Ketika Gelap Terganti Terang: Kisah 100 Mata dan Harapan Baru di Milad Kedua RS Unimus
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org –Di layar monitor beresolusi tinggi itu, bola mata pasien tampak begitu detail. Di sekelilingnya, tim dokter dengan jubah hijau steril bekerja dalam hening yang penuh konsentrasi, dipandu oleh teknologi canggih yang menjadi perpanjangan tangan mereka. Di ruangan inilah, di bawah komando Direktur Rumah Sakit Univesitas Muhammadiyah Semarang (RS Unimus) dr. M. Riza Setiawan, MOSH, FISQua, takdir seratus orang sedang diubah: dari samar menjadi terang, dari keterbatasan menuju kemandirian.
Sabtu pagi (6/12/2025) menjadi perayaan ulang tahun atau milad kedua bagi rumah sakit Universitas Muhammadiyah Semarang itu. RS Unimus merayakannya dengan cara yang luar biasa: menyalakan kembali cahaya terang di 100 pasang mata buram penderita katarak melalui aksi sosial operasi katarak massal.
Para pasien katarak yang telah lolos tahap penyaringan itu berkumpul dengan satu harapan sederhana: melihat kembali wajah orang-orang terkasih dengan jelas. Kegiatan operasi katarak massal ini menjadi “kado” istimewa hasil kolaborasi RS Unimus, PT Sido Muncul, dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).
Menjahit Kembali Harapan yang Koyak
Salah satu momen paling menyentuh terekam saat para pasien berdiri berjejer dengan perban putih menutupi satu sisi mata mereka. Meski pandangan fisik mereka sementara tertutup, wajah mereka memancarkan kelegaan.

Mereka berdiri berdampingan dengan tokoh yang memungkinkan hal ini terjadi: Presiden Direktur PT Sido Muncul Dr. (HC) Irwan Hidayat (baju putih), Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, FISCM, Sp.M(K) (batik oranye) dari PERDAMI dan dr. M. Riza Setiawan, MOSH, FISQua (batik biru) selaku tuan rumah. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd dan Mendikdasmen RI, Prof. Abdul Mu’ti, M.Ed yang juga merupakan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah.
Bagi Irwan Hidayat, langkah ini adalah manifestasi dari prinsip hidup yang ia pegang sejak lama. Dengan suara teduh, ia menuturkan bahwa bisnis bukan sekadar untung rugi. “Setiap langkah bisnis harus memuat nilai peduli kepada manusia, lingkungan, dan tanah air,” ujarnya berbagi kisah perjalanan kemanusiaan yang telah ia tempuh sejak awal tahun 2000-an.
Di sisi lain rumah sakit, bentuk kepedulian yang berbeda juga tengah berlangsung. Para Pekerja Sosial Masyarakat (PSM)—sosok-sosok yang biasanya sibuk mengurus orang lain—kali ini menjadi pihak yang diurus. RS Unimus memberikan apresiasi berupa pemeriksaan rontgen thorax gratis bagi mereka. Pesannya jelas: mereka yang menjaga kehidupan orang lain, kini saatnya dijaga kesehatannya.
Saharsa: Oase Holistik di Dalam Rumah Sakit
Di tengah hiruk pikuk pelayanan medis modern, RS Unimus juga menghadirkan sebuah terobosan yang menenangkan melalui kehadiran Saharsa.
Saharsa bukan hanya fasilitas tambahan, melainkan sebuah klinik perawatan holistik dan integratif yang secara strategis ditempatkan di dalam lingkungan RS UNIMUS. Keberadaannya di jantung rumah sakit memberikan pesan kuat: kesembuhan bukan hanya soal membedah fisik, tapi juga merawat jiwa dan keseimbangan tubuh.
Di klinik ini, pasien diajak kembali ke alam melalui perpaduan pengobatan tradisional Tiongkok, terapi herbal medis, psikologi klinis, hingga akupuntur yang ditangani langsung oleh dokter spesialis.
Saharsa menjadi oase pemulihan di mana “alam dan ilmu bersalaman di tengah keheningan,” menawarkan keseimbangan bagi jiwa dan raga yang lelah di tengah lingkungan rumah sakit yang modern.
Pusat Kanker Holistik pertama di Semarang
Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., dalam sambutannya meneguhkan arah besar RS Unimus sebagai rumah sakit yang terus berinovasi. Pusat Kanker Holistik pertama di Semarang yang dibangun RS Unimus akan diperkuat sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat.
“Inovasi yang kita bangun hari ini adalah investasi untuk kesehatan umat,” ujarnya.
Sebagai nakhoda rumah sakit, dr. M. Riza Setiawan memastikan bahwa inovasi tersebut, termasuk layanan fertilitas berstandar internasional hasil kemitraan dengan Sunway Fertility Center Malaysia, dapat berjalan beriringan dengan misi sosial Muhammadiyah.
Pernyataan ini diperkuat oleh Prof. Abdul Mu’ti. Sang Menteri mengingatkan bahwa esensi rumah sakit melampaui gedung fisik dan peralatan canggih. “Rumah sakit harus mampu memberikan harapan dan menginspirasi perubahan,” tandasnya.
Dua tahun mungkin usia yang muda belia bagi sebuah institusi. Namun, seperti cahaya yang perlahan menyusup masuk ke retina pasien pasca-operasi, RS Unimus telah membuktikan bahwa usia bukan halangan untuk menebar manfaat.
Melalui kegiatan sosial, layanan unggulan, dan inovasi yang terus dirawat, RS Unimus semakin mempertegas dirinya sebagai rumah sakit Muhammadiyah yang siap menjadi cahaya bagi masyarakat Indonesia.
Baca juga: