Tangis Haru, Persembahan Gelar Guru Besar untuk Sang Ayah Berusia Satu Abad
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Suasana khidmat menyelimuti Balairung Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) pada Selasa (30/12/2025). Di tengah prosesi pengukuhan tiga guru besar baru, pandangan ratusan pasang mata tertuju pada sosok perempuan hebat, Prof. Dr. Listyaning Sumardiyani, M.Hum. Momen bersejarah ini tidak hanya menjadi capaian akademik tertinggi baginya, tetapi juga menjadi catatan manis sebagai Guru Besar perempuan pertama dari kalangan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Semarang.
Riuh tepuk tangan seketika berubah menjadi keheningan yang menyentuh saat sang profesor menutup pidatonya dengan sebuah penghormatan emosional. Di hadapan para kolega, Listyaning menyapa sang ayah yang kini usianya hampir menginjak 100 tahun. Meski raga tak lagi muda, sang ayah tetap hadir menyaksikan langsung putrinya mencapai puncak karir akademik sebagai pakar metode pembelajaran Bahasa Inggris.
Redefinisi Pembelajaran Bahasa Inggris di Era Kecerdasan Buatan
Dalam orasinya, Listyaning membedah tantangan pendidikan masa depan melalui penelitian berjudul “Redefinisi Pembelajaran Bahasa Inggris: Kecerdasan AI dan Teknologi dalam Pembelajaran Pedagogik yang Berpusat pada Manusia”.
Ia menyoroti bagaimana digitalisasi dalam dua dekade terakhir merombak total cara manusia memproduksi dan memaknai pengetahuan.
Baginya, Bahasa Inggris bukan lagi sekadar mata pelajaran sekolah, melainkan kunci untuk berpartisipasi dalam wacana global yang kini dikuasai kecerdasan buatan (AI).
Listyaning menekankan bahwa teknologi seharusnya tidak menghilangkan peran manusia dalam kelas. Ia mendorong konsep Communicative Language Teaching yang berfokus pada kemampuan berkomunikasi secara bermakna, bukan sekadar menghafal struktur bahasa.
Transformasi digital ini menuntut para pendidik untuk tetap memegang teguh nilai etis dan pedagogis meski teknologi terus berkembang pesat.
Cinta Ayah dan Teladan Ekonomi Keluarga sebagai Bahan Bakar Semangat
Capaian Listyaning sebagai Guru Besar UPGRIS merupakan buah dari ketekunan yang luar biasa.
Di sela kesibukannya menjabat sebagai Wakil Ketua PDA Kota Semarang bidang MPK dan LPPA, ia membuktikan bahwa peran aktif dalam organisasi sosial tidak menghambat prestasi akademik.
Namun, bagi Listyaning, seluruh gelar mentereng ini berakar dari didikan sederhana sang ayah di masa lalu.
Air mata Listyaning pecah saat menceritakan bagaimana sang bapak mengajarkannya kemandirian ekonomi sejak dini.
Ia masih mengingat jelas teladan tentang ketekunan dan kasih sayang yang sang ayah tanamkan hingga ia mampu berdiri tegak di podium kehormatan tersebut.
Gelar guru besar ini menjadi kado terindah bagi keluarga besar, suami, anak, serta menantunya.
“Matur nuwun bapak sudah membesarkan dan mengantarkan saya sampai seperti sekarang ini. Saya masih ingat bapak mengajarkan saya, memberi ruang kepada saya untuk memproduksi ekonomi keluarga. Terima kasih atas teladannya untuk selalu tekun, kasih sayang, dan peduli kepada sesama,” tutur Prof. Listyaning dengan nada suara yang bergetar menahan haru.
Kisah Prof. Listyaning Sumardiyani memberikan pesan mendalam bahwa kesuksesan seorang perempuan adalah hasil dari doa yang tak putus dan semangat belajar yang tak pernah padam.
Keberhasilannya menjadi motivasi besar bagi seluruh kader Aisyiyah dan kaum perempuan di Semarang bahwa menembus batas akademik adalah hal yang mungkin, selama kita tetap memiliki hati yang membumi dan hormat kepada orang tua.