Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Kolom 4 menit baca

“Children of Heaven”: Menghidupkan Ajaran Muhammadiyah Lewat Kesederhanaan

‎Imam S Abu Maulana

Jurnalis Muhammadiyah Kota Semarang

“Children of Heaven”:  Menghidupkan Ajaran Muhammadiyah Lewat Kesederhanaan
Jurnalis Muhammadiyah Semarang, Imam S Abu Maulana, melalui kolomnya, merefleksikan nilai-nilai ketabahan, kejujuran, dan amanah dalam film Children of Heaven yang sejalan dengan semangat dakwah Muhammadiyah. (Foto: Dok. Istimewa)

Film Children of Heaven, sebuah drama keluarga yang sarat makna, membuka kisahnya dengan adegan di sebuah lorong sempit yang sederhana.. Dua anak kecil sedang belajar tentang kehidupan dengan cara yang tidak mereka dapatkan di ruang kelas.

Namanya Ali dan Zahra.

Mereka bukan anak orang kaya. Ayah mereka hanyalah pekerja keras yang setiap hari berjuang agar dapur tetap mengepul. Ibunya sakit-sakitan. Di rumah itu, kemewahan adalah sesuatu yang asing. Namun di tengah segala keterbatasan, mereka masih memiliki satu harta yang jauh lebih berharga daripada emas: hati yang jujur dan kasih sayang yang tulus.

Musibah itu datang ketika Ali kehilangan sepatu milik adiknya yang baru saja selesai diperbaiki. Wajahnya pucat, bukan karena takut orang tuanya memarahi. Melainkan karena ia sadar bahwa sepatu itu adalah amanah.

Ia telah lalai menjaganya. Dan setiap amanah yang terabaikan akan melahirkan kegelisahan bagi hati yang hidup.

Zahra pun mengetahui kabar itu. Air matanya hampir jatuh. Namun, gadis kecil itu memilih menahan kecewa. Ia tahu, ayah dan ibunya sedang memikul beban kehidupan yang tidak ringan. Menambah kesedihan mereka hanya akan menambah luka.

Tanggung Jawab di Balik Keterbatasan

Maka kedua kakak beradik dalam kisah Children of Heaven ini memilih memikul kesulitan bersama. Mereka bergantian memakai satu pasang sepatu.

Keduanya tak saling menyalahkan. Tidak ada pertengkaran. Tidak pula ada tuntutan. Yang ada hanyalah kesabaran dan tanggung jawab.

Pagi hari, Zahra berangkat ke sekolah. Sepulangnya, ia berlari sekuat tenaga agar kakaknya tidak terlambat. Di sebuah gang kecil, Ali telah menunggu dengan napas yang tak kalah terengah. Sepatu itu berpindah kaki, lalu ia berlari menuju sekolahnya.

Begitulah hari-hari mereka. Melelahkan. Namun mereka menjalaninya dengan tabah.

Di situlah sesungguhnya kita menemukan pelajaran yang sangat dekat dengan jiwa Muhammadiyah. Bahwa hidup bukan tentang mengeluh atas kekurangan, melainkan tentang berjuang dengan penuh kejujuran. Amanah adalah harus dijaga meski harus dibayar dengan pengorbanan.

Bahwa kesabaran bukan berarti menyerah, tetapi tetap berjalan meskipun pundak terasa berat. Dan tanggung jawab itu tidak pernah mengenal usia.

Ali mungkin hanyalah seorang anak kecil. Tetapi ia memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar daripada banyak orang dewasa yang mudah mencari kambing hitam atas kesalahannya sendiri. Ali tidak lari dari masalah. Ia tidak menyalahkan keadaan. Ia memilih berjuang.

Bukankah inilah yang Muhammadiyah ajarkan sejak awal berdirinya? Bahwa kemiskinan tidak boleh mematikan harapan. Keterbatasan bukan alasan untuk meninggalkan kejujuran. Bahwa kesulitan harus dihadapi dengan ketabahan. Dan pengorbanan itu adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga amanah.

Semangat Al-Ma’un dan Pesan Berkemajuan

Ketika Ali mengikuti lomba lari demi mendapatkan sepasang sepatu bagi Zahra, sesungguhnya yang sedang berlari bukan hanya seorang anak. Yang berlari adalah cinta, tanggung jawab dan semangat berkorban demi membahagiakan orang lain. Semangat yang dahulu KH Ahmad Dahlan tanamkan kepada para muridnya..

Walaupun sempat ada yang menghujat, memusuhi, bahkan membakar langgarnya, tapi Kyai Dahlan tetap semangat untuk memberi, bukan meminta. Ia tetap semangat untuk memikul beban, bukan melemparkannya kepada orang lain. Semangat untuk menjadi manusia yang berguna, meski hidup dalam kesederhanaan.

Karena dalam pandangan Muhammadiyah, Allah tidak mengukur kemuliaan manusia dari seberapa banyak yang dimilikinya, tetapi dari seberapa jujur ia menjaga amanah. Dan dari seberapa tabah ia menghadapi ujian. Serta dari seberapa besar kesediaannya berkorban demi menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Mungkin itulah sebabnya kisah Ali dan Zahra dalam mahakarya Children of Heaven begitu menyentuh hati. Sebab di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kemewahan, dua anak kecil itu justru mengajarkan sesuatu yang mulai langka. Bahwa kesederhanaan yang dihiasi kejujuran lebih mulia daripada kemewahan yang kehilangan amanah.

Sebuah pelajaran, bahwa orang-orang besar tidak selalu lahir dari rumah-rumah megah. Kadang mereka tumbuh dari rumah-rumah sederhana, yang penghuninya belajar menangis dalam sabar, berjuang dalam diam, dan menjaga amanah dengan seluruh pengorbanan.

Sebab pada akhirnya, Allah tidak bertanya seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan. Tetapi seberapa sungguh-sungguh kita menjaga amanah yang telah Dia titipkan.

Inilah pesan dakwah Muhammadiyah. Pesan yang selaras dengan cerita Children of Heaven: hidup berkemajuan tidak dibangun oleh kemewahan, melainkan oleh kejujuran, ketabahan, amanah, dan pengorbanan yang dilandasi iman.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: