Dalam tradisi spiritualitas dan budaya, pencarian terhadap tempat atau waktu yang dianggap sakral adalah fenomena universal. Bahkan, di mana pun Anda berada, dari Kepulauan Nusantara hingga belahan dunia lainnya, akan selalu ada ruang dan momen yang disucikan.
Sejarawan agama, Anne Marie Schimmel, pernah menyoroti ini: masyarakat Jawa memiliki punden atau akal bakal, umat Katolik memiliki Gua Maria, dan Bali memiliki Tanah Lot dengan Holy Snack-nya. Di ranah Islam, tradisi ziarah Walisongo adalah wujud pengagungan terhadap makam para penyebar agama.
Dalam konteks spiritual Islam, pertanyaan utamanya adalah: Kapan dan di mana waktu serta tempat yang paling dijanjikan oleh Rasulullah SAW untuk terkabulnya doa (berdoa mustajabah)?
Waktu dan Tempat Mustajabah untuk Berdoa
Tulisan ini secara spesifik menyajikan beberapa waktu dan tempat berdoa mustajabah (mudah terkabul) berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW
1. Di Akhir-Akhir Malam
Ketika sebagian besar manusia terlelap dalam tidur, saat-saat menjelang fajar ini merupakan waktu istimewa untuk berdoa mustajabah. Berdoa di waktu ini mengikuti tradisi para muttaqun (orang-orang yang bertakwa), yang kelak akan berada di taman-taman surga dan mata air (QS aẕ-Ẕariyât: 15).
Para muttaqun memanfaatkan momen ini untuk memohon ampunan Allah s.w.t. sebagaimana firman-Nya:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
(Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah – aẕ-Ẕaaariyât/51: 18)).
Hadis Nabi SAW berfungsi sebagai bayan lit ta’kid (penguat pemahaman) atas ayat ini, menegaskan keistimewaan waktu tersebut:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ يَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ.
(Rabb kita (Allah) تَبَارَكَ وَتَعَالَى turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman; ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku saat ini, niscaya Aku akan memperkenankannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya – HR Bukhari: 1077, 5846, 6940, Muslim: 1261, 1264, Turmuzi: 3420, Abu Dawud: 1120, 4108, Ibnu Majah: 1356, Darimi: 1443).
Terdapat riwayat tambahan yang menyebutkan bahwa keistimewaan ini berlangsung sampai terbit fajar (حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرَ) (HR Ahmad: 7275, 7303, 9922, Malik: 447, Ibnu Hibban: 920).
2. Di Saat Sujud
Sujud merupakan puncak kerendahan hati seorang hamba di hadapan Tuhannya. Nabi SAW bersabda tentang kedekatan ini:
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
(Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud (kepada Rabb-nya), maka perbanyaklah do’a – HR. Muslim: 744, Abu Dawud: 741, an-Nasa-i : 1125).
Contoh Doa dan Pujian Nabi Saat Sujud
Meskipun dianjurkan memperbanyak doa, penting untuk memperhatikan materi doa dalam posisi sujud. Sebab, sujud adalah bagian dari ibadah mahdlah (ibadah ritual spesifik). Sebaiknya, doa tersebut terbatas pada permohonan yang dicontohkan oleh Nabi SAW
Contoh-contoh doa dan pujian tersebut antara lain:
اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِينَ
(Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu juga aku beriman, kepada-Mu juga aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah Sebaik-baik Pencipta – HR Muslim: 1290, Abu Dawud: 649, Nasai: 1114, 1115, 1116, Ahmad: 764, Daruquthni: 1279, Ibnu Hibban: 1977).
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ
(Ya Allah ampunilah seluruh dosaku, yang kecilnya dan besarnya, yang pertamanya dan terakhirnya, yang terang-terangannya dan rahasianya – HR Muslim: 745, Abu Dawud: 744, Ibnu Khuzaimah: 672, Ibnu Khuzaimah: 1931).
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ
(Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh -yaitu Jibril – HR Muslim: 752, Abu Dawud: 738, Nasai: 1122, Ahmad: 22934).
سُبْحَانَ ذِي الجَبَرُوْتِ وَالملَكُوْتِ وَالكِبْرِيَاء ِوَالعَظَمَةِ
(Mahasuci Allah Yang mempunyai keperkasaan dan kerajaan (penuh) serta kesombongan dan keagungan – HR Nasai: 1132, Abu Daud: 873).
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
(Mahasuci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku – HR Bukhari: 752, 775, 3955, 4586, Muslim: 746).
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
(Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi – HR Muslim: 772, Abu Daud: 871).
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
(Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi dan pujian untuk-Nya [dibaca tiga kali] – HR Daruquthni: 1277).
3. Di Antara Azan dan Iqamat
Jeda waktu antara azan dan iqamat adalah salah satu waktu berdoa mustajabah yang sangat dianjurkan. Nabi s.a.w. bersabda:
اَلدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ فَادْعُوْا
(Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamat tidak ditolak, maka berdo’alah – HR. Abu Dawud: 437, Turmizi: 196, 3519, Ahmad: 12124, 12878, 13174, 22376, Ibnu Khuzaimah: 425, 426, 427, Ibnu Hibban: 1696).
Lafal lainnya sedikit berbeda, tetapi maknanya sama:
الدعاء بين الأذان والإقامة يستجاب،
(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Do’a antara adzan dan iqamat akan dikabulkan. Maka berdo’alah).
Waktu di antara azan dan iqamat relatif bebas dari ibadah mahdlah spesifik. Oleh karena itu, kita bisa berdoa apa saja yang menjadi kebutuhan mendesak. Tentunya, materi doa tersebut haruslah hal-hal yang baik.
4. Setelah Salat Asar pada Hari Jumat
Waktu setelah salat Asar hingga menjelang Magrib di hari Jumat sering kali digunakan untuk bersantai, rileks, atau menikmati minuman hangat. Aktivitas semacam itu boleh saja dilakukan.
Namun, alangkah bijaknya jika waktu ini dimanfaatkan untuk berdoa. Sebab, momen tersebut merupakan waktu yang sangat istimewa di hari Jumat. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda:
يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ ». يُرِيدُ سَاعَةً « لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah ‘Ashar – HR Abu Dawud: 884, Nasai: 1372).
Wallâhu a’lamu bi ṣawâb
Bersambung
Baca juga: