Nabi Menolak Salat Seseorang: Mengapa Thuma’ninah Lebih Penting dari Kecepatan?

Oleh:

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Coba jujur, pernahkah kita merasa salat seperti check-list yang harus segera dicentang? Begitu takbir, pikiran sudah melayang ke daftar belanjaan atau pekerjaan kantor yang menanti. Gerakan rukuk, sujud, dan duduk dikerjakan cepat, tanpa thuma’ninah, seolah sedang balapan dengan waktu. Kita merasa sah karena rukunnya terpenuhi.

Tapi, tahukah Anda bahwa salat yang tergesa-gesa—meski memenuhi syarat sah secara fikih—pernah ditolak langsung oleh Rasulullah SAW? Ulama besar Buya HAMKA menyebut tipe ibadah yang hanya formalitas ini sebagai “salat mesin“. Artinya, raga bergerak, lisan berucap, namun hati dan kesadaran tertinggal.

Artikel ini akan mengajak kita menyelami mengapa Nabi meminta seseorang mengulang salatnya hingga tiga kali dan bagaimana kita bisa mengubah rutinitas menjadi dialog spiritual yang bermakna.

Salat Formal vs. Salat Dialogis

Pembahasan ini bertema salat fungsional dalam dimensi dialogis antara musajjid (yang bersujud) dan musajjad (Yang disujudi). Ini adalah level salat di atas fikih yang hanya berhenti pada taraf formal dan rutin, seperti yang disinggung Buya HAMKA sebagai salat tanpa sadar.

Pada level fikih, satu unit salat dapat dipecah-pecah, mana unsur rukun, wajib, sunah, dan mubah-nya. Karena suatu hal, yang diketahui sunah ditinggalkan. Tipe salat semacam ini sering kali merasa tidak akan berakibat konsekuensi negatif.

Akibatnya, meninggalkan yang dinilai sunah menjadi kebiasaan. Tampilan luarnya, salat menjadi sangat cepat jika dilihat dari dimensi waktu. Lebih jauh, ketika level salat formal dipadukan dengan salat yang fokus memburu pahala, pola salatnya tetap cepat, tetapi tujuannya adalah memperoleh banyak rakaat.

Perintah untuk Mengulang

Dahulu, pada zaman Nabi SAW, ada orang yang salat cepat. Beliau tidak menghitungnya sebagai salat yang sah. Maka beliau meminta orang itu untuk mengulanginya. Salat itu dilaksanakan hingga tiga kali, dan pada bilangan itulah Rasulullah SAW terus memerintahkannya untuk mengulangi.

Perintah pengulangan ini mengacu pada hadis yang sangat terkenal berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِيْ بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أَحْسَنُ غَيْرُهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآَنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Artinya:

Rasulullah SAW masuk ke masjid, lalu ada juga seorang laki-laki masuk Masjid dan langsung salat kemudian memberi salam kepada Nabi SAW. Beliau menjawab dan berkata kepadanya: “Kembalilah dan ulangi salatmu karena kamu belum shalat!” Maka orang itu mengulangi salatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi kemudian datang menghadap kepada Nabi SAW dan memberi salam. Namun Beliau kembali berkata: “Kembalilah dan ulangi salatmu karena kamu belum shalat!” Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata: “Demi Dzat yang mengutus Tuan dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarkanlah aku!” Beliau lantas berkata: “Jika kamu berdiri untuk salat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma’ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma’ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh salat (rakaat) mu.” (HR Bukhari: 715, 5782, 6174, Muslim: 602, Muslim: 278, Turmuzi: 279, Abu Dawud: 730, Nasai: 874, 1296, 1297, Ibnu Majah: 1050, ad-Darimi: 1295, Ahmad: 9260, 18225, 18227, Ibnu Khuzaimah: 545, 590, Ibnu Hibban: 1787, 1890, Syafi’i: 136).

Kunci Kualitas: Thuma’ninah

Inti pesan dari hadis di atas dan sekitar 20 hadis semakna lainnya adalah: melakukan salat jangan tergesa-gesa. Salat harus dilaksanakan dengan thuma’ninah.

Arti praktis thuma’ninah adalah harus tenang, yaitu sempurna dalam setiap gerakan: berdiri, rukuk, sujud, dan duduknya. Ketenangan ini merupakan rukun.

Kandungan thuma’ninah juga merambah dimensi batin. Artinya, harus ada penghayatan mendalam mengenai apa yang sedang dilakukan maupun apa yang sedang diucapkan.

Adab Berdoa dalam Salat

Selain thuma’ninah dalam gerakan, indikator lainnya salat tidak membalap adalah keharusan memuji Allah, berselawat, dan berdoa pada waktunya.

Perhatikan referensi hadis berikut yang menekankan adab berdoa:

قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدْ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ قَالَ ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَب

Artinya:

Ketika Rasulullah SAW duduk, tiba-tiba seseorang masuk dan melakukan salat dan berdoa: “Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku.” Kemudian beliau berkata: “Engkau telah tergesa-gesa wahai orang yang melakukan salat. Apabila engkau melakukan salat dan duduk maka pujilah Allah dengan pujian yang menjadi hak-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdoalah kepada-Nya!” Kemudian terdapat orang lain setelah itu yang melakukan salat lalu memuji Allah, dan berselawat kepada Nabi SAW, kemudian Nabi SAW berkata: “Wahai orang yang melakukan salat, berdoalah maka akan dikabulkan doamu!” (HR. Turmuzi: 3398).

Jelaslah, di dalam attahiyyat (duduk tasyahud akhir), unsur redaksinya memuat tiga hal secara berurutan: attahiyyat, selawat kepada Nabi, dan doa sebelum salam.

Menembus Alam Malakut

Salat yang dilakukan dengan penghayatan mendalam memiliki potensi menembus dimensi spiritual. Ada contoh peristiwa luar biasa dalam salat Nabi SAW.

Ketika seseorang menjadi makmum di belakang beliau, orang itu berdoa dengan redaksi yang tidak biasa dibacakan oleh makmum nabi pada umumnya saat bangun dari rukuk, yaitu:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Selesai salat, Nabi SAW bersabda:

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Artinya: “Aku melihat ada 30-an (30 lebih) malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih dulu mencatat amalannya.” (HR: Bukhari: 757, Muslim: 942, Turmuzi: 369, Abu Dawud: 650, 654). Ada riwayat lain (riwayat Muslim) yang menyebutkan bahwa malaikat-malaikat tersebut mengangkat pahala bacaan itu kepada Allah.

Kualitas salat Nabi SAW bisa tembus menerobos alam malakut (alam gaib). Beliau dapat melihat banyak malaikat berebut untuk menghaturkan bacaan pujian yang kreatif itu kepada Allah, atau berlomba mana yang paling awal mencatat amal saleh ini.

Menggapai Kepastian Yaqīn

Dimensi spiritual ini relevan dengan firman Allah:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian.” (QS al-Hijr: 99).

Memang, umumnya tafsir kata yaqīn dalam ayat ini oleh para mufassirūn dipahami sebagai kematian. Namun, ada tafsir lain yang lebih tepat jika dipahami bahwa melaksanakan salat harus diusahakan bukan hanya sekadar berkubang di alam inderawi.

Salat harus naik ke alam malakut. Syaratnya salat penuh penghayatan di atas pondasi thuma’ninah. Peluang tipe salat ini jauh lebih besar untuk memperoleh salat level fungsional-dialogis, dan bahkan visi ke alam gaib (malakut).

Wallâhu a’lam bi ṣawâb.

Baca juga:

Dimensi Dialogis dalam Salat: Bagian Pertama

Editor:

Agung S Bakti

Bagikan berita ini

Kabar Lainnya

Scroll to Top