Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Seribu Kisah dalam Koper Pustaka, Gerakan Literasi Meriah dari Aktivis Muhammadiyah

1 Oktober 2025, 06:11 WIB • 4 menit baca
Seribu Kisah dalam Koper Pustaka, Gerakan Literasi Meriah dari Aktivis Muhammadiyah

TEMBALANG, muhammadiyahsemarangkota.org- Deretan anak-anak TK ABA 59 berjongkok manis, seragam putih-toska mereka yang cerah kontras dengan lantai teras rumah yang teduh. Di tengah mereka, Kak Salsa dari Koper Pustaka duduk bersila, memegang mikrofon dan sebuah buku bergambar. Suaranya meliuk, menciptakan suasana riang dalam sesi Membaca Nyaring (Read Aloud).

Sesekali, seorang anak dengan jilbab putih mungil tak kuasa menahan tawa, pipi gembulnya memerah menahan geli. Mata-mata mungil itu mengerjap penuh fokus, seolah dunia luar, termasuk rombongan petinggi kementerian yang duduk mengelilingi mereka, telah lenyap, digantikan oleh petualangan di balik halaman kertas. Suasana hangat di teras rumah Yuli Kuswanti di Meteseh, Semarang, pagi itu, Selasa (30/9/35), terasa seperti perayaan intim sebuah penemuan terbesar: kegembiraan membaca.

Pemandangan penuh keceriaan ini menjadi daya tarik utama dalam kunjungan resmi delegasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Mereka datang bukan ke sebuah gedung perpustakaan megah, melainkan ke sebuah kediaman sederhana di Jl. Bukit Kelapa Kopyor IV, Meteseh, Tembalang, markas sekaligus jantung dari gerakan literasi Koper Pustaka.

Koper Pustaka, yang digagas oleh Yuli Kuswanti, seorang pustakawan, sejak tahun 2021 telah menjadi “oase” bagi anak-anak yang haus bacaan. Gerakan ini merangkum esensi literasi jalanan: membawa koleksi buku, kini lebih dari 1.000 eksemplar, di dalam koper besar, siap dibuka kapan saja dan di mana saja.

Rusprita Putri Utami, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, yang terlihat anggun dalam balutan busana hitam dan aksen merah, tampak tersenyum lebar dan memberikan tepuk tangan hangat, terkesima pada dedikasi di teras rumah itu.

“Luar biasa yang sudah dilakukan teman-teman,” puji Rusprita. “Pesan saya, untuk TBM (Taman Bacaan Masyarakat, Red) Koper Pustaka, untuk terus semangat menyebar manfaat dan bermanfaat untuk lingkungan sekitar, terutama untuk anak-anak untuk terus mencintai membaca buku, dan tentu saja juga pendayagunaan ibu-ibu dan perempuan di masyarakat,” ujarnya dengan mata berbinar-binar dan senyum merekah.

Semangat Membawa Buku, Mengurangi Gawai

Kunjungan yang juga dihadiri Fahmi Syahirul Alim, Tenaga Ahli Wakil Menteri, dan jajaran pejabat daerah lain ini, menggarisbawahi pentingnya inisiatif mandiri dalam meningkatkan minat baca.

Ia menekankan pesan dari pimpinannya, “Pak Wamen selalu berpesan bahwa anak-anak harus dekat dengan buku, karena buku adalah sumber ilmu. Kita harus mengurangi gawai tapi memperbanyak buku,” ucapnya seraya berharap Koper Pustaka menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar dan selalu terbuka pintunya.

Saat kegiatan berlangsung, Fahmi terlihat antusias mendengarkan seorang anak berbicara di mikrofon, menunjukkan perhatian yang mendalam pada suara-suara kecil.

Bagi Yuli, yang terlihat mengenakan kemeja berwarna earth-tone yang hangat, kehadiran para petinggi ini adalah sebuah pengakuan yang mengharukan. “Sebuah rasa haru dan kebanggaan bagi kami,” ucap Ketua TBM Semarang itu.

“Sangat senang atas kehadirannya, menambah semangat kami untuk tetap terus berbuat kebaikan melalui literasi. Semoga menambah banyak sinergi ke depannya dan Koper Pustaka semakin lebih berkembang.”

Ia menjelaskan bahwa inisiatif ini awalnya dimulai hanya dari koleksi buku pribadinya. Namun, respons positif dan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti Kampung Dongeng, Nasyiatul Aisyiyah, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah Semarang dan pemangku kepentingan lainnya membuat koper itu tak lagi sekadar tas koper, melainkan simbol kolaborasi. “Karena dengan berjejaring dan berkolaborasi kita semua akan lebih kuat, berdaya, dan berdampak,” tegas Yuli yang juga merupakan aktivis literasi MPI Muhammadiyah Semarang itu.

Lebih dari Sekadar Membaca

Selain sesi Membaca Nyaring yang memukau anak-anak dan para tamu, kegiatan di rumah Yuli juga diperkaya dengan pelatihan membuat kerajinan dari barang bekas yang dipimpin oleh crafter terampil, Kak Asih Sri Lestari. Aktivitas ini memperjelas bahwa Koper Pustaka adalah ekosistem literasi dan kreativitas.

Ini adalah pemandangan yang rutin terjadi, meski biasanya terselenggara di ruang publik yang lebih ramai. Setiap Ahad pagi, koper besar itu dibuka di momen Car Free Day (CFD) di kawasan Meteseh, Tembalang atau di Urban Farming Corner dekat Taman Indonesia Kaya saat CFD Simpang Lima daerah kota. Anak-anak datang, duduk di atas alas seadanya, dan tenggelam dalam ribuan kisah.

Kini, di teras rumah yang sejuk, Koper Pustaka membuktikan bahwa semangat literasi tak butuh gedung mewah. Ia hanya membutuhkan dedikasi setulus hati dan sepasang koper yang penuh janji. Janji untuk terus mengangkut mimpi, dari rumah ke jalan, dari koper ke jiwa.

Kontributor: MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: