Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Keutamaan Berzikir (Bagian 5)

Drs. H. Danusiri, M.Ag

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Keutamaan Berzikir (Bagian 5)
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Satu penggal hari kiamat nanti, seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir lahir di bumi akan dikumpulkan di satu tempat. Bayangkanlah momen kolosal, ketika matahari didekatkan sejauh satu mil, membakar, dan memaksa manusia tenggelam dalam lautan keringat mereka sendiri, sebuah siksaan yang kadarnya ditentukan oleh amal perbuatan (dosa) masing-masing.

Di tengah pemandangan yang amat dahsyat, di mana manusia nyaris menjadi “binatang” karena dihimpun telanjang, tak beralas kaki, dan tak berkhitan, adakah setitik harapan untuk teduh? Di sinilah keistimewaan luar biasa itu terungkap: keutamaan berzikir, aktivitas hati dan lisan yang ternyata memiliki kekuatan untuk menawarkan keteduhan saat tidak ada lagi naungan selain dari-Nya.

Kengerian Padang Mahsyar

Allah berfirman tentang hari pengumpulan itu:
قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ ٤٩ لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ ٥٠
(Katakanlah: Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian. Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal) (QS. al-Waaqi’ah: 49-50; al-Hijr: 25).

Tempat berkumpulnya manusia, yang disebut Padang Mahsyar, adalah tempat yang mencekam. Nabi Muhammad SAW. menggambarkan keadaannya:

شَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ : فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَىى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَىى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ

Artinya:
Pada hari Kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil. –Sulaim bin Amir (perawi hadis ini) berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda: Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Muslim: 2864).

Semua manusia dihimpun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, telanjang, tanpa alas kaki, dan tidak berkhitan. Nabi bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً ». قُلْتُ يَا رَسُوولَ اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ»

Artinya:
Manusia kelak pada hari Kiamat akan dihimpun dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan tidak berkhitan’. Maka aku penasaran, lalu bertanya: Wahai Rasulullah, laki dan perempuan semuanya akan dihimpun bersamaan, nanti mereka akan saling melihat satu sama lain? Namun beliau menjelaskan: Wahai Aisyah! Perkaranya lebih besar dari hanya sekadar melihat pada aurat satu sama lainnya (HR Bukhari: 6527, Muslim: 2859).

Dalam penggiringan menuju proses hisab, sebagian dari mereka bahkan harus berjalan dengan cara yang tak terbayangkan. Hadis berikut menjelaskan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ صِنْفٌ مُشَاةٌ وَصِنْفٌ رُكْبَانٌ وَصِنْفٌ عَلَى وُجُوهِهِمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَمْشُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ قَالَ إِنَّ الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَمَا إِنَّهُمْ يَتَّقُونَ بِوُجُوهِهِمْ كُلَّ حَدَبٍ وَشَوْكٍ

Artinya:
Kelak manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat terbagi menjadi tiga golongan; golongan yang berjalan kaki, naik kendaraan dan golongan yang berjalan menggunakan wajah-wajahnya. Maka ditanyakan oleh para sahabat: Ya Rasulullah, bagaimana mereka (bisa) berjalan dengan wajahnya? Berkata salah seorang perawi yang bernama Affan: – Mereka berjalan. Kemudian Nabi menjawab: Sesungguhnya Dzat yang menjadikan mereka bisa berjalan menggunakan kakinya, adalah Maha Mampu untuk menjadikan mereka berjalan dengan menggunakan wajahnya. Adapun mereka, sesungguhnya sangat berhati-hati ketika berjalan dengan wajahnya dari tiap duri dan tanah (HR Ahmad: 8647, Bukhari: 4760, Muslim: 2806).

Pengecualian di Tengah Kesengsaraan

Di tengah kesengsaraan umum Padang Mahsyar, ada pengecualian istimewa, yaitu orang-orang yang memperoleh rahmat dan perlindungan khusus dari Allah. Beberapa di antaranya meliputi:

Pertama , orang yang meninggal saat berhaji dan mengenakan ihram. Ia akan tetap berpakaian ihram dan terus ber-talbiyah:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اَلَّذِي يَمُوْتُ وَهُوَ مُحْرِمٌ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْبِيًّا (Rasulullah SAW. bersabda: Seseorang yang meninggal dalam keadaan berpakaian ihram, maka kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah) (HR Bukhari: 1851, Muslim: 1206).

Kedua, orang yang mati syahid. Darahnya akan mengalir, namun baunya seharum misk (kesturi):
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « وَالشَّهِيْدُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَرْحُهُ يَثْعَبُ , اَلَّلَوْنُ لَوْنُ الدَمِ, وَالرِّيْحُ رِيْحُ الْمِسْكِ (Seorang yang mati syahid, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan lukanya mengalirkan darah, warnanya darah namun baunya bau misk) (HR Bukhari: 5533, Muslim: 1876).

Ketiga, orang yang menangis dalam berzikir. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan peneduhan langsung dari Allah di hari yang tiada naungan lain, sebagaimana hadis (sepotong) di bawah ini:
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ (Seseorang yang berzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya) (HR 620, 1334, 5998, 6308, Muslim: 1712).

Pezikir yang berpeluang meneteskan air mata ini adalah mereka yang telah mengalami visualisasi spiritual (religious experience), merasakan khauf (rasa takut akan Allah) dan raja’ (penuh harap pada-Nya) dalam rutinitas zikirnya. Rahmat Allah padanya adalah memperoleh peneduhan dari-Nya, yang ketika itu tidak ada peneduhan kecuali dari-Nya—sebagaimana ditunjukkan dalam hadis (yang panjang, dan potongan teksnya termaktub pada poin ketiga di atas).

Dengan demikian, pezikir yang mampu mencapai maqam spiritual ini akan menjadi golongan yang sangat istimewa dari yang istimewa saat berada di Padang Mahsyar. Sebuah keutamaan yang pantas dikejar di dunia. Maka, rutinlah berzikir.

Wallâhu a’lamu bi ṣawâb.

Baca juga:
Keutamaan Berzikir (Bagian 4)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: