّ جَلَالَهُ قَدِيْرُ عَلَى الْإِحْيَاءِ فِى كُلِّ أَحْيَانٍ (Sungguh jadilah kedua orang tua Muhammad sebagai ahli iman. Hal ini dijelaskan dalam hadis dan banyak saksinya sehingga selamatlah mereka berdua. Sesungguhnya Allah Jalla jalalah itu Maha Kuasa menghidupkan orang mati kapanpun).
- وَ خَرَّتِ الْأُسْرَةُ وَ الْأَصْنَامُ عَلَى الْوُجُوْهِ وَ الْأفْوَاهِ (Patung [di sekitar ka’bah] tersungkur ketika melihat bayi Muhammad dan matanya melotot modod jauh dari kelopaknya).
- فَأَغِثْنِي وَ أَجِرْنِي يَا مُجِيْرُ مِنَ السَّعِيْرِ (Tolonglah aku, selamatkan aku dari neraka sa’ir wahai yang penyelamat). Permohonan ini bukan kepada Allah, melainkan kepada Rasulullah, tentu terjatuh syirik.
- كَفِّرْ عَنَّي الذُنُوْبِ وَ اغْفِرْ عَنِّي السَّيِّأَتِ (Tutuplah dosa-dosaku, dan ampunilah kesalahan-kesalahanku). Berdoa bukan kepada Allah.
- فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُنْيَا وَ ضَرَتِهَا.(Maka sesungguhnya dunia dan akhirat adalah dari kemurahanmu semata wahai Nabi).
- وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ (Dan dari ilmumu, ilmu lauh dan qalam). Hanya milik Allah ilmu lauh dan qalam (QS. al-An’am/6:59): وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ (Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata [Lauh Mahfudz]).
- يَا رَسُوْلَ اللهِ يَا خَيْرَ كُلِّ الْأَنْبِيَاءِ نَجِّنَا مِنْ هَاوِيَةِ يَا زَكِيَ الْمُنَصِّبِ (Wahai Rasulullah, wahai sebaik-baik Nabi, selamatkan kami dari neraka hawiyah, wahai yang mensucikan nasib).
- اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ, عَلَيْكَ يَا مَحِيَ الذُّنُوْبِ (Keselamatan untukmu [wahai Nabi], keselamatan untukmu wahai penghapus dosa). Asal tahu saja, Alquran menyebut 224 kali bahwa pengampun dosa hanya Allah.