Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Khutbah 13 menit baca

Naskah Khutbah Jumat: Istiqamah dan Mengapa Semangat Ibadah Kita Sering Naik Turun?

Redaksi

Naskah Khutbah Jumat: Istiqamah dan Mengapa Semangat Ibadah Kita Sering Naik Turun?
Seorang jemaah membaca Al-Qur'an dengan saksama di dalam ruangan masjid. Rutinitas ibadah harian yang konsisten menjadi kunci utama bagi seorang muslim untuk menjaga keistikamahan dan mengatasi fluktuasi semangat keimanan. (Ilustrasi/AI)

Iman seorang mukmin memiliki sifat dinamis, terkadang bertambah kuat dan di saat lain bisa mengalami penurunan (al-imanu yazid wa yanqush). Fluktuasi ini sering kali berdampak langsung pada semangat ibadah sehari-hari yang kerap naik turun. Menjaga keistikamahan dalam beribadah di tengah berbagai godaan duniawi menjadi tantangan terbesar bagi umat Islam masa kini.

Untuk menjawab kegelisahan tersebut, Ustaz Kasmui menyusun materi naskah khutbah Jumat yang secara mendalam mengupas kunci menjaga keistikamahan. Naskah khutbah Jumat ini ditulis langsung oleh Ustaz Kasmui, tokoh agama yang juga aktif sebagai pengurus Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang.

Kita dapat mengunduh secara gratis naskah khutbah Jumat ini beserta puluhan materi ceramah bermutu lainnya dalam format e-book melalui tautan resmi berikut: https://kasmui.cloud/khutbah/.

Berikut adalah sajian lengkap materi khutbah Jumat tentang keistikamahan:

BAGIAN 1: KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin Rahimakumullah,

Pertama dan yang paling utama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah teladan paling sempurna dalam hal keteguhan hati dan konsistensi ibadah.

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Pernahkah kita merasakan hati ini begitu ringan untuk bangun malam? Pernahkah kita begitu nikmat membaca Al-Qur’an berlembar-lembar, dan begitu semangat melangkahkan kaki ke masjid? Namun, selang beberapa waktu kemudian, semangat itu tiba-tiba luntur. Ibadah terasa berat, shalat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, dan Al-Qur’an mulai berdebu di atas lemari. Fenomena “naik turunnya” iman ini adalah keresahan yang dialami oleh banyak dari kita. Kita sering bertanya: “Mengapa saya sulit sekali untuk Istiqamah?”

Hari ini, mari kita renungkan bersama makna Istiqamah, mengapa kita sering tergelincir, dan bagaimana resep dari Al-Qur’an dan Sunnah untuk menjaganya.

Makna Istiqamah dalam Islam

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Istiqamah bukanlah berarti kita menjadi malaikat yang tidak pernah berbuat salah. Istiqamah adalah komitmen untuk tetap berada di jalan Allah. Kita bangkit kembali saat terjatuh, dan terus berjalan meski tertatih. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan ketenangan jiwa bagi mereka yang berjuang untuk Istiqamah.

Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (QS. Fussilat: 30)

Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa kunci ketenangan hidup—yaitu hilangnya rasa takut akan masa depan dan rasa sedih akan masa lalu—ada pada dua hal. Kunci tersebut adalah ikrar iman (“Tuhan kami Allah”) dan pembuktian iman tersebut (“Kemudian mereka Istiqamah”). Tanpa istiqamah, iman hanyalah klaim belaka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan wasiat yang sangat padat dan ringkas mengenai hal ini. Dalam sebuah Hadits Shahih riwayat Imam Muslim dari sahabat Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ. قَالَ: «قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ»

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain engkau. Beliau menjawab: Katakanlah ‘aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim, No. 38)

Hadits ini mengajarkan bahwa puncak keberagamaan itu sederhana namun berat: Luruskan tauhid, lalu pertahankan konsistensi sampai akhir hayat.

Sifat Hati yang Berbolak-balik

Hadirin yang berbahagia,

Lantas, mengapa semangat kita sering naik turun? Ketahuilah, hati manusia itu sifatnya labil. Dalam bahasa Arab, hati disebut Qalb yang artinya “sesuatu yang berbolak-balik”. Hari ini kita bisa sangat taat, besok bisa jadi kita bermaksiat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita tentang kondisi hati ini dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ مَثَلُ رِيشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ

“Dinamakan hati (qalb) karena ia berbolak-balik. Sesungguhnya perumpamaan hati itu seperti bulu yang tergantung di batang pohon, yang dibolak-balikkan angin ke sana ke mari.” (HR. Ahmad dan Thabrani, dinilai Shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

Oleh karena itu, naik turunnya semangat adalah hal yang manusiawi. Namun, yang membedakan seorang mukmin yang sukses dengan yang gagal adalah responsnya saat sedang “turun”. Orang yang gagal akan membiarkan dirinya hanyut dalam kemalasan (futur) hingga meninggalkan kewajiban. Sedangkan orang yang sukses, ia segera sadar dan memaksakan diri kembali ke jalur ketaatan, meskipun berat.

Allah memberikan perintah Istiqamah ini dengan nada yang sangat tegas dalam Surah Hud ayat 112:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah engkau di jalan yang benar (istiqamah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Ayat ini begitu berat bagi Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah bersabda bahwa Surah Hud telah membuat rambut beliau beruban karena beratnya perintah untuk terus lurus tanpa melampaui batas.

Solusi Menjaga Istiqamah: Amalan Rutin Walau Sedikit

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Bagaimana solusinya agar kita bisa menjaga semangat ibadah agar stabil? Kuncinya bukan pada “banyaknya” amal yang kita lakukan secara meledak-ledak dalam satu waktu. Kuncinya terletak pada “kontinuitas” atau kerutinan, meskipun sedikit.

Kita sering terjebak ingin langsung berubah total dalam semalam, lalu kehabisan bensin di tengah jalan. Islam mengajarkan prinsip Tadarruj (bertahap) dan Mudawamah (langgeng).

Perhatikan hadits indah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu (berkelanjutan) walaupun itu sedikit.” (HR. Bukhari No. 6464 dan Muslim No. 783)

Inilah resep obat dari Nabi. Jika kita merasa berat membaca satu juz Al-Qur’an sehari, bacalah satu lembar, tapi lakukan setiap hari tanpa putus. Jika berat shalat Tahajud 11 rakaat, lakukanlah 2 rakaat saja, tapi jangan pernah tinggalkan setiap malam. Sedikit demi sedikit, amal yang rutin itu akan membentuk karakter, membersihkan hati, dan pada akhirnya, Allah akan memberikan kekuatan untuk menambah porsinya.

Ingatlah, Istiqamah adalah lari maraton, bukan lari sprint. Yang dibutuhkan adalah napas panjang dan kesabaran, bukan kecepatan sesaat yang berakhir dengan kelelahan.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

BAGIAN 2: KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلْقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin Rahimakumullah,

Sebagai kesimpulan dari khutbah ini, mari kita tanamkan dalam hati: Semangat yang naik turun adalah ujian, namun menyerah pada kemalasan adalah kegagalan. Obat dari penyakit ketidakstabilan iman adalah dengan “memaksa” diri melakukan amal-amal kecil namun rutin. Allah tidak menuntut kita langsung sempurna, Allah menuntut kita untuk terus berusaha dan tidak berbalik arah. Tetaplah berjalan menuju Allah, meskipun kita harus merangkak.

Marilah kita tundukkan kepala dan hati kita, memohon kepada Dzat yang membolak-balikkan hati. Semoga Allah mengikat hati kita dalam ketaatan hingga ajal menjemput.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Ya Allah, Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan-Mu.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8)

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: