Di tengah masyarakat, praktik zikir seringkali menyimpang dari tuntunan Alquran dan as-sunnah. Kesalahan ini terlihat jelas saat zikir dilakukan secara berjemaah, dengan suara keras, berirama, bahkan disertai gerakan tubuh yang mirip orang mabuk atau menari. Yang lebih parah lagi, sebagian orang meyakini bahwa pahala zikir tersebut dapat dikirimkan kepada orang-orang yang sudah meninggal.
Jika kita mengacu pada Alquran dan hadis, etika berzikir sebenarnya sangat berbeda dari praktik yang umum dijumpai.
Makna dan Etika Zikir dalam Islam
Surat al-A’raf ayat 205 berbunyi:
وَاذۡكُرْ رَّبَّكَ فِىۡ نَفۡسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيۡفَةً وَّدُوۡنَ الۡجَـهۡرِ مِنَ الۡقَوۡلِ بِالۡغُدُوِّ وَالۡاٰصَالِ وَلَا تَكُنۡ مِّنَ الۡغٰفِلِيۡنَ
Artinya: “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.”
Dari ayat ini, kita dapat memahami beberapa poin penting tentang etika berzikir:
Pertama, zikir dilakukan dalam hati. Hal ini berarti zikir bersifat personal dan tidak diketahui orang lain, kecuali atas kehendak Allah.
Kedua, zikir dilandasi sikap rendah hati (tadharru’). Kita harus menyadari betapa kecilnya diri kita di hadapan kekuasaan Allah yang Maha Tinggi.
Ketiga, zikir dilandasi sikap takut. Kesadaran akan kehinaan diri di hadapan kesempurnaan Allah akan menumbuhkan rasa takut.
Keempat, dalam berzikir tidak mengeraskan suara. Ayat ini secara jelas melarang zikir dengan suara keras, bahkan berzikir dengan suara lirih sekalipun. Mengapa? Karena saat suara terdengar oleh orang lain, itu artinya zikir tersebut keluar dari dalam diri sang pezikir, bukan lagi di dalam hati.
Kelima, zikir dilakukan kapan saja. Zikir dianjurkan pada waktu pagi dan petang, yang menunjukkan bahwa zikir bisa dilakukan kapan saja.
Keenam, peringatan agar tidak lengah. Allah memperingatkan agar umat Muslim jangan sampai lupa berzikir. Oleh karena itu, ayat lain menyebutkan agar berzikir sebanyak-banyaknya:
ۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اذۡكُرُوۡا اللّٰهَ ذِكۡرًا كَثِيۡرًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab : 22).
Larangan Berzikir Keras dalam As-Sunnah
Sejalan dengan Alquran, Rasulullah juga melarang berzikir secara jahr (bersuara keras). Hal ini termaktub dalam beberapa hadis, di antaranya:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ
Artinya: “Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Sufyan dari ‘Ashim dari Abu ‘Utsman dari Abu Musa al-Asy’ariy radliallahu ‘anhu berkata; Kami pernah bepergian bersama Rasulullah ﷺ dan apabila menaiki bukit kami bertahlil dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya.’” (HR. Bukhari 2770).
Hadis serupa juga terjadi saat Perang Khaibar:
لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ و
Artinya: “Ketika Rasulullah ﷺ melihat orang-orang menuruni lembah sambil meninggikan suara dengan bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar lâ ilâha illallâh, maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Rendahkanlah, karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama kalian.’” (HR. Bukhari: 3883).
Hadis kedua ini menegaskan, bahkan dalam situasi genting seperti perang yang membutuhkan semangat membara, Rasulullah tetap melarang pengikutnya memekikkan takbir.
Jangan Taklid Buta
Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin, dalam beribadah jangan sampai “ikut-ikutan” atau “ikut arus.” Jangan sampai kita berbuat sesuatu yang dianggap bernuansa keagamaan, tetapi tidak didasari ilmu. Perhatikan peringatan Allah berikut:
وَلَا تَقۡفُ مَا لَـيۡسَ لَـكَ بِهٖ عِلۡمٌ ؕ اِنَّ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔوۡلً
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isra’/17: 36).
Keberagamaan yang didasari taklid buta sangat mungkin membuat seseorang merasa sangat agamis dan saleh, padahal perbuatannya salah besar. Karenanya, hal itu tidak akan mendatangkan pahala dan kebaikan di akhirat.
A’ūzubillāh min zālik. Sadarlah bahwa pendengaran, penglihatan, dan keyakinan hati kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak di yaumul hisab.