Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Canggih! Begini Rasanya Siswa SD Tembus Galaksi di Planetarium UIN Walisongo

18 Desember 2025, 19:13 WIB 2 menit baca
Rombongan siswa SD Muhammadiyah Pus dalam kegiatan fieldtrip ke Planetarium UIN Walisongo

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Cahaya di dalam ruangan perlahan meredup. Suasana yang semula riuh dengan celoteh khas anak-anak, mendadak senyap. Di atas kepala mereka, sebuah kubah raksasa berdiameter 18 meter mulai memancarkan keajaiban. Bukan sekadar layar biasa, ini adalah teknologi nanosame yang dipadukan dengan digital projector kualitas 4K, menghadirkan simulasi langit yang nyaris sempurna.

Pagi itu, 77 siswa kelas 6 SD Muhammadiyah Plus Semarang sedang tidak berada di bangku kelas biasa. Mereka tengah berada di dalam Planetarium UIN Walisongo, sebuah fasilitas yang menyandang predikat sebagai planetarium universitas terbesar ketiga di dunia.

Begitu teknologi Digistar 6 diaktifkan, decak kagum pecah. Suara dentum luar angkasa terasa begitu nyata berkat sistem 4.0 Dolby Surround yang menggelegar di ruangan berkapasitas 190 kursi tersebut. Para siswa diajak “terbang” meninggalkan bumi, melintasi sabuk asteroid, hingga menyapa planet-planet di tata surya dengan ketajaman visual yang luar biasa.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Plus Semarang, Wahyu Haspri Nur Taryanti, S.Pd., mengungkapkan bahwa pemilihan destinasi ini bukan tanpa alasan. Keunggulan gedung yang menggabungkan fungsi observatorium dan planetarium ini menjadi kunci.

“Kami ingin anak-anak memiliki cakrawala berpikir yang luas. Dengan melihat langsung simulasi alam semesta, mereka tidak hanya belajar sains, tapi juga mengagumi kebesaran Sang Pencipta melalui keteraturan tata surya kita,” ujar Wahyu di sela-sela kegiatan.

Planetarium UIN Walisongo Picu Nalar Kritis Siswa

Selama penjelajahan di bawah kubah mutakhir tersebut, ke-77 siswa didampingi oleh 6 guru pendamping. Indah Susi Irianti, S.Pd., selaku koordinator fieldtrip, menjelaskan bahwa kemegahan teknologi ini sangat efektif memicu nalar kritis siswa.

“Anak-anak sangat antusias. Tadi ada yang bertanya tentang bagaimana lubang hitam terbentuk hingga jarak antar bintang. Inilah tujuan kami, memicu nalar kritis mereka,” tutur Ibu Indah.

Keberadaan Planetarium UIN Walisongo di Semarang memberikan kesempatan langka bagi siswa untuk mengakses edukasi astronomi kelas dunia. Di sini, batas antara ruang kelas dan jagat raya seolah melebur, membuktikan bahwa teknologi terbaik dunia kini hadir di depan mata mereka untuk membuka gerbang ilmu pengetahuan.

Saat lampu ruangan kembali menyala, binar di mata para siswa tidak ikut padam. Meski petualangan telah usai, mereka pulang membawa kebanggaan dan impian baru yang mungkin kini setinggi bintang-bintang yang baru saja mereka “kunjungi”.

Baca juga:

Jelajahi “Jawa Tengah Mini”: Pilihan Wisata Edukasi Semarang ala SD Muhammadiyah Plus

Kontributor: Kiki Romansyah (SD Muhammadiyah Plus)
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: