Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Sana’ dan Shalawat: Kunci Pembuka Pintu Ijabah Doa

Drs. H. Danusiri, M.Ag

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Sana’ dan Shalawat: Kunci Pembuka Pintu Ijabah Doa
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Apakah doa Anda terasa “menggantung” dan tak kunjung diijabah? Sebagai makhluk yang memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa, kita wajib menempatkan tatakrama tertinggi sebagai landasan permohonan.

Setelah membahas sejumlah aturan berdoa pada edisi sebelumnya, kini kita fokus pada satu fondasi kunci yang dapat menjadikan hubungan personal antara pendoa dengan Allah semakin intim, membuka peluang besar bagi terkabulnya doa secara maksimal.

Konteks Doa Formal

Aturan ini berlaku secara formal ketika pendoa duduk khusyuk (taqarrub ilallah) untuk memohon sesuatu. Ini berlaku baik secara individual maupun berjamaah, semisal doa yang dipimpin imam dalam suatu acara takziyah, atau pada pembukaan maupun penutupan acara komunal.

Sebaliknya, ketika berdoa sambil berjalan atau untuk aktivitas harian-seperti mau masuk/keluar kamar kecil, makan, minum, tidur, atau memulai pekerjaan—fondasi ini rasanya tidak perlu. Untuk doa-doa singkat tersebut, fokus langsung pada isi doanya lebih utama, agar praktik doa tidak menjadi rumit.

Fondasi Doa Sesuai Petunjuk Nabi

Fondasi doa yang dimaksud ditunjukkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ مَعَهُ فَلَمَّا جَلَسْتُ بَدَأْتُ بِالثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ ثُمَّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ دَعَوْتُ لِنَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلْ تُعْطَهْ سَلْ تُعْطَهْ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ فَضَالَةَ bْنِ عُبَيْدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ آدَمَ مُخْتَصَرًا

Artinya:

Dari Abdullah, dia berkata, “Saya pernah salat bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan Abu Bakar dan Umar sedang bersamanya. Ketika saya duduk dan mulai memuji kepada Allah serta salawat atas Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian saya berdoa untuk diriku, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Mintalah kepada Allah niscaya kamu akan diberi, mintalah kepada Allah niscaya kamu akan diberi.’” … (HR. Tirmidzi: 541).

Dalam riwayat Nasai: 1267, teks hadis ungkapan keijabahan doa demikian: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّMَ ادْعُ تُجَبْ وَسَلْ تُعْطَ (Nabi Bersabda: “Berdoalah kamu diijabah, mintalah kamu diberi”).

Selanjutnya nas versi Ahmad: 22811 demikian: ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ. (Kemudian bersalawatlah atas Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian hendaklah berdoa sesudah itu menurut kemauanmu).

Fondasi Pertama: Memuji (Sana’) Allah

Fondasi pertama dalam berdoa adalah memuji Allah (sana’). Ini dicontohkan oleh seseorang yang doanya direkomendasikan secara langsung oleh Nabi (hadis taqrir):

سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَددْعُوْ وَهُوَ يَقُوْلُ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِللَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ قَالَ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللهَ بِاِسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دَعَي بِهِ أَجَاَب وَإِذَا سَئَلَ بِهِ أَعْطَى

Artinya:

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar orang yang berdoa dengan mengatakan: (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, Tempat bergantung, Yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya). Kemudian beliau mengatakan: “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia telah meminta dengan nama-Nya yang paling agung, yang apabila Dia dimintai suatu doa maka Dia akan mengabulkan dan apabila diminta dengannya maka Dia akan memberi.” (HR Tirmidzi: 3397, Abu Dawud: 835, 1276, Ibnu Majah: 2847, Ahmad: 21874, 21887, 21963, Ibnu Hibban: 891, 892).

Abu Hurairah mengatakan pengalamannya, ketika berdoa didahului seperti hadis di atas, Rasulullah merespons: وَجَبَتْ فَسَأَلْتَهُ مَاذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ اَلْجَنَّةَ (Wajib baginya. Aku bertanya: “Apa yang wajib bagi dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Surga”) (HR Nasai: 894, 1284).

Fondasi Kedua: Salawat atas Nabi

Fondasi kedua adalah bersalawat atas Nabi. Tanpa salawat, doa kita disebut akan mu’allaq (tertahan). Jadi, penerapannya adalah: memuji Allah, dilanjutkan bersalawat, barulah berdoa.

Rujukan mengenai doa yang tertahan ini adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ سَلْمٍ الْمَصَاحِفِيُّ الْبَلْخِيُّ أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ عَنْ أَبِي قُرَّةَ الْأَسَدِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Daud Sulaiman bin Salmin Al Mashahifi Al Balkhi… dari Umar bin Al Khaththab dia berkata, “Sesungguhnya doa akan terhenti di antara bumi dan langit, ia tidak akan naik sehingga kamu bersalawat kepada Nabimu sallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi: 448)

Setelah dua fondasi ini dipenuhi (pujian dan salawat), barulah doa berpeluang besar diijabah. Sebagaimana penutup hadis (Tirmidzi: 3398) yang merespons orang yang telah berdoa dengan adab tersebut:

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا الْمُصَلِّI ادْعُ تُجَبْ

“kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Wahai orang yang melakukan salat, berdoalah maka akan dikabulkan doamu!’” (HR. Tirmidzi: 3398).

Baca juga:

Etika Berdoa dengan Menyebut Asmaul Husna

Waktu dan Tempat Berdoa Mustajabah

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: