Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Memahami Siapa Nabi Muhammad SAW (Bagian 1)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Memahami Siapa Nabi Muhammad SAW (Bagian 1)
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Ironis, banyak Muslim yang mengagungkan Nabi Muhammad SAW, namun pemahaman mereka tentang siapa beliau kerap kali terbatas dan bahkan melenceng. Saat ditanya siapa pemimpin agung mereka, sebagian besar hanya menjawab Muhammad atau Ahmad, tanpa tahu lebih jauh.

Pengetahuan yang minim ini seringkali berujung pada pengagungan yang berlebihan dan di luar batas ajaran, seperti memohon pertolongan langsung kepada beliau. Sebuah contoh nyata adalah ritual mujahadah yang berbunyi: Ya Rasûlullâh, qad ḍâqat ḩilatî adriknî (Wahai Rasulullah, keadaanku telah mentok. Dapatkanlah untukku). Permohonan semacam ini, yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah SWT, menunjukkan betapa pemahaman yang dangkal bisa menjerumuskan pada praktik yang keliru.

Dari dua kutub ekstrem ini, ketidaktahuan dan pengagungan tanpa landasan rasiona, artikel ini hadir untuk menarasikan siapa Nabi Muhammad SAW secara lebih proporsional. Mari kita mulai dari nama-nama beliau yang sah sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis sahih.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW pernah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِي خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِي الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ

Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku memiliki Lima Nama: (1) Muhammad, (2) Ahmad, (3) aku juga al-Maḩiy (penghapus), maksudnya Allah menghapuskan kekafiran melalui aku, (4) aku juga al-Ḫasyîr (penghimpun), maksudnya manusia akan berhimpun di bawah kakiku, dan (5) aku juga al-‘Aqib, yang artinya tidak ada seorang nabi pun sepeninggalku.” (HR. Bukhari: 3268, 4517; Muslim: 4543, 4343)

Hadis lain menguatkan nama-nama tersebut dan menambahkan beberapa nama lagi:

إِنَّ لِي أَسْمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ وَقَدْ سَمَّاهُ اللَّهُ رَءُوفًا رَحِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya aku mempunyai banyak nama. Aku adalah Muhammad. Aku adalah Ahmad. Aku adalah al-Maḩy yang dengan itu Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Ḫasyîr, yaitu manusia digiring mengikuti langkah kakiku. Aku adalah al-‘Aqib, yaitu tidak ada seorang pun nabi sesudahku. Allah menamaiku Rauf dan Rahim.” (HR. Muslim: 4343)

Dalam sanad lain, tercatat nama Uqailul Kafarah. Hadis riwayat Ahmad nomor 16148 menambahkan satu nama, yaitu al-Khatim. Sementara itu, hadis Ahmad nomor 22859 menyebutkan ana an-Nabiyyul Musthafa (Aku adalah nabi Allah yang terpilih), yang beliau akui di depan orang-orang Yahudi yang ingkar. Perlu dicatat, Nabiyyullahil Musthafa bukan nama, melainkan pengakuan atas posisinya sebagai nabi.

Informasi lain juga menyebutkan nama-nama berikut:

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْمُقَفِّى وَالْحَاشِرُ وَنَبِىُّ التَّوْبَةِ وَنَبِىُّ الرَّحْمَةِ

Artinya: “Aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Muqaffi (yang mengikuti nabi sebelumnya), al-Hasyir (yang mengumpulkan), Nabiyyut Taubah, dan Nabiyyur Rahmah.” (HR. Muslim: 2355)

Selain itu, hadis Qudsi juga menyebutkan:

أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي سَمَّيْتُكَ المتَوَكِّلَ

Artinya: “Kamu adalah hamba dan Rasul-Ku. Nama-Mu al-Mutawakkil.” (HR. Bukhari: 2125)

Nama-Nama Resmi dan Kesalahpahaman Umum

Berdasarkan penelusuran hadis-hadis yang valid, nama-nama resmi Nabi Muhammad SAW adalah Muhammad, Ahmad, al-Mahiy, al-Hasyir, al-‘Aqib, al-Khatim, Rauf, Rahim, Uqailul Kafarah, al-Muqaffi, Nabiyyut Taubah, Nabiyyur Rahmah, dan al-Mutawakkil.

Namun, perlu diperhatikan bahwa sepanjang hadis-hadis mu’tabar (terpercaya), tidak ada yang menyebutkan bahwa Yasin dan Thaha adalah nama-nama Rasulullah. Kedua nama ini, yang merupakan huruf-huruf muqaththa’ah (huruf-huruf tunggal) di awal surah, maknanya hanya diketahui oleh Allah SWT. Persepsi bahwa Yasin dan Thaha adalah nama beliau muncul dari tafsiran yang dipaksakan. Ini diperkuat oleh hadis dari Ibnu Mas’ud:

ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْكَهْفِ وَمَرْيَمَ وَطه وَالْأَنْبِيَاءِ إِنَّهُنَّ مِنْ الْعِتَاقِ الْأُوَلِ وَهُنَّ مِنْ تِلَادِي

Artinya: “Ibnu Mas’ud berkata terkait dengan surat Bani Israil, al-Kahfi, Maryam, Thaaha, dan al-Anbiya, Sesungguhnya itu semua adalah dari surat-surat pertama yang diturunkan, dan semuanya pernah saya baca semenjak dahulu.” (HR. Bukhari: 4610)

Hadis ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud memandang Thaha sebagai nama surah, bukan nama Nabi. Kepopuleran kedua nama itu sebagai nama Nabi kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaannya dalam bait salawat Badariyah gubahan Kiai Ali Manshur pada tahun 1964.

Selain nama-nama tersebut, Rasulullah SAW memiliki kunyah, yaitu Abu Qasim. Namun, beliau melarang umatnya menggunakan kunyah ini untuk memanggil beliau, sebagaimana sabda beliau:

سَمُّوا بِاسْمِى ، وَلاَ تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِى

Artinya: “Silakan beri nama dengan namaku. Namun, jangan berkunyah dengan kunyahku.” (HR. Bukhari: 2120 dan Muslim: 2131)

Memanggil seseorang dengan nama yang bukan namanya adalah tindakan zalim dan dapat membuatnya marah, meskipun kemarahan itu tidak ditampakkan.

Jika Anda saja tidak ingin dipanggil dengan nama orang lain, apalagi terhadap Rasulullah Muhammad SAW, yang sangat kita agungkan. Jadi, mari kita panggil dan sebut beliau dengan nama-nama yang benar dan diakui dalam hadis.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: