Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Memahami Siapa Nabi Muhammad SAW (Bagian 2): Makna Nama-nama Nabi

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Memahami Siapa Nabi Muhammad SAW (Bagian 2): Makna Nama-nama Nabi
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Edisi sebelumnya telah membahas nama-nama Nabi, baik berdasarkan pengakuan beliau sendiri maupun informasi dari Rasulullah yang bersumber dari hadis Qudsi. Melanjutkan pembahasan tersebut, kali ini kita akan mengupas makna mendalam di balik setiap nama mulia itu, sebuah penamaan yang bukan sekadar identitas, melainkan juga cerminan sifat dan risalah kenabiannya.

Nama-nama Nabi yang Mulia

1. Muhammad
Secara harfiah, kata Muhammad adalah isim maf’ul (kata benda objek) yang berarti “orang yang sangat terpuji” atau “yang banyak dipuji”. Nama ini diberikan oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dengan harapan agar cucunya menjadi sosok yang terpuji di seluruh penjuru bumi. Harapan itu terbukti, sebab beliau adalah sosok yang paling banyak dipuji di muka bumi, bahkan melebihi orang yang dipertuhankan, ditandai dengan tak terhitungnya umat yang senantiasa melantunkan selawat baginya.

2. Ahmad
Baik Muhammad maupun Ahmad berasal dari akar kata yang sama, yaitu ḩamida. Keduanya memiliki arti serupa: sangat terpuji, paling terpuji, atau banyak dipuji. Namun, ada makna unik yang membedakannya; Ahmad adalah sosok yang terpuji di langit, sementara Muhammad adalah sosok yang terpuji di bumi. Karena beliau menyatu dengan penduduk bumi, maka nama yang lebih populer di antara manusia adalah Muhammad.

3. Al-Mahiy
Secara harfiah, Al-Mahiy berarti “menghapus”. Nama ini bermakna bahwa dengan beriman kepada Rasulullah sebagai hamba dan utusan Allah, kekufuran seseorang akan terhapus. Namun, makna ini tidak berarti menghapus dosa, sebagaimana tertulis dalam kitab Al-Barzanji, māḩiya az-zunūb. Menurut Al-Qur’an, penghapus dosa hanyalah Allah semata. Oleh karena itu, memohon ampunan kepada Rasulullah termasuk perbuatan musyrik.

4. Al-Ḫasyir
Secara harfiah, Al-Ḫasyir berarti “mengumpulkan” atau “menggiring”. Maknanya, beliau akan mengumpulkan orang-orang di hari kiamat kelak agar mereka mengikuti langkah-langkahnya, tentu saja untuk mendapatkan syafaat. Makna ini juga berlaku di kehidupan dunia, yaitu mengajak manusia untuk berkumpul dalam agama Allah, yaitu dinul Islam.

5. Al-‘Aqib
Secara harfiah, Al-‘Aqib berarti “yang memberi akibat”. Makna yang terkandung di dalamnya adalah tidak ada nabi setelah Rasulullah. Secara teknis, ini juga berarti tidak ada lagi alternatif syariat; hanya syariat beliaulah yang berlaku di jagat raya ini.

6. Al-Khatim
Al-Khatim berarti “penutup”, yang maknanya sama dengan Al-‘Aqib, yaitu tidak ada lagi nabi setelah Rasulullah. Al-Khatim juga berarti “cincin”, yang mengisyaratkan bahwa Rasulullah Muhammad melengkapi dan menggenapi seluruh kenabian dan kerasulan.

7. Rauf
Rauf berarti “yang banyak dipuji”, yang bersinonim dengan Muhammad maupun Ahmad.

8. Rahim
Secara praktis, Rahim bermakna orang yang selalu mengedepankan kasih sayang kepada apa dan siapa saja.

9. Al-Muqaffi
Al-Muqaffi artinya “yang mengikuti rasul-rasul sebelumnya”. Maksudnya, sejak Nabi Adam hingga Nabi Isa AS, semuanya mengajarkan tauhid. Secara khusus, Rasulullah mengikuti hanifisme Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim sangat teguh pendiriannya dalam bertauhid meskipun dibakar hidup-hidup. Demikian pula Nabi Muhammad, beliau tidak goyah dalam bertauhid meskipun matahari dan bulan ditawarkan untuk digenggam.

10. ‘Uqailul Kafarah
‘Uqailul Kafarah memiliki makna bahwa hanya dengan akal yang dangkal atau akal bodoh saja, seseorang sudah dapat mengakui kebenaran ajaran tauhidnya ketika dibandingkan dengan kemusyrikan (politeisme) dan kekufuran (ateisme). Ajaran tauhid ala Rasulullah, sebagaimana terungkap dalam Surat Al-Ikhlas dan banyak ayat lainnya, begitu lugas, gamblang, dan tidak dapat ditafsirkan selain sebagai keesaan Allah.

11. Nabiyyur Rahmah
Nabiyyur Rahmah artinya “pembawa kabar tentang kasih sayang”. Secara praktis, diutusnya beliau sebagai rasul disebutkan sebagai raḩmatan lil ‘ālamīn (rahmat bagi seluruh alam).

12. Nabiyyut Taubah
Nabiyyut Taubah artinya “pembawa kabar bahwa Allah menerima taubat” kepada siapapun yang bertaubat dan berhenti dari kekufuran.

13. Al-Mushthafa
Secara harfiah, Al-Mushthafa bermakna “yang terpilih”. Namun, nama ini lebih merujuk pada sifat, bukan nama diri. Semua rasul, dari Adam hingga Muhammad SAW, adalah sosok yang terpilih sebagai nabi dan rasul.

14. Abul Qasim
Nama ini hanyalah kunyah (nama panggilan yang didasarkan pada nama anak), karena beliau memiliki putra bernama Qasim. Beliau melarang umatnya untuk memanggilnya dengan nama kunyah ini. Hanya kaum Yahudi dan Nasrani yang memanggilnya dengan nama itu karena mereka tidak mengimani kerasulannya.

Catatan Penting

  1. Nama Thaha dan Yasin bukanlah nama atas dasar pengakuan beliau, melainkan hanya tafsiran dari para ulama, antara lain Ibnu Katsir dan As-Sa’di. Thaha dan Yasin adalah ḩurūful muqaththa’ah (huruf yang terputus-putus) sebagai pembuka surat (fawātiḩusūrah). Secara umum, para mufasir yang berakar pada Abu Bakar, Umar bin Khathab, Usman, dan Ali menyatakan bahwa hanya Allah yang mengetahui makna ḩurūful muqaththa’ah.
  2. Abdullah bin Mas’ud menegaskan bahwa Thaha, Yasin, Kahfi, dan Maryam adalah nama-nama surat, bukan nama-nama Nabi.
  3. Kurang bijak jika memanggil seseorang bukan dengan nama aslinya (by name). Bisa dibayangkan jika orang yang bernama Ahmad dipanggil Sudarmo, pasti yang bersangkutan tidak akan merespons. Ia akan merasa tersinggung, bahkan marah. Apalagi jika hal itu dikenakan kepada Rasulullah.
  4. Ungkapan puitis dalam rangka menyanjung, seperti Nūrun fauqan nūr, Syamsun, dan Badrun, dapat dipertimbangkan sebagai ungkapan kecintaan, ala Platonis, kepada beliau.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: