Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 3 menit baca

Makna Idulfitri: Transformasi Kesalehan Ritual Menjadi Kesalehan Sosial

Dr.Fachrur Rozi,M.Ag.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang

Makna Idulfitri: Transformasi Kesalehan Ritual Menjadi Kesalehan Sosial
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag. Teladan pengorbanan para pimpinan dan kader menjadi energi utama agar gerak dakwah persyarikatan tetap relevan dan berkemajuan di era modern.

Bulan suci Ramadan akhirnya berlalu meninggalkan kita. Selama sebulan penuh, umat Islam sangat giat menjalankan berbagai ibadah. Kita rajin berpuasa, mendirikan shalat tarawih, dan membaca Al-Qur’an.

Oleh karena itu, semua ibadah tersebut sukses membangun kesalehan ritual kita. Namun, kita wajib mengingat satu pesan penting. Makna Idulfitri yang sejati menuntut kita mewujudkan kesalehan sosial setiap hari di masyarakat.

Menggali Hikmah Puasa Ramadan

Allah SWT menjelaskan tujuan puasa dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat suci tersebut membawa hikmah puasa Ramadan yang sangat dalam. Tujuan akhir ibadah puasa selalu bermuara pada pencapaian takwa. Selain itu, takwa bukan sekadar urusan ibadah ritual semata. Sebaliknya, takwa harus memantul lewat perilaku kejujuran dan kasih sayang kita terhadap sesama.

Secara rasional, ibadah yang benar pasti mengubah karakter seseorang. Misalnya, kita sanggup menahan lapar dan haus demi menaati Allah. Maka, kita juga pasti mampu menahan diri dari segala kebohongan atau kecurangan. Akibatnya, ibadah ritual ini perlahan membentuk kesalehan sosial yang sangat kokoh.

Mewujudkan Kepedulian Sosial Islam

Al-Qur’an memberi peringatan keras bagi umat yang abai. Terutama, bagi mereka yang melupakan tanggung jawab sosialnya. Allah SWT berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Pesan Tuhan dalam ayat ini sungguh tegas. Kualitas iman seseorang sangat bergantung pada praktik kepedulian sosial Islam mereka. Dalam keseharian, kita bisa mempraktikkan hal ini lewat tindakan nyata. Sebagai contoh, seorang pedagang muslim senantiasa menjaga kejujurannya saat berjualan pasca Ramadan.

Di lingkungan warga, seorang muslim selalu tampil membawa solusi. Dia sigap membantu tetangga yang sedang menghadapi kesulitan. Selanjutnya, dia proaktif merawat kerukunan masyarakat tanpa memandang status sosial.

Terkait hal mulia ini, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membumikan Dakwah di Masyarakat

Sebagai warga Muhammadiyah, kita memikul amanah yang sangat besar. Kita wajib menghadirkan Islam sebagai solusi nyata bagi masyarakat. Dakwah kita tidak boleh berhenti pada ceramah di mimbar masjid saja. Sebaliknya, kita harus mewujudkan solidaritas dan memberdayakan kaum miskin melalui tindakan nyata.

Mari kita jadikan momen ini sebagai titik tolak perubahan. Kita perlu rawat kesalehan sosial ini sepanjang tahun. Jika kita berhasil memberdayakan sesama, lingkungan kita pasti penuh kedamaian dan keadilan. Pada akhirnya, inilah esensi kemenangan sejati bagi umat Islam.

Akhirnya, atas nama Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, saya mengucapkan: Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan kekurangan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita dan mempererat ukhuwah di antara kita. Selanjutnya, semoga Allah menjadikan kita pribadi-pribadi yang mampu menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua. Mari jadikan Idulfitri ini sebagai awal kehidupan yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Baca juga:

Ibadah Tanpa Aksi Sosial Hanya Jadi Formalitas? Berbuat Baiklah kepada Sesama

Ibadah Tak Hanya di Atas Sajadah, Tapi Nyata dalam Menolong Sesama

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: