Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tak Cukup Cakap Digital, Gen Z Wajib Punya Nasionalisme Kuat

14 November 2025, 09:56 WIB 3 menit baca
Tak Cukup Cakap Digital, Gen Z Wajib Punya Nasionalisme Kuat

TEMBALANG, muhammadiyahsemarangkota.org Cakap digital saja tidak cukup untuk mengantarkan Indonesia Emas 2045. Generasi Z juga dituntut memiliki nasionalisme dan semangat gotong royong yang kuat agar bonus demografi tidak tergerus oleh individualisme dan perpecahan sosial yang lahir dari era digital.

Pesan kunci tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Kamis (13/11/2025). Hadir sebagai narasumber utama anggota Badan Pengurus Harian (BPH) UNIMUS Dr. Hendrar Prihadi, S.E., M.M.

Di hadapan lebih dari 400 mahasiswa, mantan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) RI menyebut digitalisasi sebagai “pisau bermata dua”. “Tren digitalisasi itu seperti pisau bermata dua. Ia bisa memperkuat perekonomian, tapi juga menumbuhkan individualisme dan perpecahan sosial. Maka yang kita butuhkan adalah generasi muda yang tidak hanya cakap digital, tapi juga memiliki semangat gotong royong dan nasionalisme kuat,” ujar Hendi.

Ia menegaskan, kualitas SDM adalah penentu utama keberhasilan Indonesia mengelola bonus demografi.

“Kita harus optimis, karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tapi yang paling penting adalah kualitas sumber daya manusianya. Bonus demografi ini hanya akan menjadi berkah jika kita mampu mengelolanya dengan baik,” tambah pria yang pernah menjabat Wali Kota Semarang dua periode itu.

Hendi juga mengingatkan mahasiswa akan peran historis pemuda sebagai agent of change—sebagaimana peran pemuda dalam sejarah Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga reformasi 1998.

Profesi Ekonomi di Era Digital

Sementara itu, narasumber kedua, akademisi dan praktisi Dr. Yulianti, S.E., S.H., CPA., menyoroti adaptasi profesi ekonomi di era digital.

“Profesi ekonomi dan akuntansi kini sangat bergantung pada literasi digital. Audit sudah berbasis software otomatis, analisis keuangan memakai big data. Artinya, keahlian teknis saja tidak cukup — kalian harus adaptif terhadap perubahan teknologi,” jelas Dr. Yulianti.

Ia secara spesifik mendorong mahasiswa untuk mengambil sertifikasi profesional internasional, seperti CPA, CA, CMA, atau CISA, agar siap bersaing di pasar global. “Anak muda hari ini tidak boleh hanya berpikir lokal. Dunia digital membuat batas negara semakin tipis,” tegasnya.

Sebelumnya, Wakil Rektor I UNIMUS, Prof. Dr. Budi Santosa, saat membuka acara berpesan agar mahasiswa menjadi pengguna teknologi yang bijak, tak sekadar cakap digital.

“Mahasiswa UNIMUS harus menjadi pengguna teknologi yang bijak, bukan korban teknologi. Gunakan ruang digital untuk membangun karya, berbagi pengetahuan, dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan,” tutur Prof. Budi.

Kuliah umum yang dimoderatori Dr. Elma Munear Aditya, S.E., M.Si.Akt. ini dihadiri mahasiswa dari Program Studi S1 Manajemen dan S1 Akuntansi. Acara ditutup dengan komentar dari Dekan FEB, Dr. Andwiani Sinarasri, S.E., M.Si.

“Kegiatan ini adalah bagian dari komitmen FEB UNIMUS untuk membekali mahasiswa dengan wawasan global dan kemampuan berpikir kritis di tengah dunia yang terus berubah,” tutup Dr. Andwiani.

Kontributor: Humas UNIMUS
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: