Islam Berkemajuan Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Aksi Nyata di Lingkungan Sendiri
SEMARANG TENGAH,muhammadiyahkotasemarang.org– Sering dengar istilah “Risalah Islam Berkemajuan”? Ternyata, konsep ini bukan cuma slogan besar atau dokumen tebal di Muhammadiyah. Ia adalah pandangan hidup yang harus diwujudkan dalam aksi nyata, dimulai dari lingkungan terdekat kita.
Inilah yang menjadi benang merah utama dalam pengajian hangat yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sekayu, Semarang Tengah, pada Jumat (31/10/25).
Warga dan simpatisan tampak antusias menyimak paparan dari narasumber yang mumpuni di bidangnya.
Yang menarik, pembicaranya adalah Ustaz H. Aulad Muwaffaq, S.Ag., M.Ag. Ia bukan sosok sembarangan; selain menjabat Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Semarang, ia juga seorang Dosen di Institut Teknologi Statistika dan Bisnis (ITESA) Muhammadiyah Semarang.
Kombinasi ini membuatnya pas untuk bicara soal bagaimana gagasan besar bisa “mendarat” di level akar rumput.
Dalam paparannya, Ustaz Aulad menegaskan bahwa Risalah Islam Berkemajuan harus jadi komitmen nyata, bukan sekadar hafalan.
Tiga Pilar Aksi di Tingkat Ranting
Alih-alih bicara teori yang melangit, Ustaz Aulad langsung fokus pada tiga pilar implementasi praktis yang bisa dilakukan warga Ranting, khususnya di Sekayu.
Pertama penguatan ilmu dan literasi : Pilar pertama adalah menjadikan rumah-rumah warga sebagai pusat ilmu. Menurutnya, semangat Tajdid (pembaruan) dan Tauhid yang lurus harus ditegakkan dengan ilmu pengetahuan. Di zaman sekarang, ini berarti melek teknologi dan aktif memerangi kebodohan di sekitar.
Kedua aksi sosial dan pemberdayaan komunitas : Nilai Wasathiyah (moderat) dan Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta) baru terwujud jika warga peka pada masalah sosial. Ini bukan cuma soal ibadah ritual, tapi juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial, peduli pada isu lingkungan, hingga menggerakkan ekonomi skala kecil seperti UMKM untuk kesejahteraan bersama.
Ketiga organisasi yang dinamis : Ranting Muhammadiyah sendiri harus mencerminkan semangat Tajdid. Artinya, organisasi harus dikelola secara profesional, modern, dan adaptif. Ini penting agar persyarikatan tetap relevan dan bisa menarik minat generasi muda untuk ikut berkontribusi.
Fondasi dari Lima Karakteristik Utama
Tiga pilar aksi praktis tersebut, jelas Ustaz Muwaffaq, sebenarnya berakar kuat pada lima karakteristik utama yang menjadi landasan gerak Muhammadiyah.
Lima fondasi filosofis itu adalah: Tauhid yang murni (jauh dari syirik), pemahaman Al-Qur’an dan Sunnah yang mendalam (tapi tetap dinamis), semangat Tajdid (pembaruan) di segala aspek, sikap Wasathiyah (seimbang dan anti-ekstrem), serta tujuan akhir untuk membawa rahmat bagi semesta alam.
“Implementasinya adalah ketika setiap warga berkomitmen untuk menjadi Muslim yang berilmu, disiplin, peduli, dan menjadi pelopor kemajuan di tengah masyarakat,” tutupnya.
Pengajian di PRM Sekayu ini seolah jadi pengingat hangat. Bahwa kemajuan Islam yang sesungguhnya dimulai dari unit terkecil: dari rumah kita, dari lingkungan ranting, dan dari kemauan kita untuk terus belajar dan bergerak memberi solusi.
Kehadiran Dosen ITESA Muhammadiyah Semarang di forum ini juga menjadi bukti nyata komitmen kampus untuk tidak hanya fokus pada teknologi dan bisnis, tetapi juga aktif mengawal dakwah pencerahan di tengah masyarakat.