Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Inspirasi Subuh: KH Musman Tholib & Estafet Iman di Masjid Raya Candi Lama

17 Desember 2025, 07:58 WIB 3 menit baca
KH Musman Tholib mengajar kajian tafsir di depan siswa SD di Masjid Raya Candi Lama Semarang

CANDISARI, muhammadiyahsemarangkota.org – Udara fajar di kawasan Candi Lama masih menyisakan gigil yang menusuk tulang. Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.20 WIB, namun cahaya lampu di dalam Masjid Raya Candi Lama Semarang sudah berpendar hangat, memantul pada ubin abu-abu yang dingin.

Di depan mihrab, duduk seorang pria bersahaja dengan wibawa yang melampaui usianya. Drs. KH Musman Tholib, M.Ag., masih tegak meski angka di kalender hidupnya telah menyentuh 81 tahun. Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah ini bukan sekadar duduk untuk berceramah; ia sedang merawat sebuah janji setia pada ilmu yang telah diembannya puluhan tahun.

Namun, ada yang tak biasa pada Rabu pagi tadi (17/12/2025).

Jika biasanya barisan shaf hanya diisi oleh pundak-pundak lelah para lansia dan orang dewasa, pagi ini pemandangan berubah drastis. Ada riuh rendah yang tertahan, gerakan-gerakan kecil yang gelisah namun santun, dan mata-mata bulat yang jernih. Serombongan anak-anak Sekolah Dasar (SD) hadir di sana, duduk bersila membentuk barisan rapi.

Mereka adalah “fajar” yang datang menemui “senja”.

Suara yang Tak Pernah Lelah

KH Musman Tholib membuka kitabnya, mengurai bait demi bait Tafsir Surat Yasin ayat 21-25. Suaranya, meski tak lagi selantang masa muda, memiliki resonansi yang dalam—jenis suara yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah tuntas dengan urusan dunia.

Bagi Kyai Musman, mengajar di usia kepala delapan adalah bentuk syukur yang konkret. Sesekali, tatapannya menyapu barisan bocah-bocah di depannya. Beliau seolah sadar, di hadapannya bukan sekadar pendengar, melainkan para pemegang tongkat estafet masa depan.

Dalam tafsirnya, Kyai Musman menyelipkan pesan yang sederhana agar bisa dicerna oleh telinga-telinga kecil itu. Ia menekankan pentingnya mengikuti teladan orang-orang shalih, persis seperti tokoh dalam Surat Yasin yang beliau bahas.

“Kajian pagi ini terasa sangat berbeda dan lebih mengharukan,” bisik salah satu jamaah tetap yang matanya tampak berkaca-kaca. “Kehadiran anak-anak SD ini seperti memberi nafas baru. Pemandangan yang langka sekaligus membanggakan.”

Momen Puncak: Cium Tangan sang Guru

Puncak emosional dari pertemuan dua generasi ini terjadi sesaat setelah doa penutup dilantunkan. Begitu kajian usai, barisan anak-anak SD tersebut tidak langsung berhamburan keluar. Dengan tertib, satu per satu dari mereka mendekat ke arah Kyai Musman.

Tangan-tangan kecil yang halus itu meraih jemari tua sang Kyai yang sudah mulai keriput namun tetap kokoh. Mereka membungkuk takzim, mencium tangan beliau sebagai tanda hormat (tabarruk) kepada sang pewaris ilmu.

Kyai Musman menyambutnya dengan senyum teduh. Di sana, di antara ubin masjid yang mulai menghangat oleh matahari yang akan terbit, sebuah estafet iman baru saja terjadi tanpa perlu banyak kata. Antara keriput di wajah sang Kyai dan pipi kemerahan para siswa, ada sebuah jembatan nilai yang sedang dipatri rapat-rapat.

Masjid Raya Candi Lama Semarang pagi tadi bukan sekadar tempat transfer ilmu tafsir, melainkan saksi bisu bagaimana sebuah keteladanan mengalir dari senja yang istiqomah menuju fajar yang penuh harapan.

Baca juga:

“Serasa di Mekkah”: Kisah Haru dari Pesantren Lansia Masjid At-Taqwa Ngaliyan

Kontributor: Muhammad Fahim Ahsani (Tim Media Masjid Raya Candi Lama)
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: