Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jejak Digital di Taman Bermain: Dedikasi Guru PAUD Aisyiyah untuk Generasi Masa Depan

1 Oktober 2025, 12:53 WIB 4 menit baca
Jejak Digital di Taman Bermain: Dedikasi Guru PAUD Aisyiyah untuk Generasi Masa Depan

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Mata Salsabila Nurrela Rahmadhani memerah, bukan karena lelah, melainkan karena haru. Dua trofi kemenangan yang baru saja ia terima adalah penutup dari perjuangan panjang di luar jam mengajar.

Ia, seorang aktivis literasi dan pengelola PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), merasa terpanggil untuk memperluas dampak pendidikannya. Ia ingin anak-anak tahu bahwa merawat bumi itu menyenangkan.

Ia ingin rekan-rekan guru termotivasi. Kemenangannya di dua lomba digital sekaligus adalah afirmasi terkuat: bahwa kreativitas adalah jembatan paling cepat untuk menjangkau hati, baik itu hati anak didiknya, maupun hati rekan seprofesi. Di Semarang, namanya kini menjadi sinonim bagi semangat inovasi pendidikan.

Antara Buku Cerita dan Layar Monitor

Di Kelompok Bermain (KB) Aisyiyah Siwalan, Gayamasari, hari-hari Salsabila biasanya dipenuhi aroma bubuk krayon dan bunyi balok kayu yang beradu. Ia adalah pengelola sekaligus pendidik, sosok yang akrab dengan dunia polos anak usia dini.

Namun, sepulang mengajar, ia memiliki identitas lain: seorang aktivis literasi Muhammadiyah dan kini, seorang seniman digital yang lihai merangkai pesan visual.

Dua peran ini menyatu sempurna dalam perayaan HUT ke-9 Kelompok Kerja Operator (KKO) PAUD Kota Semarang, Sabtu (27/9/25) kemarin. Momen itu adalah panggung yang Salsabila butuhkan untuk membuktikan keyakinannya: bahwa pendidikan modern harus hybrid, menggabungkan sentuhan fisik dan daya tarik digital.

“Saya ingin sekali meningkatkan keterampilan dalam membuat poster digital dan video pendek. Ini sejalan dengan misi kami sebagai aktivis yang mengedepankan literasi dalam arti yang luas, termasuk literasi lingkungan,” tutur Salsabila, menjelaskan motivasi di balik partisipasinya.

Proses persiapan Salsabila sendiri jauh dari hiruk-pikuk keramaian lomba. Setelah memastikan semua muridnya pulang dengan senyum, ia duduk berjam-jam di depan layar laptop. Ia mempelajari teori warna, teknik editing, dan cara merangkai cerita visual yang efektif, sebuah keterampilan yang tak pernah ia dapatkan di bangku kuliah Pendidikan Guru PAUD.

Kemenangan Juara 2 Lomba Poster Digital adalah buah dari kerja kerasnya. Posternya, yang berjudul “Ayo Rawat Bumi Dengan Baik”, menampilkan gambar bumi tersenyum yang dikelilingi anjuran sederhana: Bawa Wadah, Ikut Menanam Pohon, Asik Pilah Sampah, dan Kompos.

Salsabila menjelaskan filosofi karyanya: anak-anak perlu disuguhi isu lingkungan melalui visual yang hangat dan tidak menakutkan. “Dengan visual yang ceria, mereka bisa melihat bahwa menjaga bumi itu menyenangkan, bukan beban,” katanya.

Sementara itu, Juara 3 Lomba Video Pendek diraihnya melalui karya dokumentasi yang lincah dan berenergi, merekam semangat dan kebersamaan para pendidik di ajang HUT KKO. Video itu membuktikan keahliannya dalam menangkap suasana dan merangkainya menjadi sebuah kisah utuh.

Gelombang Kreativitas Kolektif

Kemenangan ganda Salsabila adalah simbol dari gelombang inovasi yang sedang melanda para pendidik PAUD Aisyiyah di Semarang. Kreativitas tidak lagi terikat pada satu bentuk.

Saat Salsabila berinovasi di ranah digital, rekan sesama aktivis dari Aisyiyah, Khori Imawati, juga menorehkan prestasi sebagai Juara 2 Lomba Pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE) dari Bahan Limbah. Ini adalah kontras yang indah: satu guru memanfaatkan limbah fisik, yang lain memanfaatkan ruang digital. Keduanya sama-sama berjuang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Saat nama Salsabila disebut, rasa syukur yang meluap di Balai Kota itu adalah campuran kebanggaan personal dan pengakuan publik. “Saya sangat senang ketika berhasil meraih juara,” katanya.

Namun, ia buru-buru menambahkan, “Prestasi ini semoga tidak hanya menjadi kebanggaan sesaat, melainkan juga pemicu semangat untuk berkarya lebih baik lagi.”

Mengembangkan Kreativitas dan Harapan

Kisah Salsabila Nurrela Rahmadhani adalah sebuah deklarasi bahwa peran guru PAUD telah bertransformasi. Ia membuktikan bahwa seorang pendidik anak usia dini kini adalah inovator, kreator konten, sekaligus aktivis sosial yang memimpin dengan contoh.

Kini, Salsabila berharap prestasinya dapat menjadi penyemangat bagi rekan-rekan pendidik lainnya.
“Harapan saya, pendidik dan tenaga kependidikan PAUD semakin termotivasi untuk terus mengembangkan kreativitas serta menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik,” ujarnya.

Dari kanvas digitalnya yang ceria, hingga ke ruang kelas dan organisasi literasi yang ia geluti, Salsabila telah menanam benih inspirasi. Ia menunjukkan bahwa setiap langkah kecil dalam berkarya, sekalipun hanya sebuah poster digital, memiliki dampak besar, terutama ketika ditujukan untuk masa depan generasi penerus bangsa.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: