“Bu, Aku Bantu Apalagi?”
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – “Bu, aku bantu apa lagi?” Pertanyaan polos itu meluncur tiba-tiba dari bibir Azlan. Siswa berusia lima tahun itu menatap gurunya dengan wajah antusias.
Celoteh renyah ini memecah kesibukan pagi di halaman TK ABA 04 Semarang, Selasa (25/11/2025).
Warga sekolah merasakan nuansa berbeda pada Peringatan Hari Guru Nasional kali ini. Sekat formal menghilang, berganti kolaborasi erat antara guru dan murid.
Mereka bahu-membahu menyulap barang bekas menjadi karya seni bernilai. Sebanyak 89 siswa dan 12 guru mengikuti kegiatan ini dengan penuh kasih sayang.
Kepala TK ABA 04, Lutiah, merancang kegiatan ini dengan tujuan mendalam. Ia ingin membangun ikatan emosional yang kuat antara pendidik dan peserta didik.
“Anak-anak, hari ini adalah harinya ibu guru semua,” ujar Lutiah membuka acara dengan hangat.
Ia mengajak guru bermain dengan cara berbeda hari ini. Mereka turun langsung ke halaman untuk berkarya bersama para siswa.
Melatih Imajinasi dan Empati
Suasana haru bercampur ceria mewarnai proses kreatif tersebut. Para guru memberikan instruksi sekaligus mendengarkan imajinasi liar anak-anak.
Duta, siswa berusia 5 tahun dari kelas B3, menunjukkan antusiasme tinggi. Ia mengutarakan idenya kepada sang guru dengan wajah berbinar.
“Bu, ikanku mau saya beri gelembung ya,” pintanya dengan suara mantap. Sang guru pun menyetujui dan memuji ide kreatif tersebut.
Momen ini juga melatih kepekaan sosial siswa. Azlan, teman sekelas Duta, memperlihatkan sikap gotong royong yang menyentuh hati.
“Bu, ikanku sudah selesai, aku bantu apa lagi?” tanya Azlan polos setelah menuntaskan tugasnya.
Tawaran Azlan memicu semangat teman-temannya. Anak-anak lain dalam satu kelompok berebut membantu mewarnai pinggiran gambar.
Literasi Lingkungan Sejak Dini
Pesan edukasi lingkungan yang kuat menyertai keseruan melukis ini. Sekolah memanfaatkan galon bekas sebagai wujud literasi pengelolaan sampah.
Lutiah mengajak anak memanfaatkan barang tak terpakai. Sekolah tidak akan membiarkan galon-galon cantik ini berakhir sebagai pajangan semata.
Mereka akan menggunakan benda tersebut sebagai media tanam. Langkah ini melanjutkan program urban farming di sekolah tersebut.
“Anak-anak belajar mendaur ulang barang untuk menanam sayuran setelahnya,” jelas Lutiah.
Menemukan Bahagia dalam Sederhana
Insiden kecil di lapangan justru menambah warna keceriaan. Tisa, siswa berusia 5 tahun, sempat bingung saat melihat cat di galonnya meleleh.
Namun, teman-temannya sigap memberikan semangat dan bantuan. Suasana riuh rendah ini membuktikan keberhasilan guru melatih kepedulian siswa.
Guru memandang momen saling bantu ini dengan tatapan haru. Aktivitas sederhana ini ternyata mampu merekatkan hati mereka semua.
Mereka menutup momentum Hari Guru Nasional dengan melukis kenangan manis tentang makna “Guru Hebat Indonesia Kuat”.
Baca juga : Rayakan Hari Guru Anti-Mainstream Dari Tumpeng hingga Impersonate