Kaidah ushuliyah menyatakan: kullu ‘ammin mukhaṣṣiṣ, setiap yang umum pasti ada pengkhususannya. Dalam ranah keislaman, Nabi Muhammad ﷺ adalah pengecualian paripurna (akhaṣṣul akhaṣ), sosok al-insanul kâmil yang tak terbandingkan (insânun lâ kal basyâr). Ketidakumuman beliau termanifestasi dalam sifat-sifat khas dan mukjizat yang tak dimiliki manusia lain.
Ambil contoh, ketika seorang perempuan menyerahkan diri untuk menjadi istri dan Nabi menerimanya, perempuan itu otomatis menjadi istrinya (QS. al-Ahzab: 50), tanpa proses khitbah dan ijab qabul yang lazim. Kisah Maimunah binti al-Hariṡ yang menyerahkan diri melalui Abbas, lalu diterima Rasulullah dengan mahar 400 dirham, adalah bukti nyata kekhususan tersebut.
Lantas, bagaimana dengan urusan zikir? Secara umum, ajaran zikir dianjurkan secara rahasia (bilkhafi) atau tanpa suara. Pengecualian yang paling mencolok dan diyakini adalah zikir bersuara (biljahri), seperti dalam takbiran pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha.
Namun, menariknya, dasar pelaksanaan takbiran yang disuarakan keras ini terhitung lemah jika ditelusuri ke sunah Nabi. Rujukan utamanya berasal dari perbuatan sahabat, yakni Ibnu Umar.
Simak dua riwayat berikut yang sering dijadikan landasan:
Riwayat Asy-Syafi’i:
مُسْنَدْ الشَافِعِي ٣١٧: أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَيِ مُحَمَّدْ بِنْ عِجْلَانِ، عَنْ نَافِعْ عَنْ اِبْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ «إِذَا غَدَا إِلَى الْمُصَلَّى يَوْمَ الْعِيْدِ كَبَّرَ فَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ»
(Artinya: Musnad Syafi’i 317: Ibrahim bin Muhammad menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ajlan menceritakan kepadaku dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa ia apabila berangkat ke tempat shalat pada hari raya selalu bertakbir, ia mengeraskan suaranya saat mengucapkan takbir.)
Riwayat Imam Daruquthni:
عَنْ اِبْنِ عُمَرَ , «أَنَّهُ كَانَ إِذَا غَدَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ يِجْهَرُ بِالتَّكْبِيْرِ حَتَّى يَأْتِي الْمُصَلَّى ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِي اَلْإِمَامُ»
(Dari Ibnu Umar, “Bahwa jika berangkat pada hari Idul Adha dan Idul Fitri dia mengeraskan takbir hingga datang ke mushalla. Kemudian bertakbir hingga imam datang [HR. Daruquthni: 1700]).
Kedua hadis di atas, tegasnya, bukanlah tuntunan langsung dari Nabi Muhammad ﷺ, melainkan hanya perbuatan Ibnu Umar. Secara teknis, kedua riwayat ini berstatus hadis mursal, yakni sanadnya berhenti pada sahabat dan tidak sampai kepada Rasulullah. Kedudukannya sebagai hujah beragama termasuk lemah.
Bahkan, terdapat catatan teknis periwayatan dalam Musnad Syafi’i: antara Imam Syafi’i dan Muhammad bin Ibrahim bukan merupakan hubungan guru dan murid dalam periwayatan hadis, yang menjadikannya berstatus hadis mu’qaṭhi’ (sanadnya terputus). Dalam kategori mayor, hadis riwayat Imam Syafi’i ini tergolong lemah.
Julukan naṣîrul ḩadîṡ (penolong hadis) yang diberikan kepada beliau, ironisnya, bermakna beliau memasukkan hadis-hadis lemah dalam naskah kitab hadis musnadnya. Akibatnya, derajat kitab Musnad Syafi’i cukup rendah di kalangan kitab-kitab himpunan hadis utama.
Mengapa tradisi takbiran menjelang Idulfitri maupun Iduladha bisa begitu semarak, dimeriahkan takbir keliling, bahkan diiringi musik?
Jawabannya: ia adalah tradisi. Dalam tradisi, pembenarannya kerap dicari-cari meskipun tidak sepenuhnya “klik” dengan dalil yang kuat.
Dalil yang dianggap menguatkan pelaksanaan takbiran Idulfitri antara lain adalah:
… وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. [البقرة (2): 185]
(… dan supaya kamu menyempurnakan bilangannya dan supaya kamu agungkan kebesaran Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan padamu dan supaya kamu bersyukur. . . [QS. al-Baqarah: 185]).
Ayat ini memang secara tekstual menganjurkan bertakbir setelah selesai puasa Ramadan (mulai dari salat magrib). Akan tetapi, perintah ini tidak disertai penjelasan apakah harus dilakukan bilkhafi (tidak bersuara) atau biljahri (bersuara) dalam bertakbir.
Dasar kedua adalah potongan ayat: Fastabiqûl khairât (Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan [QS. al-Maidah: 48]).
Ayat ini berlaku secara umum, artinya berlomba dalam kebaikan tidak hanya terkhusus pada takbir lebaran. Ada pula yang menyebutkan riwayat Bukhari tentang kaifiyah takbir Ibnu Umar yang disebut sebagai hadis mu’allaq (salah satu bentuk hadis lemah):
وَلِمَا ذَكَرَهُ اْلبُخَارِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَ ابْنِ عُمَرَ تَعْلِيْقًا أَنَّهَا كَانَا يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوْقِ أَيَّامَ اْلعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَ يُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيْرِهِمَا
(Beralasan pada yang diriwayatkan imam al-Bukhari dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar (tanpa sanad) bahwa keduanya pergi ke pasar pada hari kesepuluh sambil membaca takbir dan orang-orang mengikuti takbir mereka).
Penulis telah mengecek riwayat ini di Ṣaḥîḥ Bukhari dan Ṣaḥîḥ Muslim dan tidak menemukannya. Memang terdapat dua hadis riwayat Ahmad, tetapi berkualitas lemah menurut Syu’aib al-Arnouth.
Kesimpulannya, praktik bertakbir keras-keras, salah satu bentuk zikir, yang autentik berasal dari Nabi pada hari lebaran itu tidak ada. Rujukan utamanya tetap berpangkal pada khabar (berita) dari Ibnu Umar. Dengan demikian, zikir bersuara dalam takbiran, jika diukur dari sunnah Rasulullah, sesungguhnya merupakan sebuah salah kaprah yang telah mengakar.
Memang, tidak ditemukan larangan dari Nabi untuk mengeraskan suara dalam bertakbir di hari lebaran. Larangan keras Nabi justru terlontar ketika berhaji atau ketika berhadapan dengan musuh, seperti dalam Perang Khaibar.
Alasan yang seringkali disebut untuk membenarkan takbiran keras adalah untuk menunjukkan syiar Islam dan mengagungkan Asma Allah. Dengan bersuara, dilagukan secara khas dan berirama indah, diyakini dapat meningkatkan penghayatan dalam pengagungan (deep experience) kepada Allah. Bahkan, iringan musik dianggap mampu menuntun the beauty of heart (rasa keindahan hati) dalam mengagungkan-Nya.
Namun, di Indonesia, rasanya memang tidak mungkin lagi mengembalikan keaslian zikir bilkhafi untuk wujud takbiran di hari lebaran. Inilah pengecualian yang harus diterima. Zikir keras dalam takbiran Idulfitri/Iduladha di Nusantara adalah wujud murni tradisi yang berakar dari praktik Ibnu Umar dan bukan Sunnah Nabi. Bandingkan dengan praktik di Arab Saudi, di mana zikir hari raya bersifat pribadi dan dilakukan bi sîr (tidak bersuara).
Wallâhu a’lamu bi ṣawâb.