Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Begini Rangkaian Acara Aqiqah Sesuai Tuntunan Tarjih Muhammadiyah

Drs. H. Nurbini, MSI

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Begini Rangkaian Acara Aqiqah Sesuai Tuntunan Tarjih Muhammadiyah

Momen kelahiran buah hati adalah kebahagiaan tak terkira. Salah satu cara bersyukur adalah dengan aqiqah. Tapi, bagaimana rangkaian acara syukuran aqiqah yang sesuai dengan spirit tajdid (pembaharuan) yang diusung Muhammadiyah?

Simak panduan ringan dan praktis ala Tarjih berikut agar aqiqah kita berkah dan sesuai sunnah, tanpa perlu ritual yang memberatkan!

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah memberikan panduan aqiqah cara Muhammadiyah yang menekankan pada inti ajaran, yaitu syukur, berbagi, dan doa, sambil menghindari ritual yang tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam (bid’ah).

Penting diketahui, panduan ini disusun berdasarkan hasil kajian mendalam Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rujukannya bersumber dari Himpunan Putusan Tarjih (HPT), hasil Muktamar/Munas Tarjih, Buku Tanya Jawab Agama, serta merujuk pada kompilasi fikih ulama terkemuka seperti Fiqh Sunnah.

Lalu bagaimana rangkaian acara tasyakur aqiqah yang simpel tapi penuh makna menurut Tarjih Muhammadiyah? Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Pembukaan: Fokus pada Hakikat Syukur

    Acara dibuka dengan santai oleh seorang pembawa acara (MC).

    Salam dan Sambutan: MC cukup mengucapkan salam dan menjelaskan tujuan utama acara. Intinya adalah mengucapkan syukur atas kelahiran anak, berbagi makanan dari hasil penyembelihan aqiqah, dan mendoakan kebaikan bagi bayi yang baru lahir.

    Tanpa Ritual Baku: Ini poin pentingnya. Tarjih Muhammadiyah tidak menetapkan adanya ritual khusus di awal acara, seperti tahlilan, doa bersama dengan lafal tertentu yang dianggap baku, atau “selamatan” yang dianggap sebagai syarat sah. Acara ini murni hanya sarana tasyakur (bersyukur) dan silaturahmi.

    2. Tilawah Al-Qur’an (Hanya Tambahan Kebaikan)

    Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia. Dalam acara tasyakur, tilawah boleh dilakukan, tapi statusnya hanya opsional dan bukan bagian wajib dari rangkaian aqiqah itu sendiri.

      Bukan Syarat Khusus: Tarjih tidak mewajibkan membaca surat tertentu yang dianggap sebagai amalan khusus akikah.

      Ayat yang Dianjurkan: Jika ingin dilakukan, pilihlah ayat yang relevan dengan keluarga dan pendidikan anak, misalnya: Surah Luqman ayat 12–19 (tentang nasihat mendidik anak), Surah Maryam, atau ayat tentang memohon keturunan yang baik.

      Ingat: Lakukan tanpa menganggapnya sebagai “ritual sakral” yang harus ada agar aqiqah sah. Ini adalah ibadah ghairu mahdhah (kebaikan umum) yang bisa dilakukan kapan saja.

      3. Sambutan Tuan Rumah: Ringkas, Padat, dan Berdalil

      Saatnya orang tua menyapa para tamu. Isi sambutan harus sesuai dengan tuntunan sunnah:

        Ungkapan Syukur: Awali dengan memuji Allah atas karunia anak.

        Pemberitahuan Aqiqah: Sampaikan bahwa penyembelihan akikah telah dilaksanakan sesuai sunnah (2 kambing untuk laki-laki, 1 kambing untuk perempuan).

        Permohonan Doa: Mohon doa dari para hadirin untuk kebaikan anak, agar menjadi saleh/salihah.

        Penegasan Tujuan: Tekankan sekali lagi bahwa acara ini adalah wujud syukur dan ajang silaturahmi, bukan ritual khusus yang menambah-nambahi syariat.

        4. Tausiyah Singkat: Menguatkan Makna Aqiqah

        Inilah inti dari pengajian tasyakur. Ustad atau penceramah hendaknya menyampaikan materi yang sesuai dengan semangat Tarjih, yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah:

          a. Makna Hakiki Aqiqah

          Sunnah Mu’akkadah: Jelaskan bahwa aqiqah adalah syariat yang sangat dianjurkan.

          Ketentuan Hewan: Ingatkan kembali tentang jumlah hewan sesuai sunnah (2 ekor kambing untuk anak laki-laki, 1 ekor untuk anak perempuan).

          Waktu Penyembelihan: Hari ke-7 kelahiran adalah yang utama.

          b. Tanggung Jawab Sejati Orang Tua

          Setelah aqiqah, fokus utama adalah pendidikan anak. Materi yang relevan adalah: Mendidik tauhid yang lurus, mendidik akhlak yang mulia, dan menjadi teladan yang baik dalam beribadah.

          c. Anjuran Memberi Nama Baik

          Ingatkan orang tua untuk memberi nama yang baik. Hadits Nabi menyebutkan: “Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.”

          d. Hindari Praktik yang Tidak Berdalil

          Ustad perlu menegaskan untuk menghindari praktik-praktik yang tidak diajarkan dalam Islam yang sering disangka bagian dari aqiqah (seperti ritual “air berkah”, tepung tawar, jimat, atau doa baku tertentu).

          Kuncinya: Fokus pada yang mashru’ (disyariatkan), tinggalkan yang ghairu mashru’.

          5. Doa Penutup: Bebas dan Tulus

          Dalam Tarjih Muhammadiyah, doa penutup bersifat bebas dan tidak terpaku pada lafal khusus yang dianggap baku. Yang penting, isinya tulus.

            Isi Doa yang Dianjurkan: Memohon agar anak menjadi keturunan yang saleh/salihah, memohon kesehatan dan keberkahan bagi keluarga, serta memohon keberkahan bagi para tamu.

            Doa ini dapat dipimpin oleh ustad atau penceramah atau bahkan oleh tuan rumah sendiri.

            Inti dari rangkaian acara tasyakur akikah versi Tarjih Muhammadiyah adalah kemudahan (taysir) dan kembali kepada kemurnian ajaran (tajdid). Acara ini adalah sarana untuk bersyukur, berbagi daging aqiqah kepada sesama, dan memohon doa kebaikan, tanpa perlu terbebani oleh ritual-ritual tambahan.

            Semoga aqiqah buah hati kita berjalan lancar, penuh berkah, dan sesuai dengan tuntunan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam!

            Baca juga:

            Tuntunan Bacaan Sholat Menurut Pemahaman Muhammadiyah

            Editor: Agung S Bakti
            Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
            Bagikan: