Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tahun Baru 2026, Benarkah Usia Kita Bertambah atau Justru Mendekati Garis Finish

7 Januari 2026, 16:01 WIB 2 menit baca
Foto sebuah lilin menyala di atas kue kecil dengan latar belakang layar monitor yang menampilkan angka jam digital 12:00, melambangkan momen pergantian tahun sebagai pengingat waktu yang terus berjalan
Detik yang berharga: Angka 12:00 bukan sekadar tanda dimulainya tahun 2026, melainkan 'alarm' spiritual bahwa jatah waktu hidup di dunia terus berkurang. Dalam khutbahnya, Ustaz H. M. Parwoto mengingatkan jamaah untuk menjadikan momen ini sebagai ruang evaluasi diri (muhasabah) atas empat pertanggungjawaban besar di akhirat kelak

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pergantian kalender menuju tahun 2026 sering kali memicu euforia dan tumpukan rencana duniawi yang menggiurkan bagi banyak orang. Namun, di balik keriuhan perayaan tersebut, tersimpan fakta tak terbantahkan bahwa setiap detik yang terlewati sebenarnya terus mengikis jatah waktu hidup kita di dunia.

Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam khutbah Jumat yang khidmat di Masjid Wonodri, Semarang Selatan, Jumat (02/01/2026). Ustaz H. M. Parwoto, S.Pd., mengajak jamaah untuk mengenali kembali jati diri melalui konsep Makrifatun Nās atau pengenalan hakikat manusia, sekaligus mengingatkan bahwa kalender bukanlah sekadar penambah usia, melainkan alarm bahwa “garis finish” kehidupan kini semakin dekat.

Empat Pertanggungjawaban Besar di Pintu Keabadian

Memasuki fase hidup yang baru, setiap mukmin dituntut untuk lebih teliti dalam memeriksa “saldo” amal salehnya. Ustaz H. M. Parwoto menekankan bahwa masa muda, harta, ilmu, dan keseluruhan usia bukanlah sekadar fasilitas hidup, melainkan amanah besar yang menunggu rincian pertanggungjawabannya di hari kiamat kelak.

Ia mendorong jamaah untuk mengisi waktu dengan ketaatan yang tulus, baik saat berada di ruang publik maupun ketika tidak ada satu pun mata manusia yang melihat.

Baginya, takwa yang sejati tercermin dari kesadaran bahwa setiap detak jantung dan aktivitas sekecil apa pun sedang terekam dengan akurat dalam catatan langit. “Tahun boleh bertambah, tetapi hakikat sejatinya usia kita berkurang.

Karena finish kita akan semakin dekat dengan kematian,” tegas Ustaz H. M. Parwoto saat memberikan peringatan keras mengenai urgensi muhasabah diri.

Menjemput Husnul Khatimah dengan Kecerdasan Spiritual

Mengakhiri perjalanan hidup dalam keadaan terbaik atau husnul khatimah tentu menjadi impian setiap insan. Oleh karena itu, refleksi awal tahun ini harus menjadi momentum membuang jauh gaya hidup berlebihan yang melampaui batas syariat.

Eksponen pendidik ini menjelaskan bahwa kecerdasan sejati seorang hamba tidak terletak pada banyaknya harta yang terkumpul. Sebaliknya, kecerdasan itu diukur dari seberapa tangkas ia memanfaatkan masa mudanya untuk mendekat kepada Sang Pencipta.

Setiap detik adalah investasi, dan setiap amal adalah bekal untuk memasuki pintu keabadian yang sesungguhnya. Dengan menata kembali niat di awal tahun ini, kita sedang membangun jembatan kokoh menuju kebahagiaan akhirat.

Mari jadikan tahun 2026 sebagai garis start untuk berlari lebih cepat dalam meraih rida Allah SWT.

Kontributor: Syafii Media Masjid Assalam
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: