Ibadah Tak Hanya di Atas Sajadah, Tapi Nyata dalam Menolong Sesama
SEMARANG TENGAH ,muhammadiyahsemarangkota.org – Pernahkah kita merenung sejenak, apakah ibadah kita hanya berhenti saat kening menyentuh sajadah, ataukah ia terus hidup saat kita melangkah keluar masjid? Pertanyaan reflektif inilah yang menjadi jiwa dari pesan mendalam yang disampaikan oleh Dr. H. KRAT. AM. Juma’i, SE., MM., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, dalam momen hangat Gerakan Subuh Berjamaah, Ahad (7/12/2025).
Dalam suasana pagi yang syahdu di Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah, AM Jumai tidak sekadar memberikan ceramah, melainkan mengajak hati setiap jamaah untuk bermuhasabah. Ia menekankan bahwa esensi keimanan seseorang justru teruji ketika ia berhadapan dengan kebutuhan orang lain.
Mengubah Kesalehan Ritual Menjadi Kesalehan Sosial
Bagi AM Jumai, tolong-menolong adalah detak jantung dari iman yang hidup. Ia mengingatkan kita semua bahwa ritual ibadah vertikal kepada Allah harus membuahkan dampak horizontal kepada sesama manusia.
“Ibadah itu sejatinya tidak hanya berdiri tegak di atas sajadah. Lebih dari itu, ibadah tercermin dari bagaimana tangan kita ringan untuk saling membantu. Nilai tolong-menolong inilah bukti otentik bahwa keimanan kita benar-benar hidup dan memberi manfaat,” tutur AM Jumai dengan nada yang menyentuh hati para jamaah.
Pandangan ini memberikan perspektif segar bahwa masjid bukan hanya tempat untuk “mengisi baterai” spiritual, melainkan titik tolak untuk menyalakan energi kebaikan bagi lingkungan sekitar.
Setiap Orang Punya Peran: Dari Kekuasaan hingga Ilmu
Dalam tausiyahnya yang memikat, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Seksi Budaya YPKPI Masjid Raya Baiturrahman ini menggarisbawahi bahwa tidak ada alasan bagi siapa pun untuk berpangku tangan. Setiap individu memiliki “modal” unik yang dititipkan Tuhan untuk dipersembahkan bagi kemaslahatan umat.
AM Jumai menantang para jamaah untuk memaksimalkan potensi diri mereka. “Jika Anda seorang pemimpin yang memegang amanah kekuasaan, gunakanlah tanda tangan dan kebijakan Anda untuk menolong orang banyak.
Begitu pula jika Anda memiliki keahlian atau ilmu di bidang tertentu, abdikanlah itu untuk memecahkan masalah masyarakat,” tegasnya.
Pesan ini menyadarkan kita bahwa sedekah tidak melulu soal uang. Tenaga, pikiran, koneksi, hingga jabatan adalah instrumen ibadah yang luar biasa jika diniatkan untuk membantu sesama.
Harmoni Subuh dan Aksi Nyata di Jalanan
Refleksi mendalam dari tokoh Muhammadiyah Kota Semarang tersebut menjadi puncak dari rangkaian kegiatan rutin yang diinisiasi oleh Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI).
Sebelumnya, kesejukan pagi di Ruang Sholat Utama semakin terasa khidmat saat lantunan ayat suci menggema di bawah pimpinan imam Dr. KH. Anasom, M.Hum. Semangat berbagi yang ditekankan oleh AM Jumai pun tak berhenti di mimbar.
Pesan tersebut langsung membumi melalui kegiatan “Ngaji On The Street” di area Car Free Day (CFD) pedestrian masjid. Di sana, teori kepedulian sosial langsung dipraktikkan melalui layanan konsultasi agama hingga pemeriksaan kesehatan gratis.
Sebuah pengingat indah bagi kita semua: biarkan ibadah Subuh menjadi awal, dan biarkan kepedulian sosial menjadi jalan panjang pengabdian kita sepanjang hari. Sudahkah kita menolong orang lain hari ini?
Baca juga : Tawa dan Air Mata di Pesantren Lansia Semarang: Mengupas Satu-Satunya Bekal Abadi Menuju Liang Lahat