Ada sebuah kecenderungan yang aneh dalam cara manusia mengingat sejarah. Kita sering membayangkannya sebagai jalan lurus yang bergerak dari masa lalu menuju masa depan, sementara yang tertinggal di belakang perlahan memudar menjadi debu. Padahal, sejarah lebih menyerupai bisikan. Ia tidak benar-benar pergi, melainkan hanya menunggu seseorang bersedia mendengarkannya.
Sesudah penutupan Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Aceh pada 22–29 Juli 2026, saya bersama tiga penyair—Asmariah dari Yogyakarta, Sahaya Santayana dari Tasikmalaya, dan Khoirul Anwar dari Lampung—meneruskan perjalanan menuju Medan.
Kami tidak sedang mengejar festival lain, tidak pula hendak menghadiri pembacaan puisi. Ketua Satupena Sumatra Utara, Shafwan Hadi Umri, mengajak kami mengunjungi sebuah tempat yang bagi sebagian orang mungkin hanya dianggap ruang penyimpanan benda-benda tua: Museum Sejarah Al-Qur’an Sumatra Utara.
Saya selalu percaya, museum bukan sekadar bangunan. Ia adalah cara sebuah masyarakat berdamai dengan waktu. Di sana, yang disimpan bukan hanya benda, melainkan juga kegigihan manusia untuk berkata kepada masa depan: kami pernah ada.
Museum itu berdiri di Jalan William Iskandar Pasar V, Kenangan Baru, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, di kawasan metropolitan Medan. Dari luar, ia tampak sederhana tanpa kemegahan yang memaksa orang terpukau. Namun, di situlah letak daya tariknya. Banyak hal paling penting dalam kehidupan memang tidak datang dengan kemewahan, seperti halnya sebuah kata “ibu” atau sepotong doa menjelang tidur.
Di dalam museum tersimpan sekitar 70 manuskrip kuno Al-Qur’an dan mushaf. Sebagian berusia lebih dari tiga abad, bahkan ada yang telah mencapai usia sekitar 370 tahun. Angka itu sesungguhnya sulit dibayangkan.
Ketika naskah itu mulai ditulis, negeri ini bahkan belum mengenal nama Indonesia. Raja-raja masih memerintah di berbagai wilayah, sementara kapal-kapal dagang mengarungi Selat Malaka membawa rempah, kain, dan beragam bahasa. Di tengah lalu lintas perdagangan dan pergulatan kekuasaan itu, seseorang duduk dengan sabar. Ia menorehkan ayat demi ayat menggunakan tinta yang mungkin diraciknya sendiri.
Saya membayangkan tangan itu.
Barangkali tangannya pernah gemetar, matanya mulai kabur diterpa usia. Atau ia berhenti sesaat ketika azan berkumandang, lalu kembali menulis dengan kesabaran yang tidak lagi banyak kita kenal hari ini. Setiap huruf bukan sekadar salinan, melainkan sebuah ibadah dan penyerahan diri kepada sesuatu yang dianggap lebih abadi daripada dirinya sendiri.
Yang menarik bukan hanya usia manuskrip-manuskrip itu. Masing-masing menyimpan ragam hias dan motif khas Sumatra Utara. Al-Qur’an ternyata tidak hadir sebagai benda yang asing terhadap kebudayaan; ia berdialog dengan lingkungan tempat ia disalin. Motif tumbuhan, sulur, warna-warna tertentu, dan komposisi hiasan menunjukkan bahwa iman tidak pernah tumbuh di ruang kosong. Iman selalu bertemu kebudayaan, lalu saling memberi bentuk.
Di sinilah saya teringat bahwa kebudayaan bukanlah lawan agama, melainkan sering kali saling menghidupi. Sebuah ayat memang tetap sama sejak diturunkan, tetapi tangan yang menuliskannya membawa pengalaman, estetika, dan dunia tempat ia hidup. Maka, setiap mushaf menjadi semacam autobiografi diam dari zamannya.
Museum ini lahir bukan semata-mata karena keinginan mengumpulkan benda-benda lama. Ada sebuah perdebatan akademik yang melatarbelakanginya. Selama bertahun-tahun berkembang anggapan dalam sejumlah penelitian bahwa Sumatra Utara tidak memiliki manuskrip kuno Al-Qur’an yang berarti. Seolah-olah, wilayah ini hanyalah penonton dalam sejarah intelektual Islam Nusantara.
Sejarawan Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari tidak menerima begitu saja kesimpulan itu. Ia memilih jalan yang lebih melelahkan: mencari, mendata, menelusuri, dan membuktikan. Sebab, sejarah sesungguhnya tidak selalu ditemukan di perpustakaan. Kadang ia bersembunyi di loteng rumah, di lemari kayu yang nyaris lapuk, atau di peti peninggalan keluarga yang tidak lagi dibuka selama puluhan tahun. Sejarah sering kali tidak hilang; kitalah yang berhenti mencarinya.
Dari pencarian itu terkumpullah manuskrip-manuskrip yang kemudian menjadi dasar berdirinya Museum Sejarah Al-Qur’an Sumatra Utara. Sebuah museum, dengan demikian, bukan sekadar hasil pembangunan fisik, melainkan sebuah kemenangan kecil melawan lupa.
Lupa adalah penyakit yang diam-diam menggerogoti sebuah bangsa.
Bangsa yang lupa pada manuskripnya akan mudah lupa pada jalan pikir para leluhurnya. Bangsa yang lupa pada sejarahnya akan lebih mudah menerima apa saja yang dikatakan orang lain tentang dirinya, bahkan ketika tuduhan itu keliru.
Mungkin karena itu museum ini terasa penting. Ia bukan hanya membantah sebuah kesimpulan ilmiah yang terburu-buru, melainkan juga mengembalikan martabat sebuah kawasan yang selama ini kurang diperhitungkan dalam peta pernaskahan Nusantara.
Yang menarik, museum ini tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Para pengelolanya sadar bahwa usia manuskrip justru menuntut kehati-hatian yang lebih besar. Naskah-naskah kuno disimpan dalam kotak-kotak pelindung agar tidak mengalami kerusakan akibat sentuhan, cahaya, maupun perubahan suhu. Pengunjung tidak diperkenankan membuka lembaran manuskrip secara langsung.
Sebagai gantinya, pengelola mengandalkan digitalisasi naskah kuno dan sistem pemindaian kode batang (barcode). Dengan memindai kode yang tersedia, pengunjung dapat membaca isi manuskrip dalam bentuk digital tanpa harus mengganggu kondisi fisik naskah.
Saya menyukai pilihan itu.
Sering kali kita mempertentangkan tradisi dan teknologi seakan keduanya lahir dari dua dunia yang saling bermusuhan. Padahal, teknologi dapat menjadi cara terbaik untuk melindungi tradisi. Digitalisasi bukanlah pengkhianatan terhadap manuskrip, melainkan upaya memperpanjang umur ingatan.
Barangkali beginilah zaman bekerja. Dahulu seseorang menulis ayat di atas kertas dengan tinta yang dibuat dari alam. Kini, orang lain memotretnya dengan kamera beresolusi tinggi, menyimpannya dalam data digital, lalu menghadirkannya kembali melalui layar telepon seluler. Yang berubah hanyalah medianya, sedangkan keinginan untuk menjaga tetap sama.
Di sela-sela kunjungan itu, kami para penyair lebih banyak diam daripada berbicara. Mungkin karena puisi memang lahir dari kemampuan mendengar keheningan.
Asmariah berdiri cukup lama di depan salah satu mushaf, Sahaya Santayana sesekali mengamati motif hias yang rumit. Dan Khoirul Anwar memperhatikan detail kaligrafi dengan saksama.
Saya sendiri membiarkan pandangan berpindah dari satu manuskrip ke manuskrip lain sambil membayangkan perjalanan panjang yang telah mereka tempuh. Berapa banyak banjir, perang, perpindahan keluarga, perubahan kekuasaan, bahkan mungkin kebakaran yang berhasil dilewati sebelum akhirnya tiba di museum ini.
Manuskrip-manuskrip itu layaknya para penyintas. Mereka telah melewati zaman yang bahkan tidak sanggup kita bayangkan. Mereka diam, tetapi diam mereka bukanlah kekosongan. Pun mereka menyimpan suara para penyalin, pembaca, guru mengaji, ulama kampung, dan keluarga-keluarga yang selama ratusan tahun menjaganya dengan penuh hormat.
Barangkali yang paling mengharukan dari sebuah manuskrip bukanlah isi teksnya. Isi itu bisa kita baca dalam cetakan modern. Yang mengharukan adalah kenyataan bahwa ada manusia yang menganggap teks itu begitu penting, sehingga rela menghabiskan hidupnya untuk menyalinnya dengan tangan.
Di zaman yang serba cepat, kesabaran semacam itu terasa nyaris mustahil. Hari ini kita membaca sambil tergesa, menulis sambil melihat notifikasi, dan mengingat sambil bersiap melupakan. Segala sesuatu bergerak dengan kecepatan yang kadang membuat kita kehilangan kesempatan untuk sungguh-sungguh tinggal bersama sebuah kalimat.
Manuskrip-manuskrip itu mengajarkan sebaliknya. Bahwa pengetahuan memerlukan ketekunan, keindahan memerlukan waktu, dan iman pun memerlukan kesabaran.
Ketika meninggalkan museum, matahari Medan mulai condong ke barat. Jalan-jalan kembali dipenuhi kendaraan dan kehidupan modern bergerak sebagaimana biasanya. Namun, saya merasa baru saja keluar dari ruang yang mengajarkan sesuatu yang sederhana: masa lalu tidak pernah meminta kita untuk tinggal di dalamnya. Ia hanya meminta agar kita tidak memutuskan hubungan dengannya.
Mungkin itulah makna sebuah museum.
Ia bukan gudang kenangan, melainkan jembatan yang menghubungkan orang-orang yang sudah lama tiada dengan mereka yang bahkan belum lahir. Ia mempertemukan tangan penyalin abad ketujuh belas dengan mata seorang pengunjung abad kedua puluh satu. Di antara keduanya terbentang ratusan tahun, tetapi sebuah ayat, sebuah huruf, dan sebuah ikhtiar menjaga warisan membuat jarak itu seakan lenyap.
Kami pun meninggalkan Museum Sejarah Al-Qur’an Sumatra Utara dengan langkah yang sama seperti ketika datang. Tetapi saya tahu, tidak ada seorang pun yang benar-benar pulang sebagai orang yang sama setelah bertemu langsung sejarah. Sebab, sejarah yang disentuh dengan kesungguhan selalu meninggalkan bekas. Ia mengubah cara kita memandang waktu, memandang warisan, dan akhirnya memandang diri sendiri.
Dan mungkin, sebagaimana puisi yang baik, museum tidak pernah memberi jawaban. Ia hanya mengajarkan kita untuk terus bertanya: apa yang pantas kita wariskan kepada mereka yang akan datang, agar kelak mereka juga dapat berkata, kami pernah ada.
Baca juga: