Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Antara Cinta Buta dan Cinta Sejati kepada Nabi

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Antara Cinta Buta dan Cinta Sejati kepada Nabi
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Rasa cinta sering diungkapkan dengan beragam istilah, mulai dari “cinta itu buta” hingga peribahasa Jawa, “yen kadung trino wingko dadi kencono” (jika sudah terlanjur cinta, bongkahan tanah pun dianggap emas). Ungkapan-ungkapan ini memang kerap terbukti dalam kehidupan nyata. Namun, bagaimana jika rasa cinta ini ditujukan kepada Nabi Muhammad? Apakah ada “kebutaan” yang serupa?

Artikel ini akan mengupas perbedaan antara rasa cinta dan cinta sejati kepada Nabi, menyingkap keyakinan yang keliru, dan menjelaskan bentuk cinta yang sesungguhnya.

Dalam mengapresiasi rasa cinta kepada Nabi Muhammad, terkadang terjadi apa yang disebut kebutaan iman, yaitu keyakinan terhadap hal-hal yang tidak mungkin. Contohnya adalah keyakinan bahwa ruh Nabi hadir secara fisik di depan setiap orang yang mengikuti ritual berjanjenan. Menurut naskah Al-Barzanji, ungkapan yang digunakan adalah:

قِيَامًا عَلَى الْاَقْدَامِ مَعَ حُسْنِ اِمْعَانِ بِتَشْخِيْصِ ذَاتِ الْمُصْطَفَى وَهُوَ حاَضِرٌ بِاَي ّ ِ مَقَامٍ فِيْهِ يُذْكَرُ بَلْ دَانِى فَطُوْبَى لِمَنْ تَعْطِيْمُهُ جُل ّ ُ قَصْدِهِ

(Berdiri di atas kaki dengan nyaman dan sebaik-baiknya, dengan seseorang, Itulah pribadi Musthafa yang hadir. Ia berdiri di posisi mana saja di majelis disebut. Ia amat dekat. Sungguh beruntung bagi yang menghormatinya, pasti kesampaian benar apa yang dituju) .

Pengamal ritual ini yakin bahwa Rasulullah datang dan siap memberikan berkah sesuai permohonan mereka. Namun, secara syariat, keyakinan ini tidak benar. Nabi Muhammad wafat pada tahun 10 H, sedangkan naskah Al-Barzanji digubah oleh Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji, yang hidup pada tahun 1126-1177 H.

Ini menunjukkan adanya jarak lebih dari seribu tahun antara wafatnya Nabi dan munculnya keyakinan bahwa beliau hadir dalam majelis Al-Barzanji. Keyakinan semacam ini merupakan gambaran dari cinta buta, otomatis buta dari aqidah shalihiyyah, atau cinta platonis yang hanya ada dalam khayalan.

Cinta sejati harus ditunjukkan dengan pengorbanan. Pertanyaannya, apakah Nabi menuntut cinta dari kita? Tidak ada perintah langsung untuk mencintai beliau secara pribadi, meskipun kita boleh melakukannya.

Ungkapan cinta seperti “Anta nûrun fauqannûri” (Engkau adalah cahaya di atas cahaya) dan “Anta Syamsun” (Engkau matahari) diperbolehkan sebagai tasybih (penyerupaan). Perumpamaan ini mengisyaratkan bahwa beliau adalah cahaya yang membimbing umat Islam keluar dari kegelapan menuju cahaya iman.

Tuntutan dari Nabi untuk kepentingan dirinya hanyalah selawat. Namun, manfaat dari selawat secara langsung kembali kepada orang yang melakukannya, bukan menambah kehormatan Nabi. Sebagaimana sabda beliau: مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا (Barangsiapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah berselawat kepadanya sepuluh kali. HR Muslim: 408) .

Hubungan timbal balik antara Nabi dan umatnya adalah bahwa beliau akan memberikan syafaat di akhirat bagi mereka yang dapat ditolong atas izin Allah. Syafaat ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang mati dalam keadaan beriman dan tidak menyekutukan Allah sedikit pun. Koruptor, kafirun, musyrikun, munafiqun, dan mukminun ahlul bida’h yang gemar mengada-ada, merubah, atau mengganti-ganti syariat Nabi tidak akan mendapatkan syafaat ini.

فَاخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي وَهِيَ نَائِلَةٌ مِنْكُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا

(Kemudian aku menyimpan permohonanku sebagai syafaat bagi umatku, dan syafaat tersebut akan didapatkan insya Allah Ta’ala bagi orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun. HR. Darimi: 23589) .

Cinta timbal balik antara Rasul dan umatnya maupun antar sesama umat tampak dalam uluk salam. Setiap bertemu antar dua orang atau dua pihak didahului dengan doa: Assalâmu ‘alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh. Pihak yang diberi salam menjawab dengan ungkapan yang sama.

Salam mengandung tiga macam isi doa: memohon kepada Allah agar menurunkan keselamatan, kerahmatan dan keberkahan.

Selanjutnya, apa pengorbanan umat kalau mereka cinta kepada Rasul? Jadi, satu sama lainnya saling mendoakan, tanda saling mencintai.

Bentuk pengorbanan umat kepada Nabi adalah mengikuti ajaran-ajarannya karena Allah memerintahkannya:
وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمۡ عَنۡهُ فَانْتَهُوۡا‌ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ‌ۘ (Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya. QS al-Hasyr:7).

Nabi sediri bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّووَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya: “Wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud: 4607 dan Tirmidzi: 2676).

Nabi juga bersabda: فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: “Siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Kesimpulannya, cinta sejati kepada Nabi menurut Alquran maupun beliau adalah mengikuti sunnah-sunnah Nabi dengan tulus ikhlas, tidak menambah, tidak merubah, dan mengganti dengan sunnah apapun.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: