Dalam narasi keagamaan, sosok Nabi Muhammad sering kali digambarkan sebagai figur yang luar biasa, bahkan terkadang sampai melampaui batas kemanusiaan. Namun, bagaimana sesungguhnya Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi pedoman utama umat Islam, menggambarkan profil beliau?
Artikel ini akan mengulas gambaran otentik Nabi Muhammad SAW berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang manusia biasa, namun diamanahkan tugas yang mulia sebagai seorang rasul.
1. Nabi Muhammad Telah Diberitakan dalam Kitab Suci Lain
Jauh sebelum kelahirannya, kedatangan Nabi Muhammad telah diberitakan dalam kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Taurat. Hal ini menunjukkan bahwa kerasulan beliau merupakan bagian dari rencana Ilahi yang telah ditetapkan sejak lama, melengkapi ajaran yang dibawa oleh para nabi terdahulu.
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ قَالُواْ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka ketika rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaf: 6).
2. Muhammad Ditetapkan Sebagai Rasul oleh Allah
Al-Qur’an dengan tegas menyatakan status Nabi Muhammad sebagai seorang rasul, bukan tuhan atau malaikat. Beliau adalah manusia pilihan yang bertugas menyampaikan risalah. Ayat berikut menegaskan bahwa kepergian beliau, baik karena wafat maupun dibunuh, tidak boleh mengubah keyakinan umat Islam.
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ ققُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَججْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ
Artinya:
(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran: 144).
3. Muhammad Rasulullah Adalah Manusia Biasa
Salah satu poin penting yang digarisbawahi oleh Al-Qur’an adalah kemanusiaan Nabi Muhammad. Beliau bukanlah sosok gaib atau ilahi, melainkan manusia biasa seperti kita, yang mendapatkan wahyu dari Allah. Hal ini berfungsi sebagai pengingat agar umat Islam tidak berlebihan dalam memuliakan beliau, sehingga jatuh pada praktik syirik.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya:
Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa’.” Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (QS. Al-Kahfi: 110).
4. Dia Diperintah Beragama Secara Murni
Sebagai manusia pilihan, Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk beragama dengan ketaatan yang murni, hanya menyembah kepada-Nya. Perintah ini menjadi teladan bagi seluruh umat Islam agar selalu memurnikan niat dalam beribadah, menjauhi segala bentuk kemusyrikan.
قُلْ إِنِّىٓ أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ
Artinya:
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Az-Zumar: 11).
5. Sebagai Rasul, Tugasnya Menebar Kasih Sayang
Meskipun beliau memiliki tugas yang besar, esensi utama kersulan Nabi Muhammad adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kerasulan beliau tidak hanya membawa kebaikan bagi umat manusia, tetapi juga seluruh makhluk hidup dan lingkungan, menunjukkan universalitas ajaran Islam yang penuh kedamaian dan kasih sayang.
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya:
Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’: 107).
6. Berkewajiban Menyampaikan Wahyu dari Allah
Nabi Muhammad memiliki tanggung jawab penuh untuk menyampaikan segala risalah yang diturunkan oleh Allah, tanpa ada yang dikurangi atau ditambahi. Beliau adalah perantara yang jujur dan dapat dipercaya dalam menyampaikan ajaran agama.
اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنْصَحُ لَكُمْ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
Aku sampaikan kepadamu risalah (amanat) Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-A’raf: 62).
7. Berwatak Lemah Lembut terhadap Muslim dan Tegas kepada Kafir
Sikap Nabi Muhammad terhadap umatnya dan musuh-musuhnya digambarkan dengan jelas. Beliau bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada sesama muslim, namun menunjukkan ketegasan yang perlu terhadap kaum kafir yang memusuhi dan berusaha merusak Islam. Ketegasan ini bukan berarti kekerasan, melainkan sikap yang tegas dalam membela kebenaran.
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ
Artinya:
Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al-Fath: 29).
8. Tidak Memiliki Kemampuan Gaib
Sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad tidak memiliki kemampuan layaknya paranormal, dukun, atau peramal. Beliau tidak mengetahui hal-hal gaib, kecuali apa yang Allah kehendaki untuk beliau ketahui. Hal ini membedakan beliau dari sosok-sosok yang sering dikaitkan dengan kemampuan supranatural, menegaskan bahwa kekuasaan mutlak hanya milik Allah.
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُۗ وَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُۛ اِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَࣖ
Artinya:
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.” (QS. Al-A’raf: 188).
9. Beliau Adalah Suri Teladan
Nabi Muhammad adalah suri teladan terbaik dalam urusan agama dan akhirat. Seluruh ibadah, akhlak, dan tata cara beragama umat Islam harus mencontoh beliau. Tidak ada jalan lain untuk beribadah yang benar selain mengikuti sunah dan ajaran beliau, terlepas dari siapa pun orangnya, bahkan jika ia dianggap sebagai ulama besar.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya:
Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21).
10. Menyerahkan Urusan Duniawi Kepada Umat
Dalam hal urusan duniawi, Nabi Muhammad memberikan kebebasan kepada umatnya untuk berinovasi dan menentukan yang terbaik. Hadis yang menyatakan, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu,” menunjukkan bahwa beliau tidak mengatur secara teknis hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti pertanian atau perdagangan, karena itu adalah domain akal dan pengalaman manusia.
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Artinya:
Kamu lebih mengetahui urusan duniamu. (HR. Muslim: 2363).
Mengimani siapa Nabi Muhammad menurut petunjuk Al-Qur’an dan Sunah yang sahih, sebagaimana dijelaskan di atas, akan menjamin kebenaran akidah, keselamatan, dan membebaskan seseorang dari keyakinan yang berlebihan seperti tahayul, khurafat, bid’ah, dan syirik. Insya Allah.