Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tawa dan Air Mata di Pesantren Lansia Semarang: Mengupas Satu-Satunya Bekal Abadi Menuju Liang Lahat

7 Desember 2025, 15:00 WIB • 4 menit baca
Tawa dan Air Mata di Pesantren Lansia Semarang: Mengupas Satu-Satunya Bekal Abadi Menuju Liang Lahat
Screenshot

NGALIYAN ,muhammadiyahsemarangkota.org – Suasana Sabtu malam (6/12/2025) di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada ketegangan, yang ada justru gelak tawa yang sesekali disusul keheningan panjang yang merenung. Di hadapan 40 peserta Pesantren Lansia Semarang, Dr. KH. Fachrur rozi M.Ag membuka “kopernya” dan mengajak para sepuh untuk mengecek kembali barang bawaan mereka sebelum ‘kereta’ penjemput bernama kematian tiba di stasiun kehidupan.

“Bapak Ibu, bayangkan jenengan punya sertifikat tanah setumpuk, mobil mengkilap di garasi, atau tabungan digitnya panjang. Tapi, pas malaikat maut datang mengetuk pintu, malaikat nggak akan tanya ‘Bawa sangu berapa Miliar?’. Sama sekali tidak,” ujar Kiai Fachrurrozi dengan nada bercanda namun menohok hati.

Kalimat pembuka itu sukses memecah kebekuan. Sang Kiai menekankan satu poin krusial yang sering luput dari ingatan kita: saat ajal menjemput, satu-satunya “barang bawaan” atau bagasi yang lolos pemeriksaan imigrasi akhirat hanyalah amal perbuatan. Sisanya? Zonk. Semua ditinggal.

Antara Harta, Keluarga, dan Sahabat Sejati

Dengan gaya penyampaian yang humanis, Kiai Fachrurrozi tidak sedang menakut-nakuti, melainkan mengajak para lansia bercermin. 

Mengutip sebuah hadis riwayat Anas RA, beliau mengisahkan drama pengiring jenazah yang sangat relevan dengan kehidupan modern.

“Ada tiga yang mengantar kita ke kuburan: keluarga, harta, dan amal. 

Tapi lihat realitanya,” tutur beliau. “Keluarga cuma menangis sebentar lalu pulang ngurus warisan. Mobil jenazah yang mewah itu pun balik ke garasi rental. Hanya satu yang setia, nekat ikut masuk ke liang lahat yang sempit dan gelap itu. Siapa dia? Amal kita.”

Penjelasan ini disampaikan dengan analogi yang ringan. Beliau menyentil kebiasaan manusia yang sering tertipu oleh dua nikmat besar: kesehatan dan waktu luang. Seringkali kita sibuk memoles “casing” (fisik) dan menumpuk harta yang jelas-jelas akan jadi milik ahli waris, sementara “sahabat sejati” kita (amal shaleh) justru diterlantarkan.

Refleksi ini makin dalam saat beliau membacakan Surah Yasin ayat 68 dan Al-Zalzalah. Beliau mengingatkan bahwa menjadi tua itu seperti kembali ke masa kanak-kanak. Fisik melemah, ingatan memudar. Namun, sekecil apapun kebaikan (zarrah) yang kita tanam di sisa usia ini, itulah yang akan panen raya di sana nanti.

“Jadi, mumpung masih bisa jalan ke masjid, mumpung nafas masih ada, ayo perbanyak ‘packing’ bekal amal shaleh. Jangan sampai pas berangkat, koper kita kosong melompong,” pesannya yang disambut anggukan takzim para jamaah.

Bukan Sekadar Duduk Diam, Tapi Membangun Persaudaraan

Pengajian mendalam ini bukan satu-satunya menu dalam Pesantren Lansia Semarang. Kegiatan yang dihelat di Masjid At Taqwa Wates ini didesain khusus agar para lansia tidak merasa kesepian di masa tua.

Solikul Hadi, selaku Ketua Panitia, menjelaskan dengan antusias bahwa konsep acara ini sangat holistik. Tidak melulu soal akhirat, tapi juga soal kebahagiaan duniawi yang sehat.

“Konsep kami ini paket lengkap, sehat jasmani dan rohani. Makanya, selain siraman rohani malam ini, besok pagi kita ajak mbah-mbah ini senam bareng, lalu sarapan bersama penuh keakraban. Harapannya sederhana, pulang dari sini hati senang, badan bugar,” ujar Solikul dengan senyum lebar.

Menua Bersama dalam Komunitas yang Produktif

Lebih jauh lagi, kegiatan ini punya visi jangka panjang yang menyentuh sisi sosiologis para lansia. Prof. Ahwan Fanani, Ketua Takmir Masjid At Taqwa, menegaskan bahwa Pesantren Lansia Semarang bukan sekadar acara ‘hit and run’ atau pertemuan dua hari lalu bubar.

“Ini adalah gerbang. Kami ingin membentuk paguyuban alumni. Bayangkan indahnya, di sisa usia ini, para lansia punya wadah untuk saling curhat, saling menguatkan, tetap produktif belajar, dan tidak merasa sendirian,” ungkap Prof. Ahwan.

Malam itu, di bawah langit Ngaliyan, puluhan wajah yang telah memakan asam garam kehidupan tampak bercahaya. Mereka pulang ke tempat istirahat bukan dengan ketakutan akan kematian, melainkan dengan semangat baru untuk menata “barang bawaan”. Karena sejatinya, harta tak dibawa mati, tapi senyum sedekah dan sujud tulus malam ini, itulah yang abadi.

Baca juga : Ludes dalam 24 Jam! Pesantren Lansia Semarang Naik Kelas, Target 50 Santri Awal 2026

Kontributor: Lukman Al Hakim
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: