Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, banyak orang mencari kedamaian dan jalan pintas spiritual, bahkan hingga menempuh “amalan” yang diklaim islami. Namun, tahukah kita bahwa dalam tradisi Islam, terdapat perbedaan mendasar antara zikir yang murni mengagungkan Allah dan praktik-praktik yang dikenal sebagai wirid?
Memahami dikotomi ini sangat penting, sebab wirid, yang sering diartikan sebagai mengamalkan formula tertentu demi mencapai tujuan duniawi atau keajaiban, memiliki makna dan tujuan yang berbeda jauh dari zikir yang semata-mata mencari keridaan-Nya.
Wirid dan Zikir: Dua Dunia yang Berbeda
Wirid berbeda dari zikir. Makna azasi wirid adalah mengamalkan sesuatu formula dengan tujuan datangnya sesuatu yang lain, umumnya keajaiban. Wirid lebih populer dengan istilah amalan. Wirid, jamaknya aurad, amat banyak jenisnya. Jika tujuan yang hendak diperoleh mengenai keselamatan fisik atau kekebalan (occultism), namanya ḩizib. Arti harfiahnya balatentara.
Hizib ini cukup banyak macamnya, misalnya hizib nashar, hizib kurung, hizib luthfi, hizib khafi, dan aneka ajian versi “Islam”. Aneka hizib ini mempercayai antara lain: Malaikat Jibril, Malaikat Mikail, Rasulullah, tongkat Nabi Musa, dan cincin Nabi Sulaiman bisa hadir membentengi diri dari musuh.
Wirid-aurad disebut-sebut mampu memenuhi segala kebutuhan manusia (kullu hajatin). Secara tekstual, praktik ini tidak ditemukan baik dari Al-Qur’an maupun Sunah shahihah. Akan tetapi, jika dipahami secara kontekstual seluas-luasnya, baik dari kedua naskah tersebut, ia bisa dianggap dalil oleh para pengamalnya. Dari sinilah muncul istilah zikir wirid.
Sekadar contoh di antara ribuan zikir wirid adalah: pertama, ritual memisahkan antara suami istri supaya bercerai. Ritualnya: (1) menulis lafal bismillah tetapi hurufnya diputus semua: bak, sin, mim, alif, lam, lam, dan seterusnya dalam secarik kertas, (2) Mantranya: ora niat misah-misah tulisan bismillah, nanging misahke jabang bayine Marno karo Marni. Pisah saking kersane Allah, la ilaha illah Muhammadarrasulullah, (3) tulisan tersebut ditanam di makam (maqbarah) yang sudah tidak diziarahi keluarganya, sambil mengucapkan mantra, waktunya jam 12 malam, dan tidak diketahui orang.
Kedua, KB (Keluarga Berencana) supaya istri tidak hamil tetapi aktif ber-jimak (jima’), mantranya: ri tiri si jabang bayi kedadean soko banyu mani, mati, mati, mati, saking kersane Allah la ilaha illallah, Muhammadarurasulullah.
Dengan istilah zikir wirid, para pengamal yakin bahwa ritual ini sepenuhnya Islami. Oleh kelas terpelajarnya, mereka melabeli, dengan meminjam istilah dari Frithjhof Schuon, sebagai bagian tak terpisahkan dari dimensi esoterik (batiniah) dilawankan dengan eksoterik (lahiriah).
Keutamaan Zikir Murni
Zikir, tentu saja, hanya memuji dan mengagungkan Allah sebagaimana tuntunan Allah dan Rasulullah yang jika dilaksanakan Allah menjadi rida. Karena keridaan-Nya, Allah bisa, dalam bahasa antropomorfis, “berbunga-bunga hati.” Demikian hadisnya:
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ إِلَّا تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ
artinya:
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim mendiami masjid untuk salat dan zikir kecuali Allah berbunga-bunga padanya sebagaimana berbunga-bunganya orang yang hartanya hilang kembali lagi” (HR Ibnu Majah: 792, Ahmad bin Hanbal: 8000, kualitas shahih).
Keutamaan berzikir dengan duduk tenang di masjid atau tempat menunggu untuk salat berjemaah atau sesudahnya disebutkan demikian:
أَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْر
artinya:
Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melewati taman Surga, maka perbanyaklah zikir! Aku bertanya: Apakah taman Surga itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Kelompok-kelompok zikir” (HR Turmudzi: 3432, Ahmad: 12065, kualitas hadis ini hasan di antara sejumlah hadis semakna yang da’if).
Rasulullah bersabda bahwa formula zikir terbaik adalah lafal tahlil dan sebaik-baik doa adalah lafal hamdalah:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
Artinya:
Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Zikir yang paling utama adalah Lâ ilâha illallâh dan doa yang paling utama adalah al-Ḫamdulillah” (Ibnu Majah, 3790).
Rasulullah menganjurkan supaya umatnya memperbanyak berzikir agar nanti segera masuk surga. Kalau malas, tentu lamban meskipun tetap masuk surga, tentu karena termasuk orang yang beriman, beramal shalih, dan rahmat Allah:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنْ الْإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا
artinya:
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah zikir dan mendekatlah kepada imam, karena seseorang yang berlambat-lambat dalam beribadah maka ia akan terlambat juga menuju Surga walaupun ia memasukinya” (HR Abu Dawud: 934, Ahmad, 19253, 19259, kualitas hadis hasan).
Dalam keadaan tertentu, keutamaan zikir bisa melebihi sedekah dan jihad. Rasulullah memotivasi umatnya yang sangat lemah sekalipun untuk tetap menyatu dengan Allah:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعُهَا
لِدَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرَقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقُوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرَبُوْا رِقَابَهُمْ وَيَضْرَبُوْنَ رِقَابَكُمْ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
artinya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah kalian mau aku kabarkan amalan yang paling baik buat kalian amalkan? Dan yang paling bersih di sisi Raja (Allah) kalian, yang bisa mengangkat derajat kalian, lebih baik dari emas dan harta yang kalian berikan, dan lebih baik dari melawan musuh hingga kalian bisa menebas leher musuh kalian, atau kalian ditebas leher kalian oleh musuh kalian? Yaitu berzikir kepada Allah Azza Wa Jalla” (HR. Ahmad: 3299, 20713, 21065, Ibnu Majah: 3780, kualitas hadis hasan).
Memperhatikan konteks matan hadis ini secara keseluruhan, zikir sangat baik bagi orang miskin yang tidak bisa berderma dan orang lemah yang tidak mampu berjihad fi sabîlillâh. Dalam kondisi begini, sebaiknya memperbanyak berzikir. Jadi, ’ibrahnya, kalau kita sudah uzur, perbanyaklah berzikir dibanding terlalu banyak menikmati YouTube, TikTok, dan sebangsanya.
Wallâhu a’lamu bi ṣawâb.