Bahaya Menyimpan Rahasia dalam Rumah Tangga, Sebuah Kisah Nyata
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Pernahkah membayangkan sebuah pernikahan yang hancur hanya karena pasangan enggan bicara jujur? Fenomena “diam” yang dianggap emas, ternyata bisa menjadi bom waktu dalam kehidupan rumah tangga. Isu krusial inilah yang menjadi sorotan utama dalam agenda terbaru Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Podorejo.
Bertempat di Semarang, PRM Podorejo kembali menggelar Kajian Samara pada Jumat (28/11/2025). Mengangkat tema besar Urgensi Komunikasi Pasutri, acara ini menghadirkan Mudir Muhammadiyah Boarding School Mijen, Ustadz Kholid Winandar, S.Ag., sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Ustadz Kholid tidak sekadar menyampaikan teori. Ia menegaskan bahwa komunikasi suami istri adalah fondasi paling vital, bahkan menjadi bukti nyata dari sebuah komitmen pernikahan. Tanpa obrolan yang nyaman, rumah tangga ibarat berjalan dalam lorong gelap.
“Komunikasi yang baik bisa mendatangkan kebahagiaan, sebaliknya komunikasi buruk menjadikan kebuntuan yang berakibat ketidakbahagiaan,” tegas Ustadz Kholid di hadapan jamaah.
Bahaya Menyimpan Rahasia
Sebuah kisah nyata yang cukup menohok disampaikan oleh Ustadz Kholid sebagai peringatan. Ada pasangan yang telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 19 tahun, namun sang suami selalu menutup diri. Setiap kali ditanya istri, jawabannya selalu “tidak ada apa-apa”.
Siapa sangka, ketidakterbukaan itu berujung petaka. Tiba-tiba, rumah mereka didatangi penagih utang. Sang istri terperanjat saat mengetahui total utang suaminya mencapai miliaran rupiah. Nilai yang fantastis itu bahkan tak akan tertutup meski seluruh aset rumah dan tanah mereka dijual.
Kasus di atas menjadi contoh ekstrem akibat buruknya pola komunikasi. Ustadz Kholid menekankan bahwa kerahasiaan sepihak adalah racun bagi keharmonisan.
“Keputusan yang hanya diketahui suami saja atau istri saja, maka akan berpengaruh buruk dalam rumah tangga,” ingatnya kepada para peserta kajian.
Segala keputusan dalam pernikahan kini sejatinya menjadi keputusan komunal atau bersama, bukan lagi keputusan personal. Sekecil apa pun masalahnya, keterbukaan adalah kunci keselamatan keluarga.
Seni Mengelola Konflik Rumah Tangga
Dalam sesi Kajian Samara tersebut, dijelaskan pula bahwa roda kehidupan pasti berputar. Ada kalanya pasangan berada di puncak kebahagiaan finansial, namun ada masanya terpuruk atau sakit. Ini adalah sunnatullah yang tak bisa dihindari, sebagaimana tersirat dalam QS. Ali Imran ayat 140.
Untuk menghadapi perguliran nasib tersebut, tips keluarga harmonis yang paling ampuh adalah adaptasi lewat bicara. Pasangan yang komunikatif akan lebih mudah menemukan solusi yang dipahami kedua belah pihak, sehingga beban masalah terasa lebih ringan.
“Sikap yang harus ditanamkan sejak awal adalah ridho terhadap takdir jodoh, sehingga kita tidak menyalahkan masa lalu saat menghadapi masalah,” imbuhnya mengingatkan pentingnya penerimaan pasangan.
Ustadz Kholid juga mengambil inspirasi dari sosok tabi’in, Syuraih Al-Qadhi. Konon, beliau tidak pernah bertengkar dengan istrinya selama 20 tahun. Rahasianya sederhana: sejak malam pertama, mereka sudah duduk bersama untuk saling memetakan apa yang disukai dan tidak disukai.
“Karena menikah itu untuk membahagiakan pasangan, bukan memanfaatkan, apalagi menyakitinya,” tutur Ustadz Kholid mengutip esensi pernikahan Syuraih.
Membangun Surga di Rumah Sendiri
Pada akhirnya, tujuan menikah adalah mencari ketenangan atau sakinah. Ustadz Kholid mengingatkan kembali kisah Nabi Adam AS. Meski tinggal di surga dengan segala kemewahannya, Nabi Adam baru merasakan ketenangan sejati setelah Hawa diciptakan sebagai teman bicaranya.
Acara yang diinisiasi oleh PRM Podorejo ini diharapkan mampu menyadarkan para jamaah bahwa komunikasi suami istri bukan sekadar rutinitas. Ia adalah jembatan hati yang menyatukan dua kepala, dua latar belakang, dan dua budaya yang berbeda.
Mulailah bicara dari hati ke hati hari ini. Jangan biarkan pasangan menebak-nebak isi pikiranmu, karena kebahagiaan rumah tangga dimulai dari keberanian untuk saling terbuka dan jujur.
Baca juga : Lindungi Rumah Tangga dari Dusta dan Aib