Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Iman di Hati atau Sekadar di Lisan? Kenali 6 Pilar Akidah dan Bahaya yang Menggugurkannya

Redaksi

Iman di Hati atau Sekadar di Lisan? Kenali 6 Pilar Akidah dan Bahaya yang Menggugurkannya

Banyak orang mengaku beriman, tapi apa buktinya? Dalam Islam, iman bukan sekadar ucapan “saya percaya” yang diwariskan turun-temurun. Iman adalah keyakinan yang menghujam kokoh di dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan yang terpenting, dibuktikan dengan amal perbuatan.

Tanpa fondasi akidah yang benar, ibadah kita bisa sia-sia. Lantas, apa saja fondasi (rukun) yang wajib kita jaga agar iman kita tidak gugur? Dan apa bedanya seorang muslim dengan munafik, kafir, serta musyrik?

Berikut adalah penjelasan mengenai Prinsip-Prinsip Akidah dan Rukun Iman yang disarikan dari buku Tanfidz Musyawarah Wilayah Tarjih II-III Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah No 105/KEP/III.0/H/2025.

Enam Pilar Wajib Akidah
Landasan iman seorang muslim berdiri di atas enam pilar utama yang disebut Arkanul Iman (Rukun Iman). Disebut sebagai “rukun” karena jika satu saja dari pilar ini runtuh atau diingkari, maka secara otomatis gugurlah seluruh bangunan keislamannya.
Keenam pilar itu adalah:

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat-malaikat-Nya
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada nabi dan rasul-Nya
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada Qadha dan Qadar (ketetapan baik dan buruk dari Allah)

Tiga Penyakit yang Merusak Iman
Memahami rukun iman juga berarti kita harus memahami apa saja yang dapat merusaknya. Ada tiga golongan yang keyakinannya bermasalah:

  1. Munafik: Iman Palsu di Ujung Lisan
    Ini adalah orang yang lisannya mengucapkan lafal keimanan, namun hatinya menolak dan tidak percaya. Meski orang munafik terlihat shalat, puasa, atau berzakat, ibadahnya tidak dianggap beriman di sisi Allah karena fondasi hatinya rapuh.
  2. Kafir: Penolakan Total
    Kafir berarti “tertutup”. Mereka adalah orang yang hati, lisan, dan perbuatannya secara sadar mengingkari dan menutup diri dari keimanan.
  3. Musyrik: Menduakan Allah (Syirik)
    Ini adalah bahaya terbesar. Musyrik adalah perbuatan menyekutukan Allah. Perbuatan ini ada dua bentuk:
  • Menyembah tuhan lain selain Allah.
  • Mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi juga percaya pada kekuatan lain selain Allah (seperti Abu Jahal yang menyembah berhala meski mengakui Allah sebagai pencipta).

Di era modern, perbuatan syirik bisa menjelma dalam kepercayaan bahwa ada kekuatan lain yang bisa memberi manfaat (kebaikan) atau mudarat (celaka) selain Allah.

Peringatan Keras:

Perbuatan seperti menyimpan, meyakini, atau menggunakan azimat (jimat), atau percaya pada ruh-ruh terdahulu dengan memberikan sesajen (persembahan), karena anggapan benda atau ruh itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, adalah bentuk kemusyrikan yang nyata.

Jangan Mudah Menuduh Kafir (Takfir)

Status “kafir” memiliki implikasi hukum (fikih) yang sangat berat dalam Islam. Mulai dari hukum waris (tidak saling mewarisi), keabsahan pernikahan (wajib cerai jika murtad), hingga tata cara pengurusan jenazah.

Karena konsekuensinya yang begitu berat, para ulama melarang keras seorang muslim untuk gegabah menuduh kafir (melakukan takfir) kepada saudaranya sesama muslim hanya karena adanya perbedaan pandangan dalam masalah furu’ fikih (cabang-cabang ilmu fikih, bukan pokok akidah).

Iman Itu Dinamis, Bisa Naik dan Turun

Iman bukanlah sesuatu yang statis. Ia bisa bertambah dan berkurang. Iman akan bertambah seiring dengan meningkatnya amal shalih kita. Sebaliknya, ia dapat berkurang manakala amal shalih kita menurun. Amal adalah cerminan dari iman.
Allah SWT berfirman:

…لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ…
“Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)

Landasan wajibnya beriman kepada pilar-pilar ini juga termaktub dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَكْfُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُbِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“…Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 136).

Artikel ini menjelaskan bahwa akidah adalah fondasi utama Islam yang terdiri dari 6 Rukun Iman. Keimanan sejati harus terwujud secara utuh dalam tiga aspek: keyakinan hati, ucapan lisan, dan pembuktian melalui amal perbuatan.

Artikel ini juga membedah bahaya yang dapat merusak akidah, yakni sifat munafik (beriman di lisan saja), kafir (menolak iman), dan musyrik (menyekutukan Allah). Perbuatan syirik modern seperti percaya pada jimat atau sesajen ditekankan sebagai kemusyrikan yang nyata.

Terakhir, tulisan ini mengingatkan bahwa iman bersifat dinamis (bisa naik dan turun seiring amal shalih) dan menegaskan adanya larangan keras menuduh kafir sesama muslim atas dasar perbedaan furu’ (cabang) fikih.

Editor: Adib Abyan Alb
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: