Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 6 menit baca

Keutamaan Berzikir (Bagian 4)

Drs. H. Danusiri, M.Ag

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Keutamaan Berzikir (Bagian 4)
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Apakah dasar segala sesuatu di alam semesta ini? Jawabannya teguh: cinta kasih atau rahmat Allah. Rahmat yang menjadi pangkal penciptaan ini bukan sekadar konsep, melainkan kekuatan yang kasat mata dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, hadis Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dengan jelas menggarisbawahi keutamaan rahmat ini:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ فَجَعَلَ فِي الْأَرْضِ مِنْهَا رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْبَهَائِمُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ وَالطَّيْرُ وَأَخَّرَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا اللَّهُ بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ

Artinya:
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla telah menciptakan seratus rahmat di hari saat Dia menciptakan langit dan bumi. Dan Dia meletakkan satu rahmat di muka bumi, yang dengannya seorang ibu dapat menyayangi anaknya, para binatang saling mengasihi dengan sesamanya, begitu juga dengan burung. Dan Dia menyisakan sembilan puluh sembilan rahmat sampai hari Kiamat. Maka jika hari Kiamat telah tiba, Allah akan menyempurnakan dengan rahmat tersebut” (HR Muslim: 4943, 4944, 4945, 4946, at-Tumuzi: 3464, Ibnu Majah: 4283, 4284, Ahmad: 8063, 9236, 9890, 10256, 10390, 11104, 11105, 18046, dan 22605).

Dalam hadis ini disebutkan bahwa satu rahmat ditujukan untuk seluruh makhluk di bumi, sedangkan sembilan puluh sembilan rahmat dilimpahkan kepada hamba-Nya yang mengabdi, yaitu surga dengan berbagai kenikmatan abadi.

Memang, Allah juga murka, tetapi kemurkaan-Nya ditujukan kepada mereka yang mengkufuri-Nya, dan perlu dicatat bahwa murka Allah itu datang belakangan.

Demikian Nabi bersabda: إِنَّ اللَّه َلَمَّاقَضَى الْخَلْق َكَتَب َعِنْدَه ُفَوْق َعَرْشِه ِإِنَّ رَحْمَتِي (Ketika Allah menetapkan penciptaan, Dia tulis di sisi-Nya di atas arsy-Nya ‘Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku – HR Bukhari: 6872, 6898, 6998, 6999, Muslim: 4940, Ibnu Majah: 185, Ahmad: 6998, 7187, 7215, 8601, 8794, 9633).

Jadi, seluruh makhluk Allah di bumi ini, baik kafir maupun mukmin, pada dasarnya memperoleh kasih sayang Allah.

Ahlu ẕikr: Makhluk Super Kesayangan Allah

Di antara seluruh makhluk ciptaan Allah, ada segolongan yang jauh diistimewakan, bahkan lebih dari siapa pun, yaitu ahlu ẕikr (orang-orang yang berzikir). Mereka adalah makhluk super kesayangan Allah, dan hadis berikut menunjukkan betapa dekatnya mereka:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku (berzikir). Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. (HR. Bukhari: 6970, Muslim: 2675).

Zikir dan Pengalaman Spiritual (Taqarrub)

Dari hadis di atas, dapat dipahami bahwa zikir identik dengan taqarrub, yaitu mendekat sedekat-dekatnya kepada Allah. Mengingat wujud Allah itu bukan materi, seluruh isi uraian hadis itu bersifat maknawi. Oleh karena itu, cara manusia mendekatnya bukan dengan berjalan atau berlari secara fisik, melainkan menggunakan kesatuan hati dan pikiran (fuad/qalbu, fikr).

Pada saat manusia ber-taqarrub ilallah, respons Allah jauh lebih semangat dalam men-taqarrubi ilannas. Dalam posisi inilah, manusia merasakan nikmat kesatuan Ilahi, suatu pengalaman yang sering kali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata secara tepat sesuai dengan isi pengalaman spiritualnya.

Karena peristiwa spiritual itu teralami, mau tidak mau tersimpan dalam memori dan cenderung diungkapkan dengan kata-kata. Ungkapan teknis yang paling umum adalah ma’rifah, yaitu menyaksikan atau berada di alam lain (mâ warâ’a ba’da thabî’ah / metafisika) di sebalik alam inderawi.

Religious experience (pengalaman rohani) adakalanya menakutkan, adakalanya menggembirakan. Inilah yang melahirkan teori tasawuf dengan istilah khauf dan raja’, di mana keduanya merupakan nikmat spiritual yang sangat berarti.

Khauf adalah suasana hati takut, mungkin sang pezikir menyaksikan visualisasi siksa kubur atau dahsyatnya neraka. Pengalaman yang menakutkan itu justru memicu semangat untuk lebih banyak berzikir agar selamat dari kondisi yang baru saja disaksikan.

Sebaliknya, raja’ berarti mengharap, di mana sang pezikir menyaksikan visualisasi taman surga yang begitu indah.

Selanjutnya, sang pezikir menjadi “kecanduan” untuk berzikir, sehingga muncul istilah mudawamah ẕikir (melanggengkan berzikir). Tujuannya adalah untuk meneguk sebanyak-banyak dan sepuas-puasnya kenikmatan surgawi.

Namun menurut pengalaman ahlu ẕikr seperti Imam Ghazali, pengalaman itu sangat langka. Bahkan filsuf Plato konon hanya mengalami tiga kali pengalaman spiritual selama menjalani hidup kontemplatifnya.

Wallâhu a’lamu bi ṣawâb.

Baca juga:

Keutamaan Berzikir (Bagian 3)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: