Tragedi yang Terlupakan: Saat Kematian Datang Tanpa Ketukan
MIJEN, muhammadiyahsemarangkota.org – Potret keceriaan yang seketika berubah menjadi puing dan jenazah menjadi tamparan keras bagi jamaah di Semarang. Dr. KH. Fachrur Rozi M.Ag menegaskan pentingnya muhasabah diri setiap saat karena ajal datang tanpa melihat kalender maupun usia.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang ini menyampaikan pesan tersebut dalam kajian Kalam Ahad Pagi. PCM Mijen Semarang menyelenggarakan acara ini di Masjid Jami’ Jatisari pada Ahad (04/01/26).
Yai Rozi ini mengingatkan bahwa manusia sering kali terlena oleh dua nikmat yang menipu. Dua nikmat tersebut adalah kesehatan dan waktu luang atau kesempatan.
Melalui muhasabah diri, jamaah menyadari bahwa setiap detik yang berlalu justru membawa manusia melangkah lebih dekat menuju kematian. “Mati pasti terjadi dan tidak ada yang tahu kapan datangnya,” tegas Yai Rozi di hadapan ratusan jamaah.
Visualisasi Maut yang Mendadak
Kajian Islam ini menyoroti realita pahit melalui ilustrasi foto warga yang berlari sambil tertawa. Namun, maut menyapu mereka dalam sekejap tanpa sempat bersiap.
Gambar sampah yang bercampur dengan jenazah manusia menjadi bukti otentik keganasan maut. Ia menekankan bahwa maut bisa datang saat manusia sedang berada di puncak kesenangan.
Yai Rozi menjelaskan bahwa ada tiga hal yang mengikuti mayit ke kubur. Tiga hal tersebut adalah keluarga, harta, dan amalnya.
Namun, melalui muhasabah diri, setiap orang harus paham bahwa hanya satu hal yang akan menetap selamanya. Keluarga dan harta pada akhirnya akan pulang meninggalkan mayit sendirian.
“Keluarga dan hartanya pulang, dan yang tetap ikut adalah amalnya,” ujar Ketua PDM Kota Semarang tersebut saat mengutip hadits riwayat Bukhari Muslim. Ia mengajak jamaah menggunakan akal untuk merenungi hakikat umur yang terus berkurang.
Hakikat Penuaan dan Bekal Amal
Allah mengembalikan fisik manusia ke titik awal kejadian yang lemah seiring bertambahnya usia. Kondisi ini menjadi sinyal agar manusia segera memperbanyak tabungan akhirat.
Yai Rozi mendorong setiap individu untuk segera melakukan muhasabah diri. Ia meminta jamaah mengumpulkan bekal amal shaleh sebagai persiapan terbaik sebelum raga tak lagi berdaya.
Ia menekankan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia di hadapan Allah SWT. Setiap amal baik, sekecil apa pun bentuknya, pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal.
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, ia akan melihat balasannya,” pungkas Kyai Rozi menyitir ayat dari QS. Al-Zalzalah. Pesan ini menjadi pengingat kuat bagi warga Mijen tentang pertanggungjawaban abadi.
Komitmen Perubahan di Awal Tahun
Persiapan terbaik menurut Yai Rozi adalah dengan selalu berbuat baik di setiap kesempatan yang ada. Ia mengingatkan kembali kisah-kisah inspiratif tentang ketulusan beramal sebagai bekal sejati.
Kajian oleh PCM Mijen ini menutup rangkaian evaluasi dengan harapan agar jamaah lebih konsisten melakukan muhasabah diri. Dengan begitu, setiap individu memiliki kesiapan mental dan spiritual yang matang kapan pun ajal datang menjemput.
Baca juga : Rahasia Umur Berkah di Tahun 2026, Jangan Tunda Ibadah Walau Sedikit!