Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 5 menit baca

Menyambung Kembali Dialog dengan Allah dalam Salat

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Menyambung Kembali Dialog dengan Allah dalam Salat
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Salat, sebagai tiang agama, kerap kali kita jalani sekadar sebagai rutinitas. Gerakan dan bacaan yang sempurna sesuai tuntunan fikih menjadi fokus utama. Namun, bagaimana jika kesadaran kita justru melayang ke hal-hal di luar salat? Ingatan tentang pekerjaan yang belum selesai, kekesalan pada rekan, bahkan pikiran-pikiran lain yang tak relevan, seakan-akan menjadi tamu tak diundang yang merusak kekhusyukan.

Bagi sebagian orang, salat yang hanya sebatas formalitas dan rutinitas sudah dianggap cukup. Mereka meyakini bahwa ketaatan terhadap perintah Allah, “aqîmûṣ ṣalâh” (أَقِيمُوا الصَّلَاةَ), sudah terpenuhi. Tentu saja, ketaatan ini akan membawa kebahagiaan di akhirat kelak. Namun, benarkah salat kita sudah mencapai derajat yang lebih tinggi, yaitu ihsan?

Salat yang hanya berhenti pada aspek fikih—yang penting syarat, rukun, dan sunahnya telah dilaksanakan—sering kali jauh dari sempurna. Di tengah salat, pikiran kita bisa saja berkelana ke mana-mana: lupa mematikan listrik, jemuran belum diangkat, sisa kejengkelan pada teman, bahkan birahi syahwat. Tipe salat semacam ini sebenarnya sangat dekat dengan godaan setan. Seperti yang disabdakan Nabi,

“إِذَﺍ ﻧُﻮﺩِﻯَ ﺑِﺎﻷَﺫَﺍﻥِ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻟَﻪُ ﺿُﺮَﺍﻁٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻊَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺛُﻮِّﺏَ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻟﺘَّﺜْﻮِﻳﺐُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻳَﺨْﻄُﺮُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ اُذْكُرْ كَذَا اُذْكُرْ كَذَا”

“Apabila azan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar azan tersebut. Apabila azan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan ikamah, setan pun berpaling lagi. Apabila ikamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan jiwanya, ia berkata: ingatlah ini, ingatlah ini.” (HR. Bukhari: 573, 1155; Muslim: 585; Abu Dawud: 433; Nasai: 664; Darimi: 1178; Ahmad: 7792, 9551; Malik: 139; Ibnu Hibban: 1663, 1754).

Dalam kondisi tercekik oleh setan, dialog antara hamba (‘abid) dan Tuhannya (ma’bud) menjadi terputus. Dialog ini hanya bisa tersambung kembali jika seorang muslim mampu melepaskan diri dari cengkeraman setan. Namun, ini memang sulit. Itulah sebabnya Nabi menginformasikan:

“إنَّ الرَّجلَ لينصَرِفُ وما كُتِبَ لَهُ إلَّا عُشرُ صلاتِهِ تُسعُها ثُمنُها سُبعُها سُدسُها خُمسُها رُبعُها ثُلثُها نِصفُها”

“Sesungguhnya ada seseorang yang selesai salatnya, hanya ditetapkan baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan separuhnya.” (HR. Abu Dawud: 675; Ahmad: 18122, 18136; Ibnu Hibban: 1889).

Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas salat sebagian sahabat Nabi masih kurang. Padahal, mereka sangat memahami arti dan maksud bacaan salat karena bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka. Lantas, bagaimana dengan kualitas salat kita yang sehari-hari tidak berbahasa Arab?

Tidak perlu risau karena penyebab terputusnya dialogis saat salat sudah diketahui. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar tercipta konsistensi dialog selama salat berlangsung.

Pertama, jaga salat formalitas dengan baik. Pastikan wudu sempurna, pakaian bersih, suci, dan pantas untuk ibadah, serta tanamkan niat kuat untuk bertemu dengan Allah, Tuhan kita.

Kedua, baca ta‘awuz setelah doa iftitah sebelum membaca surat Al-Fatihah. Nabi melakukan hal ini.

قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَهَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ

(Ibnu Mas’ud ra.) berkata: “Apabila Rasulullah saw. memulai salat, beliau mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari gangguan setan yang terkutuk, dari umpatan, tiupan, dan buhul-buhulnya.” (HR. Hakim: 749; Ibnu Khuzaimah: 472; Ibnu Majah: 808; Ahmad: 3828, 3830; Baihaqi: 375; Baihaqi dalam Sunan Kubra: 2356, 2357; dan Abu Ya’la: 5380).

Ada juga hadis serupa:

أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ مِنَ اللَّيْلِ كَبَّرَ ثَلَاثًا، وَسَبَّحَ ثَلَاثًا، وَهَلَّلَ ثَلَاثًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللهُمَّ إِنِّي أَعُووذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَشِرْكِهِ

“Umamah al-Bahili berkata: Apabila Rasulullah saw. memulai salat malam, beliau membaca takbir 3x, tasbih 3x, tahlil 3x, kemudian beliau mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu dari gangguan setan yang terkutuk, dari umpatan, tiupan, dan sekutunya.” (HR. Ahmad: 22177).

Ketiga, pahami dan hayati makna bacaan salat yang sedang diucapkan. Ini akan membantu menjaga konsistensi dialog. Jika kemampuan menghafal terbatas, fokus pada sedikit bacaan surat atau ayat Al-Qur’an agar lebih mudah dipahami dan dihayati maknanya saat salat. Untuk mengusahakan kekhusyukan, tidak perlu memejamkan mata. Biarkan suasana hati tetap santai dan rileks.

Keempat, fokus pada kekhusyukan fisik. Penuhi sarana dan prasarana yang mendukung, seperti ruangan ber-AC, karpet yang empuk, wewangian, pencahayaan yang tidak redup namun juga tidak menyilaukan, dan lingkungan yang tidak bising.

Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah di atas, kita bisa menyambung kembali dialog yang terputus dengan Allah dalam salat. Salat bukan lagi sekadar rutinitas kosong, melainkan momen intim untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, sebuah wadah untuk mencari ketenangan, kedamaian, dan keberkahan. Marilah kita berusaha bersama-sama untuk mengubah salat kita menjadi sebuah kebutuhan jiwa, bukan hanya kewajiban fisik.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: