Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 8 menit baca

Etika Berzikir: Kecurigaan Rasul dalam Halaqah Senyap? (Bagian 4)

Drs. H. Danusiri, M.Ag

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Etika Berzikir: Kecurigaan Rasul dalam Halaqah Senyap? (Bagian 4)
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Pernahkah Anda membayangkan suasana masjid yang begitu hening menjelang salat, padahal di dalamnya penuh orang? Keheningan semacam ini ternyata pernah memicu rasa penasaran, bahkan dari Rasulullah ﷺ sendiri.

Kisah ini bukan sekadar anekdot, melainkan inti dari sebuah pertanyaan tentang etika dan tradisi berzikir. Ketika Rasulullah mendekati sekumpulan orang yang berdiam diri dalam masjid, beliau bertanya, ada apa gerangan? Di sinilah muncul fakta menarik tentang zikir yang tak bersuara, atau khafi, yang justru mendapat sanjungan dari Allah Swt.

Lalu, mengapa Muawiyah dan bahkan Rasulullah sampai perlu bertanya tentang halaqah atau majelis yang hening itu? Apakah keheningan ini, yang mungkin dianggap sebagai ketidakaktifan, justru adalah puncak dari sebuah ketaatan? Simak selengkapnya kisah yang termaktub dalam riwayat Imam Muslim berikut, yang menyibak tabir halaqah senyap ini:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَبِي نَعَامَةَ السَّعْدِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدهُ حَدِيثًا مِنِّي وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَززَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Marhum bin ‘Abdul ‘Aziz dari Abu Na’amah as-Sa’di dari Abu ‘Utsman dari Abu Sa’id al-Khudri dia berkata; “Pada suatu hari Mu’awiyah melewati sebuah halaqah (majelis) di masjid. Kemudian ia bertanya; ‘Majelis apakah ini?’ Mereka menjawab; ‘Kami duduk di sini untuk berzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Mu’awiyah bertanya lagi; ‘Demi Allah, benarkah kalian duduk-duduk di sini hanya untuk itu?’ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu.’ Kata Mu’awiyah selanjutnya; ‘Sungguh saya tidak menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian. Karena tidak ada orang yang menerima hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih sedikit daripada saya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Majelis apa ini?’ Mereka menjawab; ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini?’ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini.’ Kata Rasulullah selanjutnya: ‘Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat (HR. Muslim 4869).

Dari hadis tersebut, terdapat beberapa poin penting yang dapat kita pahami mengenai etika berzikir pada masa itu:

Pertma, baik Muawiyah maupun Rasulullah, keduanya menunjukkan ketertarikan hingga perlu bertanya tentang kegiatan halaqah di dalam masjid yang suasananya hening dan senyap. Keheningan ini membuat aktivitas mereka tidak mudah dikenali.

Kedua, para sahabat menegaskan bahwa kegiatan mereka adalah berzikir dan bersyukur atas hidayah Al-Islam yang telah mereka terima.

Ketiga, Muawiyah mengaitkan pertanyaannya dengan peristiwa serupa yang pernah terjadi pada zaman Nabi, menunjukkan adanya preseden dalam tradisi halaqah senyap ini.

Keempat, Nabi Muhammad ﷺ juga bertanya mengenai kegiatan halaqah senyap tersebut, yang dijawab sama: hanya berzikir dan bersyukur.

Poin kunci adalah informasi dari Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa Allah Swt. berbangga karena zikir yang dilakukan secara hening dan senyap itu, atau dikenal sebagai zikir khafi (zikir tidak bersuara).

Pelajaran dari Tradisi Zikir Senyap

Pelajaran fundamental yang dapat dipetik adalah tradisi zikir pada masa Nabi dan sahabat cenderung tidak bersuara. Logikanya, seandainya zikir itu dilakukan dengan suara keras (jahr), Muawiyah tidak akan perlu curiga dan bertanya-tanya karena aktivitasnya sudah jelas terdengar.

Kasus Nabi berbeda; meskipun beliau bertanya, tujuannya bukan kecurigaan, melainkan klarifikasi atas informasi yang baru beliau terima dari Jibril a.s. Klarifikasi tersebut menegaskan keridaan Allah atas aktivitas zikir khafi mereka, yang bahkan disosialisasikan kepada para malaikat sebagai bentuk kebanggaan ilahi.

Komentar para ulama mengenai zikir dengan cara berkelompok ini juga memperkuat pandangan tentang keutamaan zikir yang tidak bersuara. Misalnya, asy-Syatibi mengatakan:

الدُعَاءُ بِهَيْئَةِ الْاِجْتِمَاعِ دَائِمًاً لَمْ يَكُنْ مِنْ فِعْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(Berdoa dengan cara bersama-sama dan dilakukan terus-menerus, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (al-I’tishâm, 1: 129).

Ibnu Taimiyyah senada dengan asy-Syatibi, menyatakan:

لَمْ يُنْقَلُ أَحَدٌ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى بِالنَّاسِ يَدْعُوْ بَعْدَ الْخُرُوْجِ مِنَ الصَّلَاةِ هُوَ وَالْمَأْمُوْمُوْنَ جَمِيْعًاً، لَا فِي الْفَجْرِ، وَلَا فِي الْعَصْرِ، وَلَا فِي غَيْرِهِمَا مِنَ الصَّلَوَاتِ، بَلْ قَدْ ثَبَتَ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَسْتَقْبَلُ أَصْحَابَهُ وَيَذْكُرُ اللهَ وَيُعَلِّمُهُمْ ذِكْرَ اللهِ عَقِيْبَ الْخُرُوْجِ مِنَ الصَّلَاةِ

(Tidak ternukil dari seorang pun bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika salat mengimami orang-orang lalu setelah itu beliau berdoa bersama para makmum bersama-sama. Tidak dalam salat Subuh, Asar, atau lainnya. Namun memang, terdapat hadis sahih bahwa beliau berbalik badan menghadap kepada para makmum lalu berzikir dan mengajarkan zikir kepada para sahabat setelah salat (Majmu’ al-Fatawa, 22: 492).

Dari penjelasan Ibnu Taimiyyah, terlihat bahwa Rasulullah menghadap ke jamaah, bukan ke kiblat, untuk berzikir dan mengajarkan zikir. Dalam konteks era sekarang, hal ini dapat dimaknai sebagai kultum (kuliah tujuh menit) pasca-salat. Hanya saja, materi di masa itu masih berupa formula zikir atau kalimat thayyibah, karena masih merupakan masa transisi dari era jahiliyah menuju era Islam.

Salah satu zikir dan doa yang beliau contohkan dan didengar oleh Sahabat adalah sebagaimana hadis berikut:

سَمِعْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يقولُ خَلْفَ الصَّلَاةِ: لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ له، اللَّههُمَّ لا مَانِعَ لِما أعْطَيْتَ، ولَا مُعْطِيَ لِما مَنَعْتَ، ولَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ

(Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam setelah salat beliau berdoa: Lâ ilâha illallâh waḩdahû lâ syarîka lah. Allâhumma lâ mâni’a limâ a’thâyta wa lâ mu’thiya limâ mana’ta wa lâ yanfa’u ẕal jaddi minkal jaddu. (HR. Bukhari: 6615, Muslim: 593).

Wallâhu A’lamu bi shawâb.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: