Lantunan Al-Quran Komandan Kokam Menjadi Kado Syahdu untuk Sang Ibu
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Di bawah langit Semarang yang mulai menyengat, tiba-tiba waktu seolah berhenti berputar. Tak ada lagi gelak tawa peserta jalan sehat, tak ada lagi bunyi musik pengiring tarian. Hanya ada satu suara yang begitu bening, merambat naik ke angkasa, lalu turun kembali memeluk hati puluhan ribu orang yang memadati halaman Balaikota Semarang, Ahad (21/12/2025).
Pagi itu, perayaan Milad ke-113 Muhammadiyah mencapai puncak emosinya. Di tengah antusiasme 20 ribu warga yang menanti undian paket umrah, muncul seorang pria dengan seragam doreng Kokam lengkap dengan baret merahnya. Namun, ia bukan datang untuk memberikan komando baris-berbaris. Ia datang membawakan “pesan langit” melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an yang begitu khusyuk.
Sentuhan Al-Qur’an dan Bakti untuk Sang Ibu
Momen syahdu ini terasa kian bermakna karena bertepatan dengan suasana menjelang Hari Ibu. Sosok di balik suara emas itu adalah Yuliansyah Masyar, Komandan Kokam Kota Semarang.
Baginya, kemampuan melantunkan ayat suci bukanlah bakat yang turun tiba-tiba, melainkan buah dari didikan lingkungan keluarga dan kasih sayang ibu yang mengenalkannya pada Al-Qur’an sejak dini.
Pria yang tinggal di Medoho Permai ini mengenang masa kecilnya yang kental dengan nuansa religius. Dari bangku TK ABA hingga SD Muhammadiyah, telinganya sudah terbiasa dengan harmoni adzan dan tilawah.
“Alhamdulillah, dari kecil sudah terbiasa dengan lingkungan ngaji. Dari TK ABA 33, SD Muhammadiyah, hingga lingkungan rumah… Setiap hari telinga ini akrab dengan bacaan Al-Qur’an dan adzan,” ungkap Yuliansyah dengan rendah hati.
Keindahan suaranya hari itu seolah menjadi kado tak berwujud bagi seluruh ibu yang hadir di lokasi. Sebuah bukti bahwa ketegasan seorang prajurit Kokam bisa bersanding mesra dengan kelembutan spiritual.
Dedikasi Tanpa Pamrih dalam Milad Muhammadiyah 113
Perjalanan Yuliansyah menuju tampuk pimpinan Kokam Semarang pun penuh dengan perjuangan panjang. Bergabung sejak 2021, ia meniti karir dari bawah melalui berbagai jenjang kaderisasi.
Baginya, berada di panggung Milad Muhammadiyah 113 bukan tentang pamer suara, melainkan tentang pengabdian total kepada organisasi yang telah membesarkannya.
Filosofi hidupnya sangat sederhana namun mendalam: memberikan yang terbaik tanpa mengharap imbal balik. Hal ini terpancar dari bagaimana ia memimpin anggota Kokam lainnya dalam misi kemanusiaan maupun pelestarian lingkungan di Kota Semarang.
“Yang kami pikirkan bukan apa yang kami dapatkan, tapi apa yang bisa kami berikan. Khairunnas anfa‘uhum linnas. Bagaimana menghidup-hidupi Muhammadiyah untuk meraih ridha-Nya,” tegasnya saat diwawancarai.
Lantunan Al-Qur’an Yuliansyah hari itu memberikan pesan kuat bagi peserta Milad. Di balik seragam doreng yang nampak keras, tersimpan hati yang lembut dan jiwa yang terpaut pada Sang Pencipta.
Pertemuan antara semangat sehat dalam jalan santai dan ketenangan batin lewat tilawah menjadi pengingat bahwa di Muhammadiyah, raga dan jiwa dibangun bersama-sama.
Ketika acara berakhir, banyak warga yang masih terkesan. Bukan hanya soal hadiah umrah yang mereka bawa pulang, tapi soal getaran suara dari panggung yang mengingatkan mereka kembali pada keindahan kalam Ilahi sebuah refleksi kasih sayang, seperti kasih seorang ibu yang tak pernah lekang oleh waktu.