Wali Allah Versi Muhammadiyah: Bukan Soal Karomah Lahiriah!
S!EMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org– Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. H. Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag., menegaskan bahwa status Wali Allah tidak semata-mata diukur dari keistimewaan atau karomah lahiriah, melainkan pada komitmen teguh terhadap iman dan takwa.
Penegasan ini disampaikan dalam Kajian Kitab Arbain Nawawi yang membahas Hadis ke-38 tentang “Wali Allah” di Masjid At-Taqwa RS Roemani Muhammadiyah, PDM Kota Semarang, pada Kamis malam (6/11/2025).
Kegiatan yang digelar oleh Badan Eksekutif Masjid (BEM) At-Taqwa RS Roemani PDM Kota Semarang dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke-113 ini menarik perhatian jamaah dari berbagai kalangan.
Dr. Hasan Asy’ari, yang juga merupakan Wakil Rektor UIN Walisongo Semarang ini menjelaskan, bahwa pemahaman tentang Wali Allah seringkali bias oleh mitos dan takhayul di tengah masyarakat.
“Wali Allah bukanlah orang yang semata memiliki keistimewaan lahiriah, melainkan mereka yang senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah dalam setiap langkah hidupnya,” tutur Dr. Hasan Asy’ari di hadapan jamaah.
Kajian yang berlangsung usai Salat Magrib hingga Isya tersebut berupaya mengembalikan pemahaman esensial tentang kedekatan hamba dengan Tuhannya sesuai koridor Al-Qur’an dan Sunnah. Pembahasan hadis tersebut dikaitkan secara kontekstual dengan tantangan kehidupan sehari-hari umat Islam di era modern.
Antusiasme jamaah terlihat dari kekhusyukan dan kehadiran jamaah di masjid. Pihak takmir masjid bahkan menyediakan konsumsi untuk para peserta.
Untuk memastikan jangkauan dakwah yang inklusif, kajian ini tidak hanya diselenggarakan secara tatap muka, tetapi juga disiarkan langsung melalui akun Instagram resmi Masjid At-Taqwa RS Roemani (@attaqwa.pdmsmg). Adaptasi digital ini memungkinkan masyarakat luas untuk mengikuti materi secara daring.
BEM Masjid At-Taqwa RS Roemani berharap, melalui kegiatan rutin ini, semangat dakwah di lingkungan Muhammadiyah dapat diperkuat, ukhuwah Islamiyah dipererat, dan kesadaran umat akan pentingnya memahami hadis Rasulullah sebagai pedoman hidup semakin tumbuh.
“Semoga dari kajian ini, kita semakin termotivasi menjadi hamba yang dekat dengan Allah dan menjadikan takwa sebagai gaya hidup,” pungkas Dr. Hasan Asy’ari, menutup sesi kajian malam itu.