Healing Berpahala ala Jamaah Baitul Iman, Cara Unik Rekatkan Jamaah
KARTASURA, muhammadiyahsemarangkota.org- Belajar agama seringkali identik dengan duduk bersila mendengarkan ceramah di bawah kubah masjid. Namun, Rihlah Masjid Baitul Iman Semarang membuktikan bahwa ilmu dan keakraban justru bisa tumbuh subur di suasana yang berbeda.
Pada Ahad (14/12/25), menjadi momen istimewa bagi sekitar 84 jamaah. Mereka tidak menuju mimbar masjid seperti biasa, melainkan bergerak bersama menuju Kartasura, tepatnya di kediaman Bapak Mugiyanto.
Perjalanan ini bukan sekadar wisata biasa. Ini adalah sebuah upaya sadar untuk meruntuhkan rasa jenuh sekaligus merawat ukhuwah Islamiyah yang selama ini terjalin.
Energi Baru dari Suasana Baru
Rutinitas seringkali menjadi musuh tak terlihat dalam semangat beribadah. Menyadari hal ini, pengurus masjid berinisiatif menggelar kegiatan silaturahmi jamaah yang dikemas dalam bentuk rihlah. Tujuannya sederhana namun berdampak besar: penyegaran.
Suwito, sosok yang memegang kendali sebagai koordinator kegiatan, mengungkapkan bahwa langkah ini adalah ikhtiar untuk menjaga nyala semangat jamaah. Ia melihat bahwa kekompakan jamaah masjid yang selama ini dikenal guyub dan rukun, perlu terus “disiram” dengan aktivitas yang menyenangkan.
“Kami ingin jamaah merasakan suasana berbeda supaya tidak jenuh. Harapannya, setelah ini mereka makin istiqamah meramaikan pengajian rutin dan aktif di berbagai kegiatan masjid lainnya,” ujar Suwito dengan antusias.
Kantin Subuh: Dari Umat untuk Umat
Ada sisi menarik dari pendanaan acara ini. Kegiatan yang sarat makna ini tidak membebani anggaran besar secara sepihak, melainkan hasil dari gotong royong melalui kas Kantin Subuh dan infak jamaah.
Hal ini menunjukkan kemandirian ekonomi umat di lingkungan Masjid Baitul Iman. Dari segelas teh atau sarapan pagi di Kantin Subuh, lahir sebuah kegiatan wisata religi produktif yang membahagiakan puluhan orang.
Dakwah yang Mengalir Cair
Di tengah suasana santai Kartasura, nilai spiritual tetap menjadi hidangan utama. Ustadz Imam Sumarno hadir memberikan tausiyah yang menyejukkan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Imam juga menyisipkan ajakan persuasif bagi jamaah yang belum bergabung secara resmi di Muhammadiyah.
Ia mendorong mereka untuk segera mendaftarkan diri, bukan sekadar untuk menambah angka anggota, melainkan agar bisa berkontribusi lebih nyata dalam gerakan dakwah yang terorganisir.
Healing yang Bernilai Ibadah
Bagi para peserta, rihlah ini memberikan definisi baru tentang “healing”. Ibu Tatik Budiati, salah satu jamaah yang ikut serta, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Baginya, acara ini adalah paket komplit.
“Rihlah ini bisa jadi healing sederhana buat kami. Sekali jalan, kami dapat senangnya karena jalan-jalan, dapat eratnya silaturahmi, dan pastinya tetap dapat ilmunya,” ungkap Ibu Tatik.
Respons positif ini menjadi bukti bahwa pendekatan dakwah yang humanis sangat dibutuhkan di era modern. Masjid Baitul Iman Semarang berhasil menunjukkan bahwa menjaga iman tidak melulu harus kaku.
Melalui tawa, perjalanan, dan diskusi ringan di luar masjid, ikatan persaudaraan justru semakin kuat. Sebuah pesan tersirat bahwa di mana pun kakinya berpijak, hati seorang mukmin akan selalu terpaut satu sama lain dalam kebaikan.
Baca juga : Majelis dan Lembaga PDM yang ‘Tertidur’ Diminta Bangkit Lewat Capacity Buiding ke Magelang