Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Diciptakan dari Cahaya, Tak Punya Hawa Nafsu: Memahami Hakikat Malaikat Menurut Muhammadiyah

Redaksi

Diciptakan dari Cahaya, Tak Punya Hawa Nafsu: Memahami Hakikat Malaikat Menurut Muhammadiyah

Sebagai bagian dari Rukun Iman, percaya kepada malaikat adalah kewajiban mutlak bagi setiap Muslim. Namun, seberapa jauh kita mengenal makhluk Allah SWT yang diciptakan dari cahaya ini? Mereka adalah hamba-hamba mulia yang tak pernah lelah bertasbih, tidak makan, tidak minum, dan tidak memiliki hawa nafsu seperti manusia.

Memahami hakikat mereka secara benar sesuai tuntunan syara’ adalah kunci untuk meluruskan akidah.

Berikut panduan memahami hakikat malaikat yang disarikan dari buku Tanfidz Musyawarah Wilayah Tarjih II-III Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah No 105/KEP/III.0/H/2025.

Hakikat Penciptaan Malaikat

Iman kepada malaikat hukumnya adalah wajib. Mengingkari keberadaan mereka, yang merupakan makhluk gaib ciptaan Allah SWT, dapat menggugurkan iman seseorang.
Berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah atau jin dari api, malaikat diciptakan dari cahaya (nur). Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ – صلَّ الله عليه وسلّم – «خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ أآدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

Artinya: “Malaikat itu diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Muslim).

Sifat-Sifat Khusus Malaikat

Sebagai makhluk yang mulia, malaikat memiliki sifat-sifat khusus yang membedakannya secara total dari manusia. Sifat utama mereka adalah kepatuhan mutlak. Mereka tidak pernah menentang perintah Allah dan selalu mengerjakan apa yang ditugaskan kepada mereka.

لَا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “…mereka (malaikat) tidak pernah menentang perintah Allah, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan (QS. Anbiya’: 26-27) dan senantiasa bertasbih siang dan malam tanpa henti (QS. Al Anbiya: 20).

Berbeda dengan manusia, malaikat tidak memiliki kebutuhan fisik maupun hawa nafsu. Mereka tidak makan dan tidak minum, seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an ketika malaikat mengunjungi Nabi Ibrahim AS dalam wujud tamu (QS. Hud: 70).

Selain itu, malaikat juga tidak menikah, tidak tidur, dan tidak memiliki jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Allah SWT berfirman:

أَصْفَاأآكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِيْنَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلائِكَةِ إِنَاثًا إِنَّكُمْ لَتَقُوْلُوْنَ قَوْلًا عَظِيْمًا

Artinya: “Adakah Tuhanmu telah memilih kamu sekalian sebagai anak laki-laki dan menjadikan anak perempuan kepada para Malaikat? Sesungguhnya kamu telah mengatakan ucapan yang besar (dosanya).” (QS. Al-Isra’: 40).

Secara fisik, Al-Qur’an menjelaskan bahwa malaikat memiliki sayap, baik dua, tiga, empat, atau lebih, sesuai dengan kehendak Allah SWT (QS. Faathir: 1).

Tugas-Tugas Malaikat

Setiap malaikat memiliki kedudukan dan tugas spesifik yang telah ditentukan oleh Allah (QS. Ash-Shaffat: 164). Di antara tugas-tugas tersebut adalah:

  • Memikul ‘Arsy Allah: Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Haqqah: 17, ada delapan malaikat yang menjunjung ‘Arsy Allah pada hari kiamat.
  • Menjadi Utusan (Rasul): Seperti Malaikat Jibril (Ruhul Amin) yang bertugas menyampaikan wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW (QS. Asy-Syu’ara: 193-194), dan Mikail.
  • Mencatat Amal Manusia: Ada malaikat pengawas yang mulia (Kiraman Katibin) yang ditugaskan untuk mengamati serta mencatat segala perbuatan manusia (QS. Infithar: 10-12).

Batasan Pengetahuan Kita

Penting untuk dipahami bahwa kita tidak boleh menggambarkan atau berspekulasi tentang malaikat melebihi apa yang telah diterangkan oleh syara’ (Al-Qur’an dan Hadis).

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

Artinya: “Jangan engkau mengikuti apa-apa yang tidak kamu ketahui, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu kesemuanya akan ditanyai.” (QS. Al-Isra’: 36).

Kita tidak dituntut mengetahui hakikat wujud mereka secara rinci, karena itu termasuk perkara gaib. Hanya para Nabi yang pernah melihat malaikat, baik dalam wujud aslinya (seperti Nabi Muhammad SAW melihat Jibril) ataupun dalam rupa manusia (seperti tamu Nabi Ibrahim dan Nabi Luth).

Adapun jumlah pasti malaikat, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah SWT (QS. Al-Mudatstsir: 31).

Pada intinya, iman kepada malaikat adalah kewajiban yang didasarkan pada dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis). Kita wajib meyakini keberadaan mereka sebagai:

  1. Makhluk gaib yang diciptakan dari cahaya.
  2. Hamba Allah yang mulia dan senantiasa patuh, tidak pernah bermaksiat.
  3. Makhluk yang tidak memiliki sifat kemanusiaan seperti makan, minum, tidur, atau hawa nafsu.
  4. Makhluk yang memiliki tugas-tugas spesifik dari Allah SWT.

Pemahaman kita harus berhenti pada apa yang dijelaskan oleh syara’, tanpa menambah, mengurangi, atau berspekulasi, karena hakikat dan jumlah mereka yang pasti hanyalah Allah SWT yang Maha Mengetahui.

Editor: Adib Abyan
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: