Siswa Sekolah Lansia Muntilan Magelang Pukau Peserta Capacity Building PDM Kota Semarang
MAGELANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang, Sabtu (29/11/25) pagi, belasan perempuan paruh baya berdiri tegak. Di antara mereka, Lin (73 tahun) memegang seperangkat angklung dengan genggaman mantap. Kerutan di wajah rentanya tak mampu menyembunyikan binar mata yang penuh semangat. Sementara tangannya yang sudah matang begitu terampil memetik nada-nada bambu.
Setiap denting angklung yang mereka mainkan laksana sebuah pernyataan lantang dari Paguyuban Lansia Menayu: bahwa usia senja adalah panggung untuk terus berkarya. Mereka adalah murid-murid bersemangat dari Sekolah Lansia yang membuktikan, hidup baru dimulai setelah usia tujuh puluh.
Sekolah Senja, Panen Karya
Kelompok angklung ini bukan sekadar paguyuban biasa. Mereka adalah cerminan semangat yang dipupuk dengan sistematis.
Awalnya, Desa Menayu telah menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara Lomba Posyandu Lansia Tingkat Kabupaten Magelang pada 2023. Hadiah dari kemenangan itu kemudian mereka wujudkan menjadi seperangkat angklung, alat yang secara filosofis merepresentasikan kebersamaan dan kerja tim.
“Angklung itu kebersamaan. Kami jadi lebih produktif, rasanya seperti anak muda lagi, padahal sudah lansia,” ungkap Lin salah satu anggota yang kini aktif di berbagai pementasan.
Di balik penampilan yang memukau, para senior ini adalah alumni sekaligus murid aktif dari Sekolah Lansia, sebuah program unggulan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Muntilan, PDM Kabupaten Magelang.
Sekolah ini menyediakan ruang edukasi dan penguatan mental bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun. Melalui delapan kali pertemuan, lengkap dengan sesi outbound dan wisuda, program ini berhasil mengembalikan rasa percaya diri dan makna hidup.
Sekolah Lansia bukan sekadar tempat belajar, melainkan sebuah transformasi. Ia mengubah pandangan bahwa masa tua identik dengan keterbatasan menjadi masa yang penuh potensi.
Nada Bambu yang Menghapus Batas
Kiprah Paguyuban Lansia Menayu melampaui pentas desa. Mereka kini menjadi langganan undangan di berbagai acara formal Pemkab Magelang, tampil di panggung Hari Anak Nasional, Hari Ibu, hingga Hari Keluarga.
Penampilan mereka selalu menjadi sorotan, bukan hanya karena keahlian musikalnya, tetapi karena energi yang dipancarkan. Mereka memadukan kearifan lokal alat musik Sunda, semangat Jawa, dan energi hidup yang tak lekang dimakan usia.
Dalam setiap nada yang dipetik, terkandung pesan yang mendalam. Mereka menunjukkan bahwa fungsi kognitif dan motorik bisa tetap tajam berkat kegiatan yang melibatkan kebersamaan, fokus, dan kreativitas. Bermain angklung adalah terapi, sementara mengikuti Sekolah Lansia adalah investasi mental.
“Meskipun sudah lansia, kami ingin terus semangat dan memanfaatkan sisa usia untuk hal bermanfaat. Kami ingin menjadi contoh bahwa masa tua bukan untuk berdiam diri,” ujar seorang peserta dengan mata yang penuh tekad.
Semangat inilah yang menjadi materi unggulan dalam acara Capacity Building Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang di PDM Kabupaten Magelang. Program pemberdayaan lansia di Magelang, khususnya melalui Sekolah Lansia, telah menjadi model yang layak dipelajari dan direplikasi.
Delegasi 100 lebih peserta dari 31 elemen majelis,lembaga dan organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah Semarang ini datang untuk mencari tahu, bagaimana PDM Kabupaten Magelang bisa menciptakan ekosistem pemberdayaan lansia yang sedemikian berhasil. Bermula dari Posyandu, berkembang menjadi Sekolah Lansia, dan berujung pada panggung seni seperti yang disajikan oleh Ibu dan kawan-kawan.
Paguyuban Lansia Menayu bukan hanya membuktikan bahwa usia senja bisa produktif. Mereka adalah bukti nyata bahwa ketika masyarakat sipil, seperti Muhammadiyah dan Aisyiyah, bersinergi dengan kelompok akar rumput, perubahan sosial yang positif akan tercipta. Mereka adalah juara sejati, di panggung posyandu maupun di panggung kehidupan.
Baca juga:
Majelis dan Lembaga PDM yang ‘Tertidur’ Diminta Bangkit Lewat Capacity Buiding ke Magelang