Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Dari Zabur hingga Al-Qur’an: Memahami Makna dan Fondasi Iman kepada Kitab Allah

Redaktur

Dari Zabur hingga Al-Qur’an: Memahami Makna dan Fondasi Iman kepada Kitab Allah
Screenshot

Beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu rukun dan fondasi utama akidah Islam. Keyakinan ini bukan sekadar pengakuan lisan bahwa Allah pernah menurunkan kitab, tetapi memiliki makna yang lebih dalam tentang bagaimana kita memandang petunjuk Allah yang diturunkan kepada para Rasul-Nya.

Semua kitab suci yang diturunkan, mulai dari Zabur, Taurat, Injil, hingga Al-Qur’an, membawa satu pesan inti yang sama: Tauhid atau mengesakan Allah.

Berikut adalah penjelasan mengenai Iman kepada Kitab Allah yang disarikan dari buku Tanfidz Musyawarah Wilayah Tarjih II-III Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah No 105/KEP/III.0/H/2025.

Esensi Diturunkannya Kitab Suci

Kita wajib percaya bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada Rasul-Nya untuk memperbaiki urusan dunia dan agama manusia.

Kitab-kitab ini adalah sumber hidayah (petunjuk) agar manusia dapat mengetahui ajaran ubudiyah (penghambaan), ibadah, muamalah, dan akhlak.

Secara ubudiyah, seluruh kitab suci memiliki ajaran yang sama, yaitu mengesakan Allah. Semua nabi, dari Nabi Adam as. sampai Nabi Muhammad saw., diutus untuk memperkenalkan Tuhan yang wajib disembah, yaitu Allah Yang Maha Esa.

Kesalahan dalam pokok ubudiyah ini berakibat fatal, yaitu kafir atau musyrik, dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.

Adapun perbedaan antara syariat satu nabi dengan nabi lainnya umumnya hanya pada persoalan cabang (furu’) dalam ibadah, bukan pada pokok keimanan (aqidah).

Kitab-Kitab yang Wajib Diimani

Meskipun setiap rasul membawa hukum syariat, tidak semuanya diberikan kitab suci. Di antara kitab-kitab Allah yang wajib kita imani ialah:

  1. Kitab Zabur
    Diturunkan kepada Nabi Dawud as.

و َءَاتَيْنَا دَاو مدَ ز َبمور ً ا

Artinya: “Dan aku telah memberikan kitab Zabur kepada Nabi Dawud.” (Nisa’:136)

  1. Kitab Taurat
    Diturunkan kepada Nabi Musa as. Kebenaran kitab ini salah satunya ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, di mana Rasulullah saw. berdialog dengan ulama Yahudi dan membenarkan adanya hukum rajam untuk pezina di dalam kitab Taurat.
  2. Kitab Injil
    Diturunkan kepada Nabi ‘Isa as.

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dan sesudah mereka itu Aku susulkan Isa bin Maryam untuk membenarkan kitab Taurat yang ada sebelumnya. Dan ia Ku-beri kitab Injil berisi petunjuk dan cahaya…..” (Maidah: 46)

  1. Kitab Al-Qur’an
    Diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., penutup sekalian nabi. Al-Qur’an adalah firman Allah dan kitab terakhir yang menjadi mukjizat sepanjang masa. Isinya mencakup ajaran ubudiyah, ibadah, muamalah, akhlak, kisah umat terdahulu, apa yang akan terjadi di masa depan, gambaran surga dan neraka, serta ayat-ayat kauniyah.

اينَ ى نَ َ ْن م نَز ىلْنَا عَلَيْك َ القمر ْ أآن َ تَنز ْ ييْلاً

Artinya: “Sungguh aku telah menurunkan Qur’an, dengan sebenar-benarnya kepadamu (Muhammad)”. (QS. Al-Insan: 23).

Sebagai kitab terakhir, Al-Qur’an dijaga keasliannya oleh Allah. Manusia dan jin tidak akan pernah mampu membuat tandingan yang serupa dengan Al-Qur’an (QS. Al-Isra: 88).

Perbedaan Kitab dan Suhuf

Selain kitab-kitab tersebut, Allah juga menurunkan suhuf (jamak dari shahifah, artinya lembaran). Ini adalah wahyu yang berbentuk lembaran-lembaran terpisah. Di antaranya adalah suhuf yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa as. (QS. Al-A’la: 18-19).

Fondasi Akidah: Harus Qat’i, Bukan Zhanni
Catatan penting dalam beriman adalah bahwa perkara akidah (keyakinan) harus dibangun di atas dalil yang pasti (qat’i), bukan dalil yang bersifat zhanni (praduga atau dugaan kuat).
Iman adalah keyakinan pasti yang menentukan status seseorang (mukmin, kafir, munafik) dan memiliki implikasi hukum fikih yang besar di dunia (seperti perwalian, pernikahan, dan waris).
Oleh karena itu, dalil akidah harus:

  1. Qat’i al-wurud: Pasti sumbernya, tidak diragukan lagi, yakni Al-Qur’an dan Hadis Mutawatir.
  2. Qat’i ad-dilalah: Pasti maknanya, bermakna tunggal dan tidak bisa ditafsirkan dengan makna lain.

Dalil zhanni (seperti hadis ahad) tidak digunakan sebagai hujah independen untuk menetapkan akidah. Hadis ahad dalam akidah hanya berfungsi sebagai penguat atau perinci atas nas-nas yang sudah qat’i (seperti Hadis Jibril tentang Islam, iman, dan ihsan).

Sebagaimana firman Allah:

وَمَا يَتَّبِعُ اَكْثَرُهُمْ اِلَّا ظَنًّاۗ اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِمَا يَفْعَلُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (Surat Yunus: 36).

Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah meyakini sepenuhnya bahwa Allah telah menurunkan petunjuk-Nya kepada para rasul untuk membimbing manusia. Bagi umat Islam, keyakinan ini berpuncak pada Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang dijaga keasliannya, yang wajib didasarkan pada dalil-dalil yang pasti (qat’i) untuk menjaga kemurnian akidah dari keraguan.

Baca juga :

Diciptakan dari Cahaya, Tak Punya Hawa Nafsu: Memahami Hakikat Malaikat Menurut Muhammadiyah

Editor: Adib Abyan Alb
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: