Salat, sebuah ritual ibadah yang sering dipahami sebagai interaksi vertikal antara hamba dan Tuhannya, ternyata menyimpan dimensi dialogis yang jauh lebih dalam.
Hakikatnya, salat tidak hanya menjadi wujud komunikasi dengan Yang Maha Kuasa, tetapi juga jembatan penghubung antarumat manusia. Bahkan, salat mampu menghadirkan dialog tauhid, menyatukan realitas mikro dan makrokosmos ke dalam satu kesatuan esensial.
Bagaimana salat dapat menjadi manifestasi tauhid? Pertama-tama, mari kita pahami bahwa Islam adalah agama tauhid, yang arti literalnya adalah penyatuan, bukan kesatuan. Ini mengandung pengertian aktif, di mana orang beriman secara sadar dan aktif meyakini bahwa Allah itu Satu, meskipun Dia memiliki 99 nama atau lebih.
Secara umum, umat Islam meyakini bahwa al-asmā’ al-ḥusna—nama-nama baik Allah—berjumlah 99. Namun, sebuah hadis sahih menunjukkan adanya nama lain: al-Witr.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ ححَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ»
Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: Allah memiliki 99 nama, siapa yang menjaganya pasti masuk surga. Allah itu ganjil (esa), dan menyukai bilangan yang ganjil (HR. Bukhari: 593, Muslim: 4835).
Hadis ini secara gamblang menyebutkan 99 nama, tetapi kemudian Allah menyebut diri-Nya al-Witr, sebuah nama yang justru sangat Dia sukai. Secara kuantitas, ini mengisyaratkan bahwa nama atau sifat Allah bisa berjumlah 100.
Selain itu, teks hadis lain juga menyebutkan ad-Dahr—yang secara literal berarti ‘waktu’—juga merupakan nama Allah.
Simak hadis berikut: لاَ يَسُبُّ أَحَدُكُمُ الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ (Janganlah seseorang di antara kalian mencela ad-Dahr karena sesungguhnya Allah adalah ad-Dahr (HR. Muslim: 4169, Ahmad: 8774, 9972, 10074, 21510, 21601). Secara praktis ad-Dahr sinonim dengan waktu. Simaklah hadis qudsi berkualitas sahih berikut:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسسُبُّوْا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ أَنَا الدَّهْرُ الْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي لِي أَجَدِّدُهَا وَأُبَلِّيْهَا وَآُتِي بِمَلُوْكٍ بَعْدَ مَلُوْكٍ
Artinya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla adalah Masa, Dia berfirman: ‘Aku adalah Masa. Siang dan malam adalah milik-Ku, Aku perbaharui dan Aku pergilirkan. Aku datangkan para raja setelah para raja (HR. Ahmad: 10034).
Dari dua hadis terakhir, dapat disimpulkan bahwa jumlah nama Allah ada 101. Penting untuk dipahami, nama-nama ini bukanlah oknum atau unsur, melainkan dimensi.
Untuk mempermudah pemahaman, penulis dapat menganalogikannya dengan tokoh pewayangan Arjuna yang memiliki banyak nama, seperti Dananjaya, Janoko, Pandu Putra, Siwil, Parta, Kumbang Ali-ali, Begawan Mintaraga, Begawan Cipto Ning, dan Prabu Kalithi. Namun, semua nama itu merujuk pada satu figur yang sama. Begitu pula dengan 101 nama Allah yang merujuk pada satu Entitas saja, yaitu Allah.
Dia menyebut diri-Nya Ahad, tetapi nama-Nya banyak. Bahkan, seluruh dimensi realitas—mencakup mikrokosmos maupun makrokosmos—pada hakikatnya adalah Satu. Inilah hakikat tauhid sejati. Al-Qur’an (QS. al-Hadid/57: 3) menyebutnya Huwal Awwalu wal Akhiru. Huwa Zhâhiru wal bâthinu (“Dia yang Awal dan yang Akhir, Yang Lahir dan yang Batin”). Dia adalah Transendensi (jauh di atas alam fisik) sekaligus Imanensi (berada di dalam alam fisik). Ini berarti, apa pun yang terjadi di dunia ini, hanya karena kuasa Allah. Inilah makna dari kalimat “Lā ḥaula walā quwwata illā billāh” (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).
Satu serpih dimensi realitas ini dapat dilihat dari kegiatan salat. Hakikatnya adalah berdialog, baik secara vertikal kepada Tuhan, maupun horizontal antar sesama muṣalli (orang yang salat). Dialog horizontal ini tampak jelas. Ketika imam mengomando jamaah dengan kalimat “Sami’allāhu liman ḥamidah” (Allah pasti mendengar orang yang memuji-Nya), makmum tunduk dan patuh dengan memuji-Nya: “Rabbanā walakal ḥamdu” (Ya Tuhan kami, bagi-Mu lah segala puji).
Selain itu, di akhir salat, setiap orang saling mendoakan satu sama lain—baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Doa ini memohon keselamatan, kasih sayang, dan berkah dengan rumusan “Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.”
Doa ini bukan hanya ditujukan untuk jamaah di sisi kanan dan kiri, melainkan juga untuk seluruh saudara seiman hingga ke penjuru bumi. Mengapa? Karena dalam salat, umat Islam menghadap kiblat. Domisili penduduk bumi melingkar dalam radius kecil di sekitar Ka’bah hingga meluas dalam cakupan halaqah (lingkaran) dunia. Inilah sebabnya umat Islam menghadap ke berbagai arah—timur, barat, selatan, utara—saat salat.
Jadi, kesimpulan akhirnya, salat dapat dinyatakan sebagai tindakan berdialog dan bertauhid, baik secara mikrokosmos maupun makrokosmos. Salat adalah jembatan yang menghubungkan dimensi-dimensi ini, menyatukan manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan sesamanya dalam satu kesadaran yang utuh.