Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 3 menit baca

Mengapa Gosip Digital Lebih Menakutkan dari Ghibah Biasa?

Drs. H. Nurbini, MSI

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Mengapa Gosip Digital Lebih Menakutkan dari Ghibah Biasa?

Pernahkah kita membuka media sosial dan langsung disambut drama? Sebuah utas viral membongkar aib seseorang, kolom komentar penuh hujatan, atau gerakan massa digital yang ramai-ramai “membatalkan” (cancel culture) atau “menguliti* seorang tokoh publik. Fenomena yang akrab kita sebut “spill the tea” ini terasa seperti hiburan sesaat, padahal tanpa sadar, kita sedang terjerumus dalam praktik yang dilarang keras oleh ajaran Islam: ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).  

Bedanya, kini dosa itu punya kekuatan super. Jika dulu gunjingan hilang ditelan waktu, sekarang ghibah digital jejaknya abadi di dunia maya. Satu unggahan bisa merusak reputasi seseorang selamanya, dan jempol kita telah menjadi lebih tajam dari lidah. Inilah saatnya kita melihat kembali ajaran Islam dengan kacamata yang lebih segar dan relevan untuk zaman ini.  

Dosa Klasik dalam Kemasan Digital

Islam sangat peduli dengan cara kita berbicara. Ghibah didefinisikan sebagai “menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci,” sekalipun itu fakta. Jika yang dibicarakan bohong, dosanya lebih besar lagi, yaitu fitnah. Ada pula namimah, yaitu sengaja menyebar gosip untuk merusak hubungan antarmanusia.  

Al-Qur’an menggambarkan betapa menjijikkannya ghibah dengan perumpamaan memakan daging bangkai saudara sendiri (QS. Al-Hujurat: 12) . Mengapa begitu keras? Karena perbuatan ini menghancurkan fondasi terpenting masyarakat: persaudaraan dan saling percaya.  

Di era media sosial, dosa-dosa ini bermutasi menjadi lebih berbahaya. Ada yang berbentuk “Cancel Culture” yang niatnya mungkin baik, yaitu menuntut keadilan. Namun, praktiknya sering berubah menjadi penghakiman massa yang mengabaikan prinsip verifikasi (tabayyun) dan tidak memberi ruang untuk taubat. Ini adalah bentuk main hakim sendiri secara digital yang bisa menghancurkan kesehatan mental dan kehidupan seseorang .  

Kemudian ada pula fenomena “Spill the Tea” yang mana tren membongkar aib ini bertentangan langsung dengan ajaran mulia untuk menutupi aib saudara (satr al-‘awrat). Padahal, Islam mengajarkan, siapa yang menutupi aib saudaranya di dunia, Allah akan menutupi aibnya di akhirat.  

Menjadi Netizen yang Lebih Bijak

Menghadapi tantangan ini, kita tidak cukup hanya dengan tahu larangannya. Kita butuh sebuah gerakan bersama untuk membangun etika digital yang lebih baik. Ini bukan berarti anti-teknologi, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai luhur.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

  1. Filter Utama: Berkata Baik atau Diam. Sebelum mengetik komentar atau menekan tombol “bagikan”, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan membangun atau justru merusak?” Jika ragu, diam adalah pilihan terbaik. Prinsip sederhana dari Nabi ini adalah filter paling ampuh di dunia digital.  
  2. Budayakan Cek Fakta, Bukan Sebar Gosip. Jangan mudah terpancing judul provokatif. Biasakan untuk memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan. Jadilah bagian dari solusi, bukan penyebar masalah. Perintah untuk verifikasi dalam Al-Qur’an adalah “rem darurat” bagi jempol kita.  
  3. Ingat, Semua Tercatat. Tanamkan kesadaran bahwa setiap ketikan kita diawasi dan akan dimintai pertanggungjawaban. Malaikat pencatat tidak pernah cuti dari memantau linimasa kita (QS. Qaf: 18).  
  4. Fokus pada Solusi, Bukan Sensasi. Daripada menghabiskan energi untuk menghakimi, gunakan media sosial untuk menyebar kebaikan, mendamaikan yang berselisih, dan menawarkan solusi. Mendamaikan orang lain nilainya lebih tinggi dari ibadah sunnah.  

Pada akhirnya, membangun peradaban digital yang berakhlak adalah perjuangan kita di abad ke-21.

Mari mulai dari diri sendiri. Jadikan setiap unggahan dan komentar kita sebagai ladang amal, bukan sebagai dosa jariyah yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada. Inilah esensi menjadi seorang Muslim yang membawa rahmat dan kebaikan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Bca juga:

Jempol Kita, Dosa Kita: Pandangan Tarjih Muhammadiyah Soal Hoax

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: