Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Keutamaan Berzikir (Bagian 1)

Drs. H. Danusiri, M.Ag

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Keutamaan Berzikir (Bagian 1)
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Sering kali kita menyamakan antara berdoa dan berzikir, padahal keduanya memiliki hakikat dan tujuan yang berbeda. Ketika kita merentangkan tangan dalam doa, inti dari aktivitas itu adalah memohon sesuatu dari Allah SWT. Sebaliknya, zikir adalah perwujudan agung dari upaya mengagungkan Allah semata.

Perbedaan mendasar ini perlu kita pahami, terutama dalam melihat bagaimana Allah SWT menuntut keseimbangan dalam setiap permohonan hamba-Nya.

Berdoa hanya dilakukan manakala ada kebutuhan mendesak dari seorang hamba, dan dalam kondisi memohon, Allah menuntut adanya pertimbangan antara permohonan itu sendiri dengan kesungguhan dalam menjalankan perintah-Nya agar peluang pengijabahan terbuka lebar.

Allah berfirman:

وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُوۡنَ

Artinya:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran (QS al-Baqarah: 186).

Secara “matematis” atau implementasi nyata, ayat ini menunjukkan: jika hamba memohon satu hal, Allah menuntut agar hamba tersebut percaya kepada-Nya dan memenuhi satu perintah-Nya.

Hanya memohon saja tanpa diiringi upaya memenuhi perintah-Nya ibarat perumpamaan cebol menggapai bulan. Bahkan, akan menjadi kontraproduktif jika doa dipanjatkan terlalu lama, panjang, beranekaragam permintaannya, apalagi jika tidak memahami arti bacaan yang sedang dipanjatkan.

Perintah Berzikir Sebanyak-Banyaknya

Oleh karena itu, memohon memang perlu, tetapi hendaknya tidak berlebihan. Setiap permohonan harus dibarengi dengan kegigihan usaha dan kepatuhan.

Lantas, bagaimana dengan zikir? Secara azasi, zikrullah (mengingat Allah) adalah aktivitas yang diperintahkan dan dianjurkan untuk dilakukan sebanyak-banyaknya. Perintah ini tegas termaktub dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا  

(Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allâh, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya – al-Ahzâb: 41).

Selanjutnya, Nabi Muhammad saw. juga memberikan petunjuk tentang praktik zikir:

فَأَنْبِئْنِيْ مِنْهَا بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ ؟ قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

(Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang kami bisa berpegang teguh kepadanya? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah lidahmu senantiasa berzikir kepada Allâh (HR Ibnu Majah: 3793).

Petunjuk akurat dari hadis ini menggarisbawahi bahwa zikir, meskipun tidak bersuara keras, harus tetap menggerakkan bibir seolah-olah lidah terbasahi oleh liur. Artinya, berzikir bukanlah sekadar mengatupkan mata dan bibir tanpa ucapan, melainkan bibir harus berkomat-kamit sebagai tanda kesungguhan.

Saling Mengingat antara Hamba dan Allah

Jika seorang hamba berzikir, Allah SWT pun akan mengingat hamba-Nya. Ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik yang mesra, seolah terjadi saling berbisik antara hamba dan Sang Pencipta. Ayat berikut memperjelas hubungan ini:

 فَاذۡكُرُوۡنِىۡٓ اَذۡكُرۡكُمۡ وَاشۡکُرُوۡا لِىۡ وَلَا تَكۡفُرُوۡنِ

(Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku – QS al-Baqarah: 152).

Dari ayat ini, tampak jelas bahwa momen berzikir merupakan pengejawantahan dari syukur kepada Allah, tanpa ada unsur permohonan sama sekali. Zikir adalah respons tulus dari yang diperintah terhadap Yang Maha Memerintah.

Wajar jika Rasulullah saw. bersabda tentang keutamaan zikir yang inti sabdanya sangat menyejukkan hati:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ‏:‏ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيْرُ فِي طَرِيْقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ‏:‏ جُمْدَانُ، فَقَالَ‏:‏ سِيْرُوْا هَذَا جُمْدَانْ، سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ قَالُوْا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ ‏اَلذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ

Artinya:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan di jalanan Mekkah lalu beliau melewati sebuah gunung yang dikenal dengan nama Jumdan. Beliau pun bersabda, “Berjalanlah kalian pada (gunung) Jumdan ini. Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang dimaksud dengan al Mufarridun? Beliau menjawab: Orang-orang laki-laki yang selalu berzikir kepada Allah dan orang-orang perempuan yang berzikir (HR. Muslim: 2626).

Zikir Membawa Ketenangan dan Fokus

Dari hadis di atas, dapat dipahami bahwa secara fisik, berzikir memunculkan energi berlipat jika dibandingkan dengan orang yang tidak berzikir. Terbukti, Al-Mufarridun berjalan lebih cepat, bahkan telah melampaui gunung Jumdan mendahului rombonganny, yang di dalamnya ada Rasulullah. Mengapa hal ini terjadi? Karena Al-Mufarridun lebih fokus.

Kefokusan ini terjadi karena pikiran dan hati mereka tenang. Mengenai ketenangan hati ini, Allah Swt. berfirman:

اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَٮِٕنُّ الۡقُلُوۡبُ

(Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram – QS. ar-Ra’du: 28).

Oleh karena itu, dapat diambil ibrah (pelajaran) bahwa berzikir adalah sumber utama ketenangan hati. Dengan hati yang tenteram, seseorang dapat bekerja lebih fokus, dan dengan sendirinya akan menjadi lebih produktif dalam kehidupan dunia.

Untuk kehidupan akhirat kelak, seorang pezikir akan lebih mudah dalam menggapai rida Allah SWT dibandingkan dengan orang yang bukan ahli zikir. Wallâhu a’lamu bi ṣawab.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: