Belajar di Luar Kelas: Serunya Siswa SD MUHATEN Susuri Stasiun Tawang hingga Ngrombo
SEMARANG UTARA, muhammadiyahsemarangkota.org– Aroma besi tua dan hembusan angin dari arah laut utara menyambut puluhan siswa SD Muhammadiyah 10 Semarang (MUHATEN) pada Kamis siang, 18 Desember 2025. Di bawah kubah raksasa Stasiun Semarang Tawang yang ikonik, para siswa ini bersiap memulai petualangan bertajuk Belajar di Luar Kelas.
Perjalanan edukatif ini dimulai sejak dari gerbang sekolah. Dengan penuh keceriaan, mereka menaiki kereta odong-odong menuju stasiun, sebuah awal yang santai namun penuh makna untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan rasa ingin tahu.
Stasiun Tawang sendiri, yang berdiri sejak 1864, bukan sekadar titik keberangkatan; tempat ini dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran langsung tentang transportasi publik, tata tertib perjalanan, serta etika di ruang publik.
Belajar di Luar Kelas: Tanamkan Karakter dan Kemandirian
Kepala SD Muhammadiyah 10 Semarang, H. Suwarno, S.Psi, S.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan Belajar di Luar Kelas merupakan bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka. Program ini menekankan pada pembelajaran bermakna yang berpusat pada pengalaman nyata siswa serta dirancang khusus untuk melatih kemandirian dan kedisiplinan sejak dini.
“Anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari lingkungan sekitar. Mereka belajar bersosialisasi, disiplin waktu, serta mengenal fasilitas umum secara langsung,” ujarnya.
Di sela keriuhan peron, seorang siswa tampak merapikan tas punggungnya dengan saksama. “Tadi kata Ibu Guru, kita harus antre dan tidak boleh lari-lari di stasiun karena banyak orang lain yang mau naik kereta juga,” ucapnya polos dengan mata berbinar. Kutipan kecil ini mencerminkan bagaimana nilai kemandirian mulai tumbuh dalam diri mereka.
Perjalanan Menuju Timur
Tepat pukul 12.00 WIB, mereka mulai menempuh rute menuju Stasiun Ngrombo, Grobogan. Di dalam gerbong, tidak ada meja atau papan tulis, namun pelajaran mengalir deras.
Mereka belajar menghargai waktu keberangkatan dan menjaga ketenangan di ruang publik. Jendela kereta menjadi layar hidup yang menampilkan bentang alam, memicu diskusi-diskusi kecil yang hangat di antara para siswa.
Kepulangan mereka ke Semarang sekitar pukul 19.00 WIB menandai berakhirnya petualangan hari itu. Namun, memori tentang derit rel dan pelajaran tentang etika di fasilitas umum akan tetap melekat.
Program Belajar di Luar Kelas ini membuktikan bahwa pendidikan terbaik seringkali ditemukan di luar empat dinding kelas, di mana kemandirian dan kedisiplinan dipraktikkan secara nyata di bawah bimbingan guru yang penuh kasih.
Baca juga:
Canggih! Begini Rasanya Siswa SD Tembus Galaksi di Planetarium UIN Walisongo